15.259
suntingan
| Baris 19: | Baris 19: | ||
KUPI merefleksikan Islam yang sangat humanis, di mana kuasa pengetahuan Islam tidak hanya dimiliki oleh laki-laki, tetapi juga perempuan. Pemilihan tempat pendirian KUPI, yakni Pesantren Kebon Jambu di Cirebon menyampaikan pesan jelas tentang posisi perempuan di ruang publik Indonesia. | KUPI merefleksikan Islam yang sangat humanis, di mana kuasa pengetahuan Islam tidak hanya dimiliki oleh laki-laki, tetapi juga perempuan. Pemilihan tempat pendirian KUPI, yakni Pesantren Kebon Jambu di Cirebon menyampaikan pesan jelas tentang posisi perempuan di ruang publik Indonesia. | ||
Berbeda dengan pola kepemimpinan budaya pesantren pada umumnya di Indonesia yang biasanya dipimpin oleh pemimpin muslim laki-laki yang dikenal dengan sebutan ‘kiai’, pesantren Kebon Jambu Cirebon ini dipimpin oleh seorang pemimpin perempuan, Nyai Hj. Masriah Amva. Kepemimpinannya menjadi penegasan simbolis sebagai ulama perempuan yang tidak hanya memiliki reputasi dan kredibilitas. Tetapi juga penerimaan konsep kesetaraan gender dalam budaya pesantren. | Berbeda dengan pola kepemimpinan budaya pesantren pada umumnya di Indonesia yang biasanya dipimpin oleh pemimpin muslim laki-laki yang dikenal dengan sebutan ‘kiai’, pesantren Kebon Jambu Cirebon ini dipimpin oleh seorang pemimpin perempuan, Nyai Hj. Masriah Amva. Kepemimpinannya menjadi penegasan simbolis sebagai [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] yang tidak hanya memiliki reputasi dan kredibilitas. Tetapi juga penerimaan konsep kesetaraan gender dalam budaya pesantren. | ||
Sejumlah studi Islam menyebutkan bahwa isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan gender adalah masalah “pelik” yang [[komunitas]] Muslim hadapi. Di Indonesia sendiri, masalah gender, seksualitas, dan persoalan tubuh perempuan telah menjadi pertempuran arus utama di yang memunculkan persaingan wacana konservatif dan liberal dalam moralitas keagamaan. | Sejumlah studi Islam menyebutkan bahwa isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan gender adalah masalah “pelik” yang [[komunitas]] Muslim hadapi. Di Indonesia sendiri, masalah gender, seksualitas, dan persoalan tubuh perempuan telah menjadi pertempuran arus utama di yang memunculkan persaingan wacana konservatif dan liberal dalam moralitas keagamaan. | ||
| Baris 26: | Baris 26: | ||
Faktanya, persoalan gender di Negeri ini telah menunjukkan bahwa pentingnya itu kita bicarakan dalam pembahasan kenegaraan, agama, dan masyarakat. Jika kita telisik dari sejarah bahwa signifikasi peran perempuan muslim di Nusantara cukup besar, namun sering terabaikan, bahkan tepinggirkan. | Faktanya, persoalan gender di Negeri ini telah menunjukkan bahwa pentingnya itu kita bicarakan dalam pembahasan kenegaraan, agama, dan masyarakat. Jika kita telisik dari sejarah bahwa signifikasi peran perempuan muslim di Nusantara cukup besar, namun sering terabaikan, bahkan tepinggirkan. | ||
Begitu pula yang terjadi dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Cerita bahkan penelitian tentang kiprah ulama perempuan di Indonesia sangat minim. Jika ada pun hanya terkait dengan peranan perempuan secara umum dalam organisasi seperti Aisyiah dan Muslimat saja. | Begitu pula yang terjadi dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Cerita bahkan penelitian tentang [[Kiprah Ulama Perempuan|kiprah ulama perempuan]] di Indonesia sangat minim. Jika ada pun hanya terkait dengan peranan perempuan secara umum dalam organisasi seperti Aisyiah dan Muslimat saja. | ||
Tidak heran, karena kuasa pengetahuan (termasuk sejarah dan agama) dipegang oleh laki-laki. Hal ini mengakibatkan adanya bias termasuk dlm menginterpretasikan teks-teks keagamaan. Ini adalah merupakan beban moril yang harus kita emban bersama. Karena Islam harusnya menjadi Rahmatan lil alamin bagi kita semua. Sehingga terciptalah kehidupan yang damai, berkeadilan dan berkesetaraan (kemaslahatan). | Tidak heran, karena kuasa pengetahuan (termasuk sejarah dan agama) dipegang oleh laki-laki. Hal ini mengakibatkan adanya bias termasuk dlm menginterpretasikan teks-teks keagamaan. Ini adalah merupakan beban moril yang harus kita emban bersama. Karena Islam harusnya menjadi Rahmatan lil alamin bagi kita semua. Sehingga terciptalah kehidupan yang damai, berkeadilan dan berkesetaraan (kemaslahatan). | ||
| Baris 36: | Baris 36: | ||
''Sumber: https://mubadalah.id/halaqah-kupi-ii-di-medan-pertemukan-para-ulama-perempuan-region-sumatra/'' | ''Sumber: https://mubadalah.id/halaqah-kupi-ii-di-medan-pertemukan-para-ulama-perempuan-region-sumatra/'' | ||
[[Kategori:Refleksi | |||
[[Kategori:Refleksi]] | |||
[[Kategori:Refleksi Kongres 2]] | |||