Mempersiapkan KUPI, Menjalin Silaturahim: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 9: Baris 9:
KH. Syakur Yasin, Pengasuh Pondok Pesantren Cadangpinggan Indramayu juga mengapresiasi gerakan perempuan Indonesia yangg melaksanakan Kongres di Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon. Menurut beliau memang sudah saatnya perempuan mengorganisasikan diri, dan menyuarakan aspirasinya ke publik melalui jalur-jalur kultural maupun struktural. Meskipun secara pribadi beliau tidak terlalu setuju dengan afirmasi kuota 30% untuk perempuan dalam partai politik. Menurutnya hal ini justru membatasi kuantitas perempuan ketika ingin berkiprah di publik. Meskipun disadari bahwa budaya kita masih sangat patriarkhal. Dimana peminggiran peran perempuan dalam ruang publik masih sangat kuat. Sementara secara kultural perempuan saat ini sudah mulai masuk ke ruang-ruang yang ada, seperti menjadi pengurus MUI, ormas atau lainnya. Ini harus terus didorong dan dikuatkan.
KH. Syakur Yasin, Pengasuh Pondok Pesantren Cadangpinggan Indramayu juga mengapresiasi gerakan perempuan Indonesia yangg melaksanakan Kongres di Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon. Menurut beliau memang sudah saatnya perempuan mengorganisasikan diri, dan menyuarakan aspirasinya ke publik melalui jalur-jalur kultural maupun struktural. Meskipun secara pribadi beliau tidak terlalu setuju dengan afirmasi kuota 30% untuk perempuan dalam partai politik. Menurutnya hal ini justru membatasi kuantitas perempuan ketika ingin berkiprah di publik. Meskipun disadari bahwa budaya kita masih sangat patriarkhal. Dimana peminggiran peran perempuan dalam ruang publik masih sangat kuat. Sementara secara kultural perempuan saat ini sudah mulai masuk ke ruang-ruang yang ada, seperti menjadi pengurus MUI, ormas atau lainnya. Ini harus terus didorong dan dikuatkan.


Akibat dari budaya patriarkhi yang berabad tersebut, tergambar dari ungkapan salah satu ibu nyai ketika kami ''sowan'' ke pesantren beliau. Yang kami tuju adalah suaminya yang selain sebagai pengasuh pesantren juga sebagai salah satu petinggi pengurus ormas keagamaan di Jawa Barat. Di bawah guyuran hujan yang sangat lebat ditambah aliran listrik yang padam, dan beberapa bagian jalan juga terendam banjir, kami datang menyampaikan rencana kegiatan KUPI yang dilaksanakan di Pesantren Kebon Jambu. Jawaban tak terduga disampaikan oleh ibu nyai yang spontan menyampaikan, “Emang ada ya [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]]? Apa memang sudah zaman akhir, sehingga ada ulama perempuan.” Sungguh kami tak menyangka mendapat tanggapan seperti itu. Pada awalnya secara pribadi saya berpikir, bahwa apa yang kami lakukan, akan mendapat apresiasi dari para nyai pesantren sebagai usaha membangkitkan dan mensejajarkan posisi ulama perempuan dengan ulama laki-laki. Namun kami sadar bahwa selama ini, dalam pikiran kita sudah terpatri pemahaman bahwa yang namanya ulama selalu didominasi oleh laki-laki. Bisa dilihat dalam kepengurusan MUI, dimana posisi ketua selalu dipegang oleh ulama laki-laki. Maka sangat wajar kalau ibu nyai juga masih berpikir demikian.
Akibat dari budaya patriarkhi yang berabad tersebut, tergambar dari ungkapan salah satu ibu nyai ketika kami ''sowan'' ke pesantren beliau. Yang kami tuju adalah suaminya yang selain sebagai pengasuh pesantren juga sebagai salah satu petinggi pengurus ormas keagamaan di Jawa Barat. Di bawah guyuran hujan yang sangat lebat ditambah aliran listrik yang padam, dan beberapa bagian jalan juga terendam banjir, kami datang menyampaikan rencana kegiatan KUPI yang dilaksanakan di Pesantren Kebon Jambu. Jawaban tak terduga disampaikan oleh ibu nyai yang spontan menyampaikan, “Emang ada ya [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]]? Apa memang sudah zaman akhir, sehingga ada [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]].” Sungguh kami tak menyangka mendapat tanggapan seperti itu. Pada awalnya secara pribadi saya berpikir, bahwa apa yang kami lakukan, akan mendapat apresiasi dari para nyai pesantren sebagai usaha membangkitkan dan mensejajarkan posisi ulama perempuan dengan ulama laki-laki. Namun kami sadar bahwa selama ini, dalam pikiran kita sudah terpatri pemahaman bahwa yang namanya ulama selalu didominasi oleh laki-laki. Bisa dilihat dalam kepengurusan MUI, dimana posisi ketua selalu dipegang oleh ulama laki-laki. Maka sangat wajar kalau ibu nyai juga masih berpikir demikian.


Di Pesantren Gedongan, Ender, Pangenan Cirebon, kami mendapat apresiasi dan dukungan juga masukan dari Ibu Nyai Raudlah terkait beberapa kegiatan sosial yang menjadi rangkaian kegiatan KUPI, khususnya pemeriksaan kanker servick. Bahwa kegiatan ini sangat bagus, namun para perempuan kita masih malu memeriksakan kesehatan organ intimnya, karena dianggap tabu. Maka harus ada sosialisasi yang massif juga kalau bisa jemput bola, bekerjasama dengan kepala desa agar menyediakan mobil untuk mengantarkan perempuan-perempuan dari desa yang akan memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan tersebut.   
Di Pesantren Gedongan, Ender, Pangenan Cirebon, kami mendapat apresiasi dan dukungan juga masukan dari Ibu Nyai Raudlah terkait beberapa kegiatan sosial yang menjadi rangkaian kegiatan KUPI, khususnya pemeriksaan kanker servick. Bahwa kegiatan ini sangat bagus, namun para perempuan kita masih malu memeriksakan kesehatan organ intimnya, karena dianggap tabu. Maka harus ada sosialisasi yang massif juga kalau bisa jemput bola, bekerjasama dengan kepala desa agar menyediakan mobil untuk mengantarkan perempuan-perempuan dari desa yang akan memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan tersebut.   
Baris 27: Baris 27:
''(Sekretaris Yayasan [[Fahmina]]/Sekretaris II KUPI)''
''(Sekretaris Yayasan [[Fahmina]]/Sekretaris II KUPI)''


[[Kategori:Refleksi Kongres]]
[[Kategori:Refleksi]]
[[Kategori:Refleksi Kongres1]]
[[Kategori:Refleksi Kongres 1]]

Menu navigasi