Puisi Perdamaian dari Sang Nyai
Info Artikel
| Sumber Original | : | NU online |
| Penulis | : | Ngarjito Ardi Setyanto |
| Tanggal Publikasi | : | Selasa, 4 April 2017 | 06:15 WIB |
| Artikel Lengkap | : | Puisi Perdamaian dari Sang Nyai |
Sastra selalu memberikan ruang terbuka pada kepada siapa saja. Salah satu yang bisa masuk dalam dunia sastra adalah perempuan, baik sebagai subjek atau objek. Keberadaan perempuan selalu memberikan warna yang berbeda dalam dunia sastra. Ironinya, kebanyakan keberadaan perempuan dalam sastra sebagai objek.
Perempuan tidak pernah habis dibahas dalam karya. Keberadaan perempuan sebagai salah satu menu tema yang paling banyak dipilih oleh sebagai karya sastra telah mendorong lahirnya banyak penelitian terhadap karya sastra bertema perempuan. Banyak faktor perempuan selalu menjadi objek, namun faktor yang paling mempengaruhi adalah kebanyaknya pengarang adalah laki-laki.
Dalam perjalanannya, keberadaan pengarang perempuan di Indonesia tidak banyak. Keberadaan pengarang perempuan bisa dihitung dengan jemari. Di masa-masa terlepasnya Indonesia dari penjajahan, kita mengenal beberapa pengarang perempuan saja. Seperti, Fatimah Hasan Delais yang menulis Kehilangan Mestika. Kemudian Selasih, Saleguri atau Sariamin yang melahirkan karya Kalau Tak Untung (novel, 1933), Pengaruh Keadaan (novel, 1937), Rangkaian Sastra (1952), sejumlah cerita anak-anak, legenda, dan sejumlah puisi yang tersebar dalam berbagai antologi.
Pada tahun 1945 kita mengenal S. Rukiah yang melahirkan karya Tandus (kumpulan sajak, 1952 memenangkan Hadiah Sastra Nasional BMKN), Kejatuhan dan hati (novel, 1950), Si Rawun dan Kawan-kawannya (cerita anak, 1955), dan lain-lain. Kemudian Siti Nuraini yang melahirkan karya berupa sejumlah puisi yang tersebar dalam berbagai antologi dan terjemahan Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupéry tahun 1952.
Sastra Indonesia makin meriah oleh pengarang perempuan, ini terlihat makin banyaknya perempuan makin banyak pengarang perempuan yang dikenal. Pada priode 1950 diwakili dengan Agnes Sri Hartini Arswendo, Aryanti, Asnelly Luthan, Boen S. Oemaryati, Diah Hadaning, Farida Soemargono dan masih banyak lainnya.
Setelah dekade 1970-an, perjalanan pengarang perempuan Indonesia dalam sejarah kesusastraan dilanjutkan oleh munculnya pengarang wanita baru seperti Ayu Utami lewat Saman (1998), dan Larung (2001). Diikuti oleh gebrakan Dewi Lestari dengan Supernova (2001), Akar (2002), dan Fira Basuki dengan Jendela-jendela (2001) yang merupakan bagian pertama dari trilogi Pintu (2002) dan Atap (2002). ......