Isu KDRT Dalam Trend Akademik Dan Gerakan

Oleh: Mimin Mu’minah



Abstrak

Penelitian ini menelusuri dan menganalisis ketersediaan bahan-bahan terkait isu KDRT di perpustakaan-perpustakaan kampus dan non-kampus di Yogayakarta, sebagai daerah pendidikan dan gerakan.  Ada enam perpustakaan yang diteliti; tiga mewakili perguruan tinggi yaitu Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Kristen Duta Wacana; dua perpustakaan komunitas yaitu LKiS dan Rifka An-Nisa, dan satu perpustakaan umum yaitu Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan metode observasi, dimana sumber data utamanya adalah buku-buku perpustakaan yang berkaitan dengan isu-isu KDRT. Sementara tehnik analisis data dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu reduksi data, penyajian data dan conculion, yaitu penarikan kesimpulan terhadap data-data yang disajikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, yang pertama, ketersediaan koleksi isu-isu KDRT secara keseluruhan di perpustakaan-perpustakaan Yogyakarta sudah tersedia, tapi masih kurang memadai dengan intensitas wacana dan gerakan yang ada di lapangan. Kedua, bahwa isu-isu KDRT ini masih merupakan isu eksklusif yang dibahas kalangan tertentu saja. Berdasarkan data penerbit misalnya, isu ini masih berputar di kalangan LSM, walaupun beberapa kalangan akademik dan pemerintah juga ikut ambil bagian. Ketiga, secara umum, isu ini juga lebih banyak dikembangkan penulis perempuan dan diterbitkan sudah marak mulai sekitar tahun 2002 sebelum 2004, tahun dimana Negara telah mengeluarkan UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT). Sehingga dapat diasumsikan buku-buku isu KDRT telah ikut menyediakan informasi untuk meloloskan UU tersebut.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan salah satu bentuk kekerasan berbasis gender, yakni kekerasan yang terjadi karena adanya asumsi gender dalam relasi laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan masyarakat.[1] KDRT merupakan fenomena sosial yang sering terjadi pada semua lapisan masyarakat, mulai dari kelas ekonomi rendah hingga kelas ekonomi tinggi. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa dampak negatif KDRT sangat besar sekali bahkan rentetan kekerasan tersebut akan menular keluar lingkup rumah tangga yang selanjutnya mewarnai kehidupan masyarakat.[2] Oleh karena itu, Kasus-kasus KDRT mestinya menjadi perhatian kita bersama dan ditangani secara komprehensif karena merupakan salah satu bentuk pelecehan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan menjadi penyebab kekacauan dalam masyarakat.[3]

Terkait dengan persoalan di atas, faktor kurangnya pengetahuan yang dimiliki masyarakat merupakan salah satu aspek merebaknya kasus-kasus KDRT. Dalam analisi gender, masalah KDRT tidak berdiri sendiri dan sangat terkait dengan aspek-aspek lain, maka upaya penanggulangan juga harus dilakukan secara terkoordinasi, berkelanjutan, dan melibatkan berbagai pihak. Salah satunya, yakni dengan cara menyediakan literatur tentang isu-isu KDRT. Karena itu, perpustakaan sebagai pusat penyedia literatur bagi masyarakat, seharusnya menjadi lembaga yang utama dalam penyediaan jasa informasi isu-isu terkait KDRT ini.[4] Karena tujuan perpustakaan, secara umum, adalah penyediaan informasi segala jenis pengetahuan yang diperlukan masyarakat.[5] Dari sini, penulis tertarik untuk meneliti seberapa jauh ketersediaan koleksi mengenai isu-isu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di perpustakaan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, daerah yang dikenal sebagai pusat aktivitas pendidikan dan lumbung penyemaian gerakan-gerakan sosial kemasyarakatan.

Rumusan Masalah

Salah satu fungsi utama perpustakaan adalah menyimpan koleksi terkait dengan isu-isu terkini yang berkembang di masyarakat, kemudian berfungsi untuk mendesiminasikan isu-isu tersebut melalui jasa pelayanan pada para pengguna perpustakaan (user).[6] Sebagaimana wiji Suwarno mengatakan tugas dan fungsi perpustakaan adalah transformasi atau transfer ilmu pengetahuan dari perpustakaan kepada pengguna perpustakaan, yang akan menghasilkan perubahan, baik dalam sikap, kemampuan, maupun ketrampilan.[7]

Pembatasan Masalah

Menurut bentuknya bahan pustaka atau koleksi yang dimiliki sebuah perpustakaan adalah dalam bentuk buku, film, gambar, poster, rekaman, dan lain-lain, dan yang paling popular adalah dalam bentuk buku seperti buku teks atau monografi, buku fiksi, majalah, jurnal, surat kabar, brosur atau pamphlet, buku referensi, skripsi, tesis.[8] Dengan banyaknya koleksi buku yang dimiliki perpustakaan maka pada penelitian ini akan difokuskan pada buku teks saja. Penelitian ini akan dilaksanakan di tiga perpustakaan perguruan tinggi, yaitu Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SUKA), Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM), dan Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta (UKDW), dua perpustakaan khusus atau komunitas (Rifka Nisa, LKiS), dan perpustakaan umum daerah Yogyakarta (BPAD).

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini mempunyai beberapa tujuan. Yaitu, pada tataran praktis penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketersediaan koleksi mengenai isu-isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang ada di perpustakaan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tataran akademik, penelitian ini diharapkan bisa memotivasi sivitas akademik dan gerakan dalam menyediakan literature wacana isu-isu KDRT. Sementara tujuan umumnya, hasil penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat yang ingin berburu koleksi atau literatur isu-isu KDRT di perpustakaan-perpustakaan DIY.

Kajian Pustaka

Penelitian mengenai ketersediaan koleksi sudah pernah dilakukan, seperti penelitian Denny Andriza (2007),[9] Sri Rohyati Zulaikha (2006),[10] dan skripsi Siti Munawwaroh (2009).[11] Penelitian-penelitian ini, sekalipun mengenai ketersediaan koleksi, tetapi tidak mengenai isu-isu KDRT dan obyek kajian juga berbeda. Karena itu, masih banyak kemungkinan penelitian koleksi perpustakaan terutama mengenai isu KDRT di wilayah Yogyakarta.

Kerangka Teori

Kekerasan dalam rumah tangga terjadi di masyarakat di antaranya karena ketidakpahaman mereka terhadap konsepsi sosial gender.[12] Karena itu, pengetahuan tentang wacana gender dan isu-isu KDRT sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Mediator yang signifikan untuk memperoleh pengetahuan tersebut adalah perpustakaan. Sebagai provider information, fungsi utama sebuah perpustakaan adalah penyimpanan dan penyediaan koleksi sumber-sumber informasi yang dibutuhkan masyarakat. Di samping fungsi-fungsi lain terkait seperti pendidikan, penelitian dan rekreasi.[13] Ketersediaan koleksi dapat diartikan sebagai koleksi yang ada atau disediakan di perpustakaan, sedangkan koleksi merupakan bahan pustaka berupa buku dan non buku yang di himpun dalam perpustakaan.[14] Koleksi yang dimaksud tentu saja mencakup berbagai format bahan pustaka sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan alternatif para pemakai perpustakaan terhadap media rekam informasi. Sebuah paradigma baru menyimpulkan bahwa salah satu kriteria penilaian layanan perpustakaan yang bagus adalah di lihat dari kualitas koleksinya.[15] Menurut Prytherch koleksi merupakan kumpulan buku atau bahan literature lain yang terdiri dari satu subjek atau lebih dari satu jenis, biasanya dikoleksi oleh seseorang atau organisasi.[16]

Pengembangan koleksi juga merupakan salah satu faktor yang amat penting untuk meningkatkan kualitas perpustakaan dan merupakan aspek yang paling mahal dalam pengoprerasian perpustakaan.[17] Evans memberikan batasan istilah “collection development” sebagai suatu proses untuk mengetahui peta kekuatan dan kekurangan atau kelemahan koleksi perpustakaan, sehingga dengan demikian akan tercipta sebuah planning untuk memperbaiki peta kelemahan tadi dan mempertahankan kekuatan koleksi.[18] Pengembangan koleksi mancakup semua kegiatan untuk memperluas koleksi yang ada di perpustakaan, terutama aspek seleksi dan evaluasi. Seleksi merupakan kegiatan untuk mengidentifikasi rekaman yang akan ditambahkan pada koleksi yang sudah ada pada perpustakaan.[19]

Metodologi Penelitian

Metodelogi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Secara deskripsi, peneliti dapat memberikan ciri-ciri, sifat-sifat serta gambaran data melalui pemilahan data setelah data itu terkumpul.[20] Dengan metode deskriptif ini peneliti akan berusaha menemukan dan kemudian  memaparkan mengenai ketersediaan koleksi isu-isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Disebut sebagai metode penelitian kualitatif karena analisis data yang terkumpul lebih bersifat induktif/kualitatif berdasarkan pada fakta-fakta yang di temukan dilapangan, sehingga mendapatkan data yang mendalam dan menghasilkan penelitian yang bermakna.[21]

Sumber data utama penelitian ini adalah buku-buku perpustakaan yang berkaitan dengan isu-isu KDRT. Sementara tehnik pengumpulan data penelitian ini akan dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama obesrvasi, yaitu terjun langsung ke lapangan melihat ketersediaan koleksi yang ada diperpustakaan-perpustakaan di wilayah Yogayakarta yang telah di tunjuk sebagai tempat penelitian. Selanjutnya  yang kedua adalah dokumentasi tertulis, yaitu tahap pengumpulan data atau informasi yang berkaitan dengan obyek penelitian, yaitu data koleksi buku tentang isu-isu KDRT  ada diperpustakaan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kemudian, dalam tehnik analisis data, peneliti menggunakan teknik analisis data model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verivikasi sepeti yang disarankan oleh Miles Huberman.[22]

PEMBAHASAN

Temuan Penelitian

Secara umum, perpustakaan-perpustakaan yang dijadikan obyek penelitian memiliki berbagai jenis koleksi yang dibutuhkan pemustakanya dengan kuantitas yang berbeda-beda untuk setiap subyek ilmu pengetahuan. Beberapa perpustakaan telah menggunakan berbagai fasilitas untuk memudahkan para pengguna, seperti Online Public Access  Catalog (OPAC), ruang mulitimedia, dan berbagai layanan lainnya. Akan tetapi, penemuan koleksi-koleksi terkait isu KDRT sangat beragam dan berbeda antara perpustakaan satu dengan perpustakaan lainnya.

Untuk semua perpustakaan perguruan tinggi (UGM, UIN, UKDW) dan perpustakaan umum (BPAD), telah memiliki fasilitas temu kembali (information retrival) yang memudahkan pengguna perpustakaan berupa Online Public Access  Catalog (OPAC). Dengan  OPAC, penelusuran dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan, misalnya dengan berbagai pendekatan sekaligus, misalnya lewat judul, pengarang, subyek, tahun terbit,  penerbit dan lain sebagainya sesuai dengan fitur yang ada pada layanan perpustakaan tersebut. Selain itu, pengguna bisa mengakses daftar koleksi perpustakaan dimana saja dan kapan saja, tanpa harus mengunjungi perpustakaan yaitu dengan jaringan LAN (Local Area Networking) atau WAN (Wide Area Network).[23] Sehingga ketika akan melakukan temu kembali informasi, sebelum menuju ke rak, kita dapat mencari petunjuk keberadaan informasi yang kita cari melalui OPAC. Setelah itu, dengan deskripsi yang di dapat dari OPAC, pengguna perpustakaan menuju rak dimana buku tersebut disimpan. Tetapi untuk kedua perpustakaan yang didirikan LSM, yaitu LKiS dan Rifka Annisa, belum memiliki kartu katalog dan OPAC, sehingga sedikit mendapat kesulitan dalam menelusuri infromasi yang dibutuhkan. Petunjuk mengenai keberadaan informasi yang dibutuhkan akan diberikan oleh pustkawan. Mereka akan menunjukkan subyek-subyek buku yang ada di rak  dan nomor besaran klasifikasi saja, misalnya untuk subyek kekerasan dengan nomor klasifikasi 362 dan  gender dengan nomor klasifikasi 364.

Ketika melakukan temu kembali informasi (information retrivel), peneliti menggunakan OPAC melalui pendekatan judul dengan menggunakan beberapa kata kunci (key word), yaitu satu kata atau beberapa kata kita ketik untuk digunakan sebagai pedoman dalam penelusuran topik, subyek, judul, atau nama orang dalam suatu sumber informasi, daftar, katalog dan lain sebagainya.[24] Hal ini dilakukan untuk bisa menemukan judul-judul buku yang di butuhkan atau kita maksudkan. Seperti pada pencarian ‘google’, dalam katalog perpustakaan kita juga bisa melakukan pencarian dengan menggunakan  keyword, misalnya kita mengetik kata kekerasan, maka akan muncul semua judul buku yang ada kata kekerasan. Untuk itu, dalam penelusuran ini kita menggunakan keyworld “kekerasan dalam rumah tangga”, “gender”, “hukum keluarga”, “rumah tangga”, dan “feminism”.

Dalam hal ini, sebenarnya peneliti mengadopsi  sistem temu kembali informasi  model Boolean, yaitu sistem temu kembali yang paling awal digunakan, yang mempresentasikan dokumen kedalam suatu himpunan kata kunci (set of keyword). Sedangkan query dipresentasikan sebagai ekspresi Boolean. Query dalam ekspresi Boolean merupakan kumpulan kata kunci yang sering di hubungkan melalui operator (Boolean logic) seperti AND, OR dan NOT serta menggunakan tanda kurung untuk menetukan cakupan (scoope operator).[25]

Akan tetapi pada prakteknya peneliti mengabaikan kata bantu atau kata penghubung AND, OR atau NOT tersebut, begitu pula dengan tanda kurung untuk menentukan cakupan tidak peneliti pergunakan. Peneliti langsung merumuskan istilah-sitilah yang menurut peneliti sangat berhubungan dengan isu-isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang bisa peneliti jadikan sebagai kata kunci untuk pencarian, yaitu  kekerasan dalam rumah tangga”, “gender”, “hukum keluarga”, “rumah tangga”, dan “feminism”. Kelima kata kunci (keyword) ini dipilih karena dalam kajian KDRT sangat berhubungan dengan wacana-wacana seperti dalam key word tersebut. Pengetahuan-pengetahuan dan informasi tentang hal itu sangat dibutuhkan oleh para perempuan agar memahami tentang tentang konsep  gender secara utuh atau konstruksi gender yang sebenarnya, tentang relasi suami isteri yang adil gender, dan lain sebagainya. Sehingga para perempuan akan memiliki wawasan yang luas mengenai hal tersebut.  

Meskipun dalam faktanya, saat ini kekerasan dalam rumah tangga dapat menimpa siapa saja, baik keluarga berpendidikan tinggi maupun rendah, kaya maupun miskin, tinggal di pedesaan ataupun di perkotaan. Pandangan bahwa KDRT hanya menimpa keluarga berpendidikan rendah, miskin, dan berada di daerah terpencil hanya mitos belaka.[26] Tapi, kerentanan seseorang terhadap kekerasan akan semakin terakumulasi ketika ia berada di bawah dari berbagai domain, misalnya karena kemiskinan, apalagi ia termasuk dalam kelompok minoritas, dan tidak memiliki pengetahuan dan informasi. Problem ketidakadilan ini akan berakibat pada ketimpangan relasi gender. Peran gender laki-laki dikonstruksikan untuk mendominasi gender perempuan.[27]

Sebenarnya pengetahuan dan informasi tentang hal tersebut di atas tidak hanya harus dimiliki oleh para perempuan, tapi wajib juga dimiliki oleh para laki-laki, supaya tidak memberikan cara pandang yang merendahkan kepada kaum perempuan dan bisa menciptakan sebuah keluarga dengan relasi yang seimbang dan adil gender. Karena cara pandang yang merendahkan ini, dalam proses berikutnya akan melakhirkan sikap mementingkan dan mendahulukan yang dominan dari yang didominasi, atau previlese, kemudian penguasaan, penindasan dan tentu saja kekerasan-kekersan yang terjadi dalam rumah tangga (KDRT).[28]

Dengan key word-key word tersebut, terdeteksi ratusan judul buku teks, akan tetapi setelah ditelusuri, ditemukan, dibaca dan dianalisis tidak semua buku-buku teks  tersebut  masuk dalam kategori koleksi isu-isu KDRT yang di butuhkan. Disamping itu dengan berpegang pada deskripsi OPAC, ada beberepa buku yang peneliti anggap masuk ketegori koleksi isu KDRT, tetapi setelah menuju rak yang ditunjuk ternyata kolesi tidak ditemukan. Ada beberapa kemungkinan ketiadaan buku tersebut, misalnya sedang di pinjam, di baca pemustaka lain, di perbaiki dan lainnya.

Menurut beberapa petugas perpustakaan, sebagian buku yang dicari dan tidak ditemukan di rak merupakan buku tandon atau inventaris. Dengan petunjuk jumlah exampler buku tersebut adalah satu. Buku-buku tandon ini tidak dapat dipinjam untuk dibawa pulang, tapi boleh dibaca di tempat dengan melapor kepada petugas perpustakaan.  Kendala selanjutnya adalah ketika peneliti  mencoba menelusuri koleksi infentaris atau tandon tersebut, ternyata koleksi yang dimaksud tidak tersedia. Setelah itu pustakawan dan petugas perpustakaan tidak dapat memberikan petunjuk apapun tentang keberadaan koleksi tersebut. Padahal koleksi-koleksi tersebut sebenarnya sangat mendukung wacana-wacana KDRT.

Pada saat temu kembali informasi (TKI) di perpustakaan UKDW, peneliti tidak menemukan koleksi isu KDRT dengan menggunakan key word “kekerasan dalam rumah tangga”. Akhirnya penelusuran dilanjutkan dengan beberapa key word yang sama yang digunakan dalam penelusuran pada perpustakaan-perpustakaan yang lain, yaitu, rumah tangga, hukum keluarga, gender dan feminisme.

Setelah melakukan observasi langsung ke enam perpustakaan yang ditunjuk, koleksi- koleksi terkait isu-isu KDRT  yang berhasil peneliti temukan 162 buku terkait isu KDRT, tapi kenyataan membuktikan hanya 144 judul buku teks  saja mengenai wacana dan kajian isu KDRT tersebut. Karena ada beberapa judul buku yang sama dimiliki oleh beberapa perpustakaan. Pada saat penelitian dilakukan,  peneliti mendapatkan 22 koleksi di BPAD,  42 koleksi di perpustakaan Rifka Annisa, 34 koleksi di Perpustakaan Pusat UGM, 16 koleksi di Perpustakaan UKDW, 33 koleksi di Perpustakaan pusat UIN Sunan Kalijaga dan 16 koleksi di  Perpustakaan LKiS.

Data tersebut diklasifikasi dalam dua hal:

1. Data Primer

Maksud dari  data primer pada penelitian ini adalah terdiri dari data buku yang secara langsung membahas isu-isu kekerasan dalam rumah tangga, baik pembahasan tersebut pada keseluruhan pembahasan buku, atau pada halaman tertentu,  dan buku-buku yang membahas isu-isu kekerasan dalam rumah tangga hanya dalam bab-bab tertentu saja.

Pada jenis kategori ini, peneliti menemukan 73 judul buku yang telah diperoleh dari perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, dan perpustakaan komunitas yang telah peneliti tentukan. Rincian lokasi koleksi tersebut adalah  10 koleksi terdapat di BPAD, 34 koleksi terdapat di perpustakaan Rifka Annisa, 18 buku terdapat di perpustakaan pusat UGM, 7 koleksi berada di perpustakaan UKDW, 10 koleksi terdapat di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, dan 8 koleksi terdapat di perpustakaan LKiS. Yang telah diperoleh dari perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, dan perpustakaan gerakan yang telah peneliti tentukan.

2. Data Sekunder

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan data sekunder adalah data yang mendukung pembahasan isu-isu kekerasan dalam rumah tangga atau merupakan basis dari kajian KDRT, seperti feminis, gender, hukum keluarga, dan rumah tangga. Dengan data sekunder ini diharapkan dapat menunjang data primer di atas, sehingga dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dan wawasan masyarakat untuk memahami isu-isu KDRT secara lengkap.

Untuk jenis kategori ini, peneliti menemukan 71 judul buku dari 6 perpustakaan yang diteliti. Adapun lokasi koleksi tersebut adalah 11 kolaksi dimiliki BPAD, 8 koleksi terdapat di perpustakaan Rifka Annisa, 16 koleksi terdapat di  perpustakaan UGM, 9 koleksi terdapat di perpuatakaan UKDW, 23 koleksi terdapat di perpustaan UIN sunan Kalijaga, dan 7 koleksi terdapat di perpustakaan LKiS.

Analisis Penelitian

Pada satu dekade terakhir, dunia keilmuan di Indonesia diwarnai dengan munculnya wacana gender dan pemberdayaan perempuan. Beberapa lembaga tinggi pendidikan mendirikan pusat-pusat studi yang mengkhususkan diri pada kajian perempuan serta relasinya dengan laki-laki secara lebih luas.[29] Dimana wacana gender dan pemberdayaan perempuan tersebut merupakan salah satu basis kajian KDRT. Hal ini bisa menjadi bukti bahwa wacana KDRT, Gender, rumah tangga, bukan saja milik para praktisi pemerintah, LSM , lembaga pemberdayaan dan sejenisnya. Tapi, wacana ini telah mendorong citivas akademika untuk  masuk diantara jajaran lembaga-lembaga tersebut. Mahasiswa sebagai masyarakat informasi  harus terus aktif mengikuti informasi-informasi yang ada di sekitarnya. Hal demikian berdampak pada ketersediaan koleksi yang harus diadakan dan dilayankan di perpustakaan yang sesuai dengan mengikuti perkembangan keilmuan dan informasi isu tersebut, sehingga kebutuhan informasi yang up to date untuk mahaiswa dapat terpenuhi.

Berdasarkan data koleksi buku teks yang dapat peneliti temukan di beberapa perpustakaan tersebut menunjukkan bahwa pertama; penulis dengan jenis kelamin perempuan lebih mendominasi karya-karya terkait isu-isu kekerasan dalam rumah tangga, yaitu 62 orang  penulis perempuan, 55 penulis laki-laki, dan 27 karya-karya yang ditulis gabungan antara laki-laki dan perempuan. Walaupun menunjukkan selisih yang sedikit, hal ini bisa menunjukkan bahwa perempuan memberikan perhatian yang lebih besar dari pada laki-laki. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan hal ini terjadi, pertama; sensitivitas perempuan yang cukup tinggi, kedua; dari pengelaman hidup yang ia alami, karena kekerasan terhadap istri dalam suatu rumah tangga sering terjadi bahkan para ahli beranggapan bahwa KDRT sebagai hidden crime. Meskipun telah memakan cukup banyak korban dari berbagai kalangan masyarakat, kekerasan dalam rumah tangga masih merupakan masalah sosial serius yang kurang mendapat perhatian masyarakat, karena:1).KDRT memiliki ruang lingkup yang relatif tertutup (pribadi) dan terjaga privasinya. 2). KDRT sering dianggap wajar yang terjadi dalam rumah tangga. 3). KDRT terjadi dalam lembaga yang legal yaitu perkawinan.

Contohnya Seperti buku “Luka di Champs Elysees” yang ditulis oleh Rosita Sihombing[30] dan “Dari Balik Dinding Bernama Luka” yang ditulis berdua oleh Nita Candra dan Dian Ibung[31], ketiga penulis perempuan ini mengangkat isu kekerasan pada perempuan, khususnya yang terjadi dalam rumah tangga sebagai tema sentral yang dibahas dengan nada khas perempuan, ‘lembut’ tapi mampu sekaligus ‘tegas’  di kedua buku tersebut. Buku lain yang ditulis karena terinspirasi oleh pengalaman korban KDRT adalah buku “Derita Di Balik Harmoni” karya Elli. N.H, yang telah diterbitkan oleh Rifka Annisa Crisis Women’s Center. Dengan adanya buku ini diharapkan keberanian para perempuan korban KDRT untuk lebih terbuka dan mencari alternatif solusi.

Fenomena kesadaran penulis perempuan ini, bersanding dengan pendekatan-pendekatan lainnya (aktifis prempuan, komnas perempuan, pendamping perempuan dan lain-lain), merupakan arus perubahan yang penting untuk digulirkan terus menerus. Pendekatan budaya menjadi sangat penting karena seringkali tindakan kekerasan terhadap perempuan sesungguhnya berakar pada praktek budaya yang telah berlangsung berabad abad lamanya.[32]

Kedua; penerbit yang lebih mendominasi penerbitan buku-buku isu-isu kekerasan dalam rumah tangga adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM), yaitu sebanyak 70 judul buku yang diterbitkan LSM, 14 judul buku diterbitkan Perguruan Tinggi, 41 judul buku diterbitkan non pemerintah (penerbit komersial), 6 judul buku saja yang diterbitkan pemerintah. Walaupun buku-buku yang  diterbitkan oleh perguruan tinggi,  tapi tetap karena adanya dukungan dan kerja sama dengan LSM, ada 9 judul buku yang diterbitkan perguruan tinggi atas kerja sama dengan LSM. Ada beberapa buku yang diterbitkan merupakan laporan penelitian yang telah dilakukan perguruan tinggi tersebut bekerja sama dengan LSM, kemudian laporan tersebut dibukukan. Hal ini bisa dilihat dari beberapa  koleksi yang terdapat di perpustakaan UGM, demikian juga koleksi yang sama terdapat di perpustakaan BPAD.

Kenyataan ini membuktikan bahwa ternyata kajian KDRT masih merupakan basis kajian wilayah LSM, seperti KOMNAS Perempuan, Mitra Perempuan, Rifka Annisa, LKiS dan lain sebagainya. Walaupun wilayah akademik sudah menyentuh kajian tersebut, tapi tidak semaksimal yang telah dilakukan LSM. Dalam kerja-kerja perguruan tinggi juga masih ada motivasi dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk melakukan hal tersebut, misalnya dengan adanya kerja sama antara perguruan tinggi dan LSM tertentu.

Fenomena demikian juga bisa dilihat bahwa perpustakaan komunitas Rifka Annisa lebih unggul dalam ketersediaan koleksi tentang isu KDRT, disusul UIN SUKA, UGM, LKiS, UKDW dan BPAD. Hal ini sangat wajar karena Rifka Annisa merupakan sebuah lembaga atau komunitas yang bergerak dalam hal pemberdayaan perempuan dan pendampingan perempuan korban KDRT. Selain itu Rifka Annisa juga berperan dalam pencegahan  dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan baik itu KDRT atau kejahatan lainnya dengan melakukan pengkaderan, misalnya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan atau workshoop, sehingga koleksi yang tersedia juga termasuk modul-modul pelatihan sebagai buku petunjuk pelatihan yang digunakan sebagai buku pegangan fasilitator selama pelatihan cukup banyak.

Hal ini yang membedakan antara perpustakaan gerakan dan perpustakaan perguruan tinggi. Pada perpustakaan perguruan tinggi koleksi mengenai isu KDRT terlihat lebih sedikit dari pada Rifka Annisa. Karena, ketersediaan koleksi di perguruan tinggi tersebut  tidak hanya difokuskan pada satu subyek saja, tapi harus melingkupi semua disiplin ilmu seusai dengan kebutuhan informasi para mahasiswa dan dosen serta citivas akademika pada umumnya. Hal demikian juga terlihat pada perpustakaan LKiS yang notabene sama dengan perpustakaan Rifka Annisa, walaupun koleksi KDRT tidak terdeteksi sebanyak yang terdapat di perpustakaan Rifka Annisa.

Ketiga; tahun penerbitan yang lebih mendominasi pada koleksi-koleksi terkait isu-isu KDRT yang ditemukan adalah pada tahun  tahun 2002, sebayak 20 judul buku. Dimana pada tahun tersebut kasus-kasus KDRT yang ditangani oleh beberapa LSM juga semakin meningkat. Begitu pula dengan kajian-kajian yang diusung terhadap gender, pemberdayaan perempuan dan isu-isu KDRT juga semakin banyak di usung di permukaan. Kemungkinan penerbitan buku-buku tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa fakta yang terjadi pada saat itu, yaitu adanya kasus-kasus kekerasan yang banyak menimpa manusia memotivasi para agen perubahan peradaban untuk mewujudkan cara pandang hidup (way of life) dan pranata sosial yang lebih adil dan menghormati kesetaraan. Berdasarkan kenyataan itu kemudian banyak orang tergugah untuk menulis karya tentang KDRT dengan tujuan ingin memberikan pencerahan wawasan keilmuan agar dapat menghindari terjadinya KDRT tersebut.

Selain itu, dari sisi historis, kajian tentang wacana gender yang merupakan basis dari KDRT telah mengalami banyak perkembangan dilingkungan akademisi seperti di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Perkembangannya mengalami fluktuatif antara tahun 1999 sampai 2002.[33] Perkembangan ini nampaknya mengikuti diskursus yang berkembang di masyarakat bersamaan dengan adanya penerbitan dan publikasi besar-besaran mengenai wacana gender.

Begitu pula dengan data yang ditemukan oleh Komnas Perempaun menunjukan bahwa dari tahun ke tahun, Komnas Perempuan mencatat bahwa jumlah kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang ditangani melalui Pengadilan Agama mengalami peningkatan yang sangat signifikan.[34] Data lain yang peneliti temukan yaitu data statistic KDRT yang miliki oleh Mitra Perempuan Women’s Crisis Centre.[35]

Dengan demikian buku-buku yang membahas mengenai isu-isu KDRT sudah ada jauh sebelum adanya UU PKDRT, namun kemudian bangsa Indonesia patut merasa bersyukur, karena akhirnya pemerintah menetapkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU-PKDRT), yang diharapkan dapat dijadikan sebagai perangkat hukum yang memadai, yang didalamnya antara lain mengatur mengenai pencegahan, perlindungan terhadap korban, dan penindakan terhadap pelaku KDRT, dengan tetap menjaga keutuhan demi keharmonisan keluarga. Dengan demikian, hal ikhwal KDRT bukan lagi menjadi sesuatu yang dianggap privat tetapi sudah menjadi isu publik, maka dalam penanganannya pun diharapkan dapat dilakukan  secara proporsional sebagaimana upaya perlindungan terhadap korban dan penanganan terhadap pelaku. Hal ini pun sudah  dijamin perlindungannya dalam konstitusi kita, yakni, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.  Sedangkan kasus-kasus KDRT sudah banyak terjadi sebelum itu. Contohnya kasus Suyatmi yang pada akhirnya membunuh suaminya karena sudah bertahun-tahun melakukan tindak kekerasan terhadap dirinya. Peristiwa ini mencuat diberbagai media TV diakhir bulan November 1997.[36] Kisah ini kemudian dikutip oleh Ciciek Farha dalam tulisannya pada tahun 1999. Dengan ditetapkannya UU PKDRT No 23 Tahun 2004 ternyata kasus-kasus kekerasan masih banyak yang terjadi. salah satu penyebabnya adalah adanya konstruksi sosial masyarakat yang masih melihat KDRT sebagai masalah privat yang tidak bisa diintervensi. Selain itu, kekerasan psikis sangat kurang direspons oleh aparat penegak hukum.

Kemudian, dari data koleksi yang teridenfikasi juga menunjukkan, untuk kedua perpustakaan perguruan tinggi yaitu UIN Sunan Kalijaga dan UGM, terlihat adanya beberapa koleksi yang merupakan karya-karya lembaga yang mengkaji sekitar isu KDRT dan Gender. Hal ini dapat dijadikan pembuktian bahwa wacana isu KDRT telah memasuki dunia pendidikan atau akademik. Hal tersebut  terlihat pada buku Anotasi; Dinamika Studi Gender IAIN Sunan Kalijaga 1995- 2003 karya Waryono Abdul Ghafur dan Muh. Isnanto, yang merupakan daftar kumpulan hasil karya lembaga (institutional repository) yang di susun secara sistematis bedasarkan klasifikasi topik keilmuan isu gender dalam islam. Untuk bagian pertama, tentang gender dan islam, yang membahas bagaimana sebenarnya gender dalam islam. Bagian kedua Islam dan hak-hak reproduksi, yang membahas sekitar persoalan reproduksi perempuan yang terjadi dilingkungan sekitar, seperi masalah khitan perempuan. Bagian ketiga, Gender, pendidikan perempuan dan perannya dalam islam. Bagian ke empat, Poligami dalam islam, yang mengungkapkan berbagai pokok pikiran yang ada dalam realita tentang poligami dalam islam.

Gambaran lain  juga dapat dilihat dari koleksi-koleksi di perpustakaan- perguruan tinggi di UGM, ada beberapa koleksi perpustakaan yang merupakan hasil penelitian tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan dalam ranah domestik maupun publik, tentang pendampingan perempuan korban kekerasan dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Kegiatan inidi gagas oleh Pusat Penelitian dan Kependudukan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Pusat Studi Kependudukan dan Kebudayaan UGAM yang bekerja sama dengan Ford Foundation (FF). Diantara  karya-karya lembaga (institusional repository) tersebut adalah Kekerasan Terhadap Perempuan Mulitietnik, karya Ria Hanurung dkk, yang merupakan penelitian KDRT di Sumatera, yang menekankan ruang lingkup dan intensitas terjadinya kekerasan, kesadaran dan respon kekerasan. Karya lainnya adalah Belenggu Adat dan Kekerasan Terhadap Perempuan, merupakan hasil karya dari Khairuddin NM dkk, yang membahas mengenai kekerasan yang riel yang terjadi pada masyarakat Papua. Dan masih ada beberpa karya-karya lainnya.

Tapi, sangat disesalkan, terlihat pada koleksi BPAD, hanya beberapa koleksi saja koleksi yang masuk dalam kategori langsung membahas isu KDRT. Padahal, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) adalah perpustakaan umum yang harus melayani dan memenuhi kebutuhan informasi seluruh lapisan masyarakat. Seharusnya BPAD menjadi fasilitator pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan kesadaran pentingnya informasi dan pendayagunaan informasi tersebut. Terkait dengan  ketersediaan koleksi isu-isu KDRT di perpustakaan tersebut, diharapkan dapat membantu masyarakat dalam menambah pengetahuan tenatng hal-hal yang terkait dengan KDRT sehingga dapat meminimalisir terjadinya KDRT di masyarakat sekitar.

Untuk perpustakaan UKDW, walaupun dalam penelusuran dengan pemakaian key word “kekerasan dalam rumah tangga” (KDRT) tidak diketemukan satu koleksipun, tapi terdapat tujuh judul buku yang masuk dalam kategori sebagai data primer atau langsung pada pembahasan isu KDRT. Tujuh judul ini diketemukan dengan menggunakan key word ‘gender’, kata yang sangat terkait dengan isu KDRT. Dimana, salah satu penyebab terjadinya KDRT adalah karena kurangnya pemahaman terhadap konstruksi gender dan  adanya ketimpangan relasi gender dalam kehidupan berumah tangga.

Gambaran lain wacana isu KDRT dalam trend akademik dan gerakan dapat dilihat dari berbagai wacana yang digelar secara besar-besaran, mengenai gender, feminisme, sampai dengan isu KDRT, baik wacana pendampingan, pencegahan dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan melalui seminar dan pelatihan. Wacana ini tidak hanya dibahas oleh para praktisi LSM atau lembaga-lembaga pemberdayaan saja, tapi merambah ke wilayah-wilayah kampus. Hal ini terlihat dengan banyaknya Pusat Studi Wanita (PSW) atau Pusat Kajian Perempuan (PKP) yang berdiri di bawah naungan perguruan tinggi. Gambaran lain  juga dapat dilihat dari koleksi-koleksi di perpustakaan- perpustakaan  perguruan tinggi, yang merupakan obyek penelitian ini.  

Sedangkan isu KDRT dalam trend gerakan dapat terlihat dalam kinerja dan sepak terjang  mereka dalam usaha melakukan pendampingan korban KDRT, berupaya dalam pencegahan dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan, baik kasus KDRT ataupun bentuk kasus kekerasan lainnya. Melakukan upaya-upaya pemberdayaan perempuan dalam berbagai bidang. Untuk kajian keilmuan yang dipublikasikan, terlihat beberpa karya berupa buku teks yang  diterbitkan oleh kedua lembaga (LKiS dan Rifka Annisa) tersebut. Dimana terbitan karya itu juga ada terdapat di perpustakaan perguruan tinggi.  

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Berdasarkan data yang peneliti peroleh menunjukkan bahwa isu-isu KDRT ini masih merupakan isu yang eksklusif dalam bahasan secara umum, baik pemerintah.  akademik, dan LSM. Dari ke tiga elemen tersebut yang mendominasi karya-karya tentang KDRT adalah lembaga Swada Masyarakat (LSM). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yaitu menemukan 70 buku dari data yang ada merupakan terbitan LSM.
  2. Sumber informasi yang ada menunjukkan bahwa perempuan memberikan perhatian yang lebih besar dari pada laki-laki, dibuktikan dengan banyaknya karya-karya berkaitan dengan isu-isu KDRT yang ditemukan peneliti. Perbandingannya yaitu 61 orang penulis perempuan, 55 penulis laki-laki, dan 27 buku atas kerja bareng penulis laki-laiki dan perempuan.
  3. Setelah melakukan penelitian di beberapa perpustakaan, koleksi yang ada menunjukkan bahwa kajian mengenai KDRT banyak di terbitkan pada tahun 2002, sebanyak 20 judul koleksi. Karena pada tahun 2002 merupakan perjuangan para aktifis dan pererhati tindak kekerasan terhadap perempuan untuk bisa mewujudkan adaya perlindungan hukum, sehingga adanyanya penetapan Undang-undang pemberantasan kekerasan dalam Rumah tangga (UU PKDRT) No 23 tahun 2004.

Saran-Saran

  1. Penelitian ini diharapkan menjadi langkah awal untuk penelitian-penelitian berikutnya, karena penelitian ini masih perlu untuk dilanjutkan untuk melengkapi koleksi-koleksi isu KDRT yang tidak dapat dketemukan atau belum terlacak pada penetian ini, karena kendala-kendala tersebut diatas.
  2. Pengembangan koleksi isu-isu terkini harus selalu di lakukan oleh perpustakaan-perpustakan, terutama dalam hal ini isu tentang KDRT, sehingga mayarakat bisa mendapatkan informasi yang up to date sesusai dengan perkembangan yang ada, dengan demikian pengetahuan dan wawasan mayarakat akan meningkat, khususnya para perempuan. Sehingga para perempuan tersebut memahami makna gender yang sebenarnya,  tentang keadilan gender, ketimpanagan relasi gender dan lain-lain. Karena, dengan dimikinya pemahanan makna atau konstruksi gender dan wacana-wacana gender lainnya akan dapat meminimalisir terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Daftar Pustaka

  • Abdul Ghafur, Waryono, Anotasi Dinamika Studi Gender IAIN Sunan Kalijaga 1995-2003,Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga, 2004.
  • Abdul Kodir, Faqihuddin & Ummu Azizah Mukarnawati, Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama: Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Jakarta: Komnas Perempuan, 2008.
  • Adams, Brian and Noel, Bob, Circulation Statistics In The Evaluation Of Collection Development (Emerald Group Publishing Limited, 2008.
  • Anriza, Deni, Ketersediaan Koleksi buku Teks Perpustakaan sekolah SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta menurut Silabi Kurikulum KTSP (Skripsi: jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2007.
  • Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006.
  • Baeza-Yates, R dan B. Riberio-Neto, B Modern Information Retrieval. New York: ACM Pess, 1999.
  • Chouwdhury, G.G;  Chouwdhury, Sudatta.  Introduction To Digital Libraries. London: Facet Publishing, 2003.
  • Darmono, Manajemen dan tata Kerja Kepustakawanan Sekolah, Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana, 2001.
  • Edward Evans, G. dan Sandra M.heft, Introduction to Technical service, Colorado: Libraries Unlimited, 1994.
  • Elvina, Irma; Seminar , Kudang Boro;  Ardiansyah, Firman. Kajian dan Desain Konseptual Penggunaan Hiperlink Sebagai Alat Bantu Temu Kembali Informasi di Perpustakaan,  Dalam Jurnal Perpustakaan Pertanian, Volume 18 Nomor 1 Januari 2009. Bogor: Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, 2009.
  • Evans, G. Edward, Margaret Zarnosky Saponaro,  Developing and Information Center Collection, London: Libraries Unlimited,2005.
  • Faqih, Mansour, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
  • G Edward Evans, Developing Library and Information center Collections, Ed. Ke-4, Colorado: A divicitioan Of Greewood Publishing Droup, Inc, 2000.
  • http://nitacandra.multiply.com, diakses pada hari Jum’at tanggal 31 Desember 2010 pukul 13.10 Wib.
  • http://perempuan.or.id/statistik-catatan-tahunan/2002/09/30/statistik-catatan-2002/( Mitra PerempuanWomen's Crisis Centre ), diakses pada hari Jum’at tanggal 31 DEsember 2010 pukul 13. 15.
  • http://www.ihap.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=154:kdrt-dan-pelanggaran-hak-asasi-perempuan&catid=34:artikel, KDRT dan  Pelanggaran Hak Asasi Perempuan diakses pada tangga  1 Oktober 2010 pukul 12.30 Wib.
  • http://www.sikrit.multiply.com, diakses pada hari Jum’at tanggal 31 Desember 2010 pukul 13.00 Wib.
  • Information Retrieval System, dalam http://blog.its.ac.id/dyah03tc/2007/11/21/pengantar-temu-kembali-informasi-information-retrieval/
  • J.P Rompas, Prospek Pusdokinfo di Era Globalisasi. Dalam Dinamika Informasi Dalam Era Global, Bandung:Ikatan Perpustakaan Jawa Barat, 1998.
  • Kohar, Ade, Tehnik Penyusunan Kebijakan Pengembangan Koleksi Perpustakaan; Suatu Implementasi studi Restrospektif, Jakarta: 2003.
  • Lancaster, F.W. Information Retrieval Systems: Characteristics, Testing, and Evaluation. 2 nd Edition John Wiley: New York, 1979.
  • Lasa Hs. Kamus Kepustakawanan Indonesia; Kamus Lengkap Istilah-Istilah Dunia Pustaka dan Perpustakaan. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2009.
  • Lingkar Pena Publishing House, Perlawanan penulis perempuan Terhadap KDRT, dalam:http://lingkarpena.multiply.com/journal/item/22/Kala_Penulis_Perempuan_Melawan_KDRT, diakses pada hari Jum’at tanggal 31 Desember 2010  pukul 12.30 Wib.
  • Moleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif , Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996.
  • Muhammad, Husein, Keluarga Sakinah, Kesetaraan Relasi Suami Istri, Jakarta: Rahima, 2008.
  • Munawaroh, Siti, Analisis kesesuaian Antara Buku Ajar Pelengkap Mata pelajaran Kimia Sekolah Menengah Umum (SMU) Kelas III dengan GBPP Kurikulum SMU Tahun 1994 (Skripsi: jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009.
  • Nasution ,S, Metode Research: Penelitian Ilmiah,  Ed.1. Cet. Ke 9, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
  • Nur Rofi’ah, Bil. Uzm., Memecah Kebisuan; Agama Mendengar Suara Korban Kekerasan Demi Keadilan, Respon N. Jakarta: Komnas Perempuan, 2009.
  • Pendit, Putu Laxman.  Perpustakaan Digital Dari A Sampai Z.(Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri, 2008.
  • Pendit, Putu Laxman. Penelitian Ilmu Perpustakaan dan Informasi; Suatu Pengantar Diskusi Epistemologi dan Metodelogi.Jakarta: JIP- FSUI, 2003.
  • Prytherch, Ray, Horrad’s Librarian’s Glosary: Of Term Used In Librarianship, Documentation, and The Book Charf , England: Gower Publishing, 1990.
  • Qalyubi dkk, Sihabuddin, Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga, 2003.
  • Soetimah, Perpustakaan Kepustakawanan dan Pustakawan, Jakarta: KANISIUS, 2002.
  • Sugiyono, Memahami Peneitian kualitatif , cet. III, Bandung: Alfabeta, 2007.
  • Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2008.
  • Sulistyo- Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993.
  • Sulistyo-Basuki. Tehnik dan Jasa Dokumentasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992.
  • Surachman, Arif. Penelusuran Informasi; Sebuah Pengenalan, dalam
  • Suwarno,Wiji, Psikologi Perpustakaan, Yogyakarta: Sagung Seto, 2009.
  • Univesity Of water Loo, Collection Evaluation: Why Evaluation A Collection. Dalam http://www.lib.uwaterloo.ca/doc-uments/collection_evaluation .html, diakses pada hari Jum’at pada tanggal 17 Desember 2010 pukul 15.00 WIB.
  • Zed, Mestika, Metodologi Penelitian Kepustakaan, Jakarta yayasan Obor Indonesia, 2008.
  • Zulaikha, dkk, Sri Rohyati, Evaluasi Pemanfaatan koleksi dengan menggunakan Analisis Sitasi: studi Analisis Sitasi skripsi Mahasiswa di Perpustakaan Pusat IAIN sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam berhala ilmu perpustakaan dan informasi, Volume I, Nomor I.

Daftar Referensi

  1. Faqihuddin Abdul Kodir & Ummu Azizah Mukarnawati, Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama: Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Jakarta: Komnas Perempuan, 2008), hlm. 31.
  2. Kebanyakan anak yang tumbuh dalam rumah tangga yang penuh kekerasan akan menjadi orang yang kejam. Penelitian telah membuktikan 50% dari 80% laki-laki yang melakukan kekerasan terhadap istri dan anak-anaknya adalah orang-orang yang dibesarkan dalam rumah tangga yang penuh dengan kekerasan. Husein Muhammad, Keluarga Sakinah, Kesetaraan Relasi Suami Istri, (Jakarta: Rahima, 2008), hlm. 283-299). Sedangkan menurut catatan IHAP yang diadopsi dari berbagai sumber (media massa dan milis) dalam triwulan awal 2010 ini, kasus kekerasan dalam rumah tangga semakin meningkat dan 90% korban kekerasan adalah perempuan. Data BPPM DIJ melalui PK2PA DIJ, jumlah Korban kekerasan terhadap perempuan, sampai bulan oktober tahun 2009 sebanyak 994 kasus. Dari 994 kasus ini, 925 korbanya adalah perempuan. Dimana usianya rata-rata 18-55 tahun sebanyak644kasus.Lihat,Http://www.ihap.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=154:kdrt-dan-pelanggaran-hak-asasi-perempuan&catid=34:artikel, KDRTdan Pelanggaran Hak Asasi Perempuan diakses pada tangga 1 Oktober 2010 pukul 12.30 Wib.
  3. Mansour Fakih, Analisis Gender (, 2004), hlm. 72.
  4. Syihabuddin Qalyubi dkk, Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi (Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Adab,2007), hlm. 4.
  5. Evans, G. Edward dan Sandra M. Heft, Introduction to Technical service (Colorado: Libraries Unlimited, 1994), hlm. 4.
  6. Sulistyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm. 27.
  7. Wiji Suwarno, Psikologi Perpustakaan (Yogyakarta: Sagung Seto, 2009), hlm.42.
  8. Soetimah, Perpustakaan Kepustakawanan dan Pustakawan, (Jakarta: KANISIUS, 2002), hlm. 23-29.
  9. Deni Anriza, Ketersediaan Koleksi buku Teks Perpustakaan sekolah SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta menurut Silabi Kurikulum KTSP (Skripsi: jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2007), hlm. 7-56.
  10. Sri Rohyati Zulaikha, dkk, Evaluasi Pemanfaatan koleksi dengan menggunakan Analisis Sitasi: studi Analisis Sitasi skripsi Mahasiswa di Perpustakaan Pusat IAIN sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam berkala ilmu perpustakaan dan informasi, Volume I, Nomor I, (2006).
  11. Siti Munawaroh, “Analisis Kesesuaian Antara Buku Ajar Pelengkap Mata Pelajaran Kimia Sekolah Menengah Umum (SMU) Kelas III dengan GBPP Kurikulum SMU Tahun 1994”, (Skripsi UIN Sunan Kalijaga, 2009).
  12. Faqihuddin Abdul Qadir dan Ummu Azizah Mukarnawati, Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama, hlm. 12.
  13. Syihabuddin Qalyubi dkk, Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan, hlm. 17.
  14. Soetimah, Perpustakaan Kepustakawanan, hlm. 17.
  15. Ade Kohar, Tehnik Penyusunan Kebijakan Pengembangan Koleksi Perpustakaan; Suatu Implementasi studi Restrospektif (Jakarta: 2003)
  16. Ray Prytherch, Horrad’s Librarian’s Glosary: Of Term Used In Librarianship, Documentation, and The Book Charf (England: Gower Publishing, 1990), hlm. 174.
  17. Brian Adams and Bob Noel, Circulation Statistics In The Evaluation Of Collection Development (Emerald Group Publishing Limited, 2008), hlm. 71.
  18. G. Edward Evans, Margaret Zarnosky Saponaro, Developing and Information Center Collection (London: Libraries Unlimited,2005), hlm. 7.
  19. G. Edward Evans, Margaret Zarnosky Saponaro, Developing and Information, hlm. 7.
  20. Fatimah Djajasudarma, Ancangan Metode Penelitian & Kajian (Bandung: Eresco, 1993). hlm. 15-16.
  21. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm.8-9.
  22. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 337.
  23. Shihabuddin Qalyubi dkk, Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi, (Yogyakarta: Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga, 2007), hlm. 137.
  24. Lasa Hs, Kamus Kepustakawanan Indonesia; Kamus Lengkap Istilah-Istilah Dunia Pustaka dan Perpustakaan, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2009), hlm. 141.
  25. Irma Elvina, Kudang Boro Seminar, dan Firman Ardiansyah, “Kajian dan Desain Konseptual Penggunaan Hiperlink Sebagai Alat Bantu Temu Kembali Informasi di Perpustakaan, ” dalam Jurnal Perpustakaan Pertanian, Volume 18 Nomor 1 Januari 2009. (Bogor: Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, 2009), hlm. 16.
  26. Nur Rofi’ah, Bil. Uzm., Memecah Kebisuan; Agama Mendengar Suara Korban Kekerasan Demi Keadilan, Respon NU, (Jakarta: Komnas Perempuan, 2009), hlm. 51.
  27. Faqihuddin Abdul Qadir dan Ummu Azizah Mukarnawati, Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama, hlm. 14.
  28. Faqihuddin Abdul Qadir dan Ummu Azizah Mukarnawati, hlm. 14.
  29. Waryono Abdul Ghafur dan Muh. Isnanto, Anotasi; Dinamika Studi Gender IAIN Sunan Kalijaga 1995-2003. (Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga, 2004), hlm. xv.
  30. http://www.sikrit.multiply.com, diakses pada hari Jum’at tanggal 31 Desember 2010 pukul 13.00 Wib.
  31. http://nitacandra.multiply.com, diakses pada hari Jum’at tanggal 31 Desember 2010 pukul 13.10 Wib.
  32. Lingkar Pena Publishing House, Perlawanan penulis perempuan Terhadap KDRT, dalam http://lingkarpena.multiply.com/journal/item/22/Kala_Penulis_Perempuan_Melawan_KDRT , diakses pada hari Jum’at tanggal 31 Desember 2010  pukul 12.30 Wib.
  33. Waryono Abdul Ghafur dan Muh. Isnanto, Hlm. xv
  34. Faqihuddin Abdul Kodir dan Ummu azizah Mukarnawati, Referensi Bagi Hkim Pengadilan Agama: Tentang kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) (Jakarta: Komnas Perempuan, 2008), hlm. Iii. Lihat halaman 84 menyebutkan pula mengenai peroalan-persoalan keluarga yang bernuansa KDRT sering muncul seperti putusan perceraian atau perkawinan, pembatalan perkawinan, pemeliharaan anak (hadanah) dan perwalian anak, serta penguasaan harta bersama.
  35. http://perempuan.or.id/statistik-catatan-tahunan/2002/09/30/statistik-catatan-2002/ (Mitra PerempuanWomen's Crisis Centre) Statistik Kekerasan dalam Rumah Tangga, diakses pada hari Selasa pada tanggal 28 Desember  2010 pukul 14.00 Wib. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) ini mencatat jumlah pengaduan dan bantuan kepada perempuan baik dewasa maupun anak-anak yang mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terutama di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi yakni 226 kasus yang dialami oleh 219 perempuan. Sementara tahun sebelumnya 1997: 64 kasus, 1998: 101 kasus, 1999: 113 kasus, 2000: 232 kasus, dan 2001: 258 kasus.
  36. Faqihuddin Abdul Kodir dan Ummu azizah Mukarnawati, Referensi Bagi Hkim Pengadilan Agama: Tentang kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) (Jakarta: Komnas Perempuan, 2008). Hlm, 34.