Sederet Nama Penulis Perempuan yang Berkontribusi terhadap Pendidikan Literasi di Lingkungan Pesantren

Info Artikel

Sumber Original : alif.id
Penulis : Karimah Iffia Rahman
Tanggal Publikasi : Sabtu, 13 Mei 2023
Artikel Lengkap : Sederet Nama Penulis Perempuan yang Berkontribusi terhadap Pendidikan Literasi di Lingkungan Pesantren

Sebagai seorang santri, saya sangat menyukai perkembangan pendidikan literasi yang progresif di lingkungan pesantren saat ini. Mengapa tidak? Saat di pesantren, kebanyakan santri baik putra maupun putri tentunya terbiasa mengaji al-Qur’an dan mengkaji kitab kuning diantara padatnya jadwal harian pesantren.

Namun untuk mengikuti kelas menulis yang biasanya cenderung masuk dalam kegiatan ekstrakulikuler sekolah dan tidak bisa diikuti oleh semua santri karena dibatasi oleh peminatan maupun kuota agar ekstrakulikuler lainnya mendapatkan jumlah peserta didik. Maka, tidak semua santri dapat terbiasa menuliskan pengalaman maupun praktik baik selama hidup di dalam lingkungan pesantren.

Oleh sebab itu, hal inilah yang menyebabkan tidak sedikit pula masyarakat bertanya-tanya tentang bagaimana kehidupan di dalam pesantren. Namun dengan hadirnya penulis-penulis perempuan yang lahir dari lingkungan pesantren yang menuliskan sepenggal pengalaman dan ilmu yang didapat dari kehidupan di pesantren membuat masyarakat dapat melihat dibalik tabir yang selama ini nampak tertutup.

Berikut adalah beberapa penulis perempuan yang saat ini berkontribusi terhadap perkembangan pendidikan literasi yang progresif di lingkungan pesantren:

Masriyah Amva

Nyai Hj. Masriyah Amva adalah seorang ulama perempuan, penulis, sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Jambu al-Islamy, Babakan, Ciwaringin, Cirebon. Langkahnya menjadikan pesantrennya sebagai venue Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pertama pada tahun 2017 menjadikan perkembangan pendidikan literasi yang progresif khususnya di lingkungan pesantren terkait pemahaman gender di dalam Islam.

Pendidikan gender yang ia dapati pertama kali berasal dari orang tuanya yaitu al-maghfurlah Hj. Fariatul ‘Aini dan juga al-maghfurlah KH. Amrin Khanan. Kedua orang tuanya mendapati kenyataan bahwa keturunan mereka lebih banyak didominasi oleh anak-anak perempuan meskipun ada anak laki-laki. Oleh sebab itu Nyai Hj. Masriyah Amva dan seluruh saudaranya mendapatkan kesetaraan khususnya dalam hal pendidikan dari kedua orang tuanya.

Kini selain menjadi pemimpin di pondok pesantren, Nyai Hj. Masriyah Amva juga telah memiliki lebih dari 20 karya berupa novel maupun kumpulan puisi. Beberapa di antaranya adalah Ketika Aku Gila Cinta, Cara Mudah Menggapai Impian, dan Matematika Allah. . . . .