15.259
suntingan
| Baris 11: | Baris 11: | ||
Tiga organisasi inilah, yakni Rahima, Fahmina dan Alimat penyelenggara Kongres Ulama Perempuan ini, minus Fatayat NU. Organisasi yang disebut terakhir ini hanya diwakili oleh alumninya, yakni saya dan Mbak Maria Ulfah Anshor serta beberapa yang lain. | Tiga organisasi inilah, yakni Rahima, Fahmina dan Alimat penyelenggara Kongres Ulama Perempuan ini, minus Fatayat NU. Organisasi yang disebut terakhir ini hanya diwakili oleh alumninya, yakni saya dan Mbak Maria Ulfah Anshor serta beberapa yang lain. | ||
Ada kritik terhadap penyelenggaraan KUPI yang harus didengar. Kritiknya adalah bahwa para aktor yang terlibat di KUPI masih orang-orang lama dan tidak menampilkan generasi yang baru. Kritik itu barangkali ada benarnya, karena bagi saya sendiri, keterikatan pada Kongres ini cukup kuat. Bukan pada kongresnya itu sendiri sebagai suatu sejarah baru dalam gerakan perempuan Indonesia, khususnya gerakan perempuan Muslim, tetapi peristiwa ini merupakan rangkaian kerja-kerja panjang sebagaimana yang saya tuliskan di atas. Tak heran, saat penutupan acara kongres, saat hasil musyawarah keagamaan disampaikan, saat deklarasi ulama perempuan dibacakan oleh sejumlah ulama perempuan dari pelbagai daerah dengan artikulasi menggelegar sebagaimana gaya para daiyah, kami: saya, [[Ninik Rahayu]] dan Nani Zulmirnani berpelukan dan menangis sejadi-jadinya, suatu tangisan yang sangat membahagiakan, tangisan antara percaya dan tidak atas peristiwa ini. Tangisan itu meledak lagi saat bertemu dengan Mbak [[Kamala Chandrakirana]] (Nana), teringat di akhir tahun 80 dan awal 90-an saat masih di P3M dan Komnas Perempuan, dengan Mbak Nana-lah kerja-kerja ini dilakukan. | Ada kritik terhadap penyelenggaraan KUPI yang harus didengar. Kritiknya adalah bahwa para aktor yang terlibat di KUPI masih orang-orang lama dan tidak menampilkan generasi yang baru. Kritik itu barangkali ada benarnya, karena bagi saya sendiri, keterikatan pada Kongres ini cukup kuat. Bukan pada kongresnya itu sendiri sebagai suatu sejarah baru dalam gerakan perempuan Indonesia, khususnya gerakan perempuan Muslim, tetapi peristiwa ini merupakan rangkaian kerja-kerja panjang sebagaimana yang saya tuliskan di atas. Tak heran, saat penutupan acara kongres, saat hasil [[musyawarah]] keagamaan disampaikan, saat deklarasi ulama perempuan dibacakan oleh sejumlah ulama perempuan dari pelbagai daerah dengan artikulasi menggelegar sebagaimana gaya para daiyah, kami: saya, [[Ninik Rahayu]] dan Nani Zulmirnani berpelukan dan menangis sejadi-jadinya, suatu tangisan yang sangat membahagiakan, tangisan antara percaya dan tidak atas peristiwa ini. Tangisan itu meledak lagi saat bertemu dengan Mbak [[Kamala Chandrakirana]] (Nana), teringat di akhir tahun 80 dan awal 90-an saat masih di P3M dan Komnas Perempuan, dengan Mbak Nana-lah kerja-kerja ini dilakukan. | ||
Semoga tangisan kongres kemarin adalah tangisan awal dan akhir. Ibarat baru menikahkan anak, ini merupakan pernikahan anak pertama yang menakjubkan. Kongres ke depan, para aktornya mesti generasi baru setelah generasi kami. Mungkin generasi kami kelak akan berfungsi sebagai pendamping saja yang mudah-mudahan selalu muda dalam pemikiran dan semangat hidup, hanya beranjak dalam usia. | Semoga tangisan kongres kemarin adalah tangisan awal dan akhir. Ibarat baru menikahkan anak, ini merupakan pernikahan anak pertama yang menakjubkan. Kongres ke depan, para aktornya mesti generasi baru setelah generasi kami. Mungkin generasi kami kelak akan berfungsi sebagai pendamping saja yang mudah-mudahan selalu muda dalam pemikiran dan semangat hidup, hanya beranjak dalam usia. | ||
| Baris 19: | Baris 19: | ||
'''Penulis: [[Neng Dara Affiah]]''' ''(Komisioner Komnas Perempuan 2006-2010/Div. Seminar dan Workshop KUPI)'' | '''Penulis: [[Neng Dara Affiah]]''' ''(Komisioner Komnas Perempuan 2006-2010/Div. Seminar dan Workshop KUPI)'' | ||
[[Kategori:Refleksi]] | |||
[[Kategori:Refleksi Kongres]] | |||
[[Kategori:Refleksi Kongres1]] | |||