Nur Rofiah: Pernikahan yang Patriarkal adalah Konsep ‘Jahiliyah’: Perbedaan revisi

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
 
Baris 20: Baris 20:


Padahal, menurut cendekiawan Islam, [[Nur Rofiah]], konsep pernikahan dalam Islam mengatur kesetaraan serta kebaikan bagi kedua belah pihak, baik laki-laki maupun perempuan. Anggapan bahwa laki-laki merupakan kepala keluarga sehingga berhak berlaku semena-mena dan membuat istrinya tersiksa merupakan miskonsepsi dan cerminan sistem yang ''jahiliyah'' (bodoh) dan hadir dalam masyarakat atau orang-orang yang belum mengenal konsep mengenai spiritualitas yang sesungguhnya, ujar Nur.
Padahal, menurut cendekiawan Islam, [[Nur Rofiah]], konsep pernikahan dalam Islam mengatur kesetaraan serta kebaikan bagi kedua belah pihak, baik laki-laki maupun perempuan. Anggapan bahwa laki-laki merupakan kepala keluarga sehingga berhak berlaku semena-mena dan membuat istrinya tersiksa merupakan miskonsepsi dan cerminan sistem yang ''jahiliyah'' (bodoh) dan hadir dalam masyarakat atau orang-orang yang belum mengenal konsep mengenai spiritualitas yang sesungguhnya, ujar Nur.
[[Kategori:Jejak Tokoh]]
 
[[Kategori:Jejak Nur Rofiah]]
[[Kategori:Jejak Nur Rofiah]]

Revisi terkini pada 9 Juli 2025 02.32

Info Artikel

Sumber : Magdalene.co
Penulis : Selma Kirana Haryadi
Tanggal Publikasi : May 6, 2021
Artikel Lengkap : Nur Rofiah: Pernikahan yang Patriarkal adalah Konsep ‘Jahiliyah’

Banyak sekali wacana yang berseliweran bahwa dalam ajaran agama Islam, perempuan adalah kelompok yang berada di bawah laki-laki, baik dalam keluarga, maupun dalam urusan-urusan di ruang publik. Terutama dalam perkawinan, perempuan yang sudah menikah sering dianggap harus patuh mutlak kepada suaminya, dan hanya melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh suaminya.

Padahal, menurut cendekiawan Islam, Nur Rofiah, konsep pernikahan dalam Islam mengatur kesetaraan serta kebaikan bagi kedua belah pihak, baik laki-laki maupun perempuan. Anggapan bahwa laki-laki merupakan kepala keluarga sehingga berhak berlaku semena-mena dan membuat istrinya tersiksa merupakan miskonsepsi dan cerminan sistem yang jahiliyah (bodoh) dan hadir dalam masyarakat atau orang-orang yang belum mengenal konsep mengenai spiritualitas yang sesungguhnya, ujar Nur.