Halaqah Pra Konferensi Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Di Sumenep
Info Artikel
| Sumber Original | : | RRI Sumenep |
| TanggalTerbit | : | 05 Sep 2022 18:10 |
| Penulis | : | Rukayah | Editor: Ibnu Hajar |
| Artikel Lengkap | : | Halaqah Pra Konferensi Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Di Sumenep |
Oleh: Rukayah | Editor: Ibnu Hajar | 05 Sep 2022 18:10
Sejumlah Organisasi Perempuan Islam di Indonesia akan melaksanakan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Kedua pada Bulan November 2022 mendatang, yang sebelumnya dilaksanakan Halaqah Pra Konferensi Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Di Kabupaten Sumenep.
Ketua KUPI Masruhah mengatakan, Halaqah pertama KUPI pada 2017 lalu di Cirebon mengangkat berbagai isu kerusakan alam, perempuan dan anak, sedangkan untuk Halaqah KUPI ke dua akan mengangkat isu penting yang menjadi persoalan social kemanusian. “Karena KUPI yang membedakan dengan lainnya adalah menggunakan pendekatan hak korban, sehingga korban perempuan menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan.” ujar Masruhah, Senin (05/09/2022) Salah satu dari Pra KUPI hari ini yang mengambil kekerasan seksual juga menjadi pertimbangan untuk dibawa dalam Kogres sebab tindak kekerasan pada anak dan perempuan menjadi kondisi darurat yang perlu segera disikapi bersama, bahkan dalam KUPI yang akan dilaksanakan November mendatang juga akan membahas isu social kemanusiaan seperti perkawinan paksa. “Untuk KUPI kedua yang akan dihadiri seluruh ulama Perempuan di Indonesia dan juga ada 20 negara luar yang akan ikut dalam kogres dan tahun ini kami mengambil tema meneguhkan peran ulama perempuan dalam peradaban yang berkeadilan.” ungkap Masruhah. Sementara itu salah seorang aktivis perempuan yang juga Direktur Rahima, Pera Sopariyanti mengatakan, pencegahan kekerasan pada perempuan dan anak membutuhkan sinergitas dengan Pemerintah agar terwujud Kabupaten yang ramah anak dan Perempuan. “Kami hanya mendampingi ulama perempuan agar bisa dilihat, dipertimbangkan oleh pemerintah sehingga peran ulama perempuan tidak hanya diranah cultural pendidikan tapi juga didengarkan suaranya, dilibatkan dan diajak dalam upaya mewujudkan kabupaten yang lebih baik. ” jelas Pera. Kepala Bappeda Sumenep Yayak Nurwahyudi menyambut baik gerakan organisasi Perempuan untuk penanganan kasus kekerasan perempuan dan anak, apalagi sampai menyentuh dari hulu hingga hilirnya. “Pola pendekatan Pemkab Sumenep terhadap Permasalahan Sosial melakukan pendekatan pondok pesantren.” Halaqah Pra Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) ke dua di Sumenep mengambil Tema Sinergitas Pemerintah dan Ulama Perempuan Dalam Pencegahan Kekerasan seksual, dihadiri langsung Wakil Bupati Sumenep Dewi Khalifah, perwakilan Pemerintah daerah di 3 Kabupaten di Madura serta puluhan perwakilan organisasi Perempuan diantaranya Fatayat, dan Aisyiah.