Islam dan Pekerja Rumah Tangga

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Oleh: KH. Husein Muhammad

                                                   


Indonesia acap disebut sebagai negeri subur makmur, karena potensi sumberdaya alamnya yang kaya raya. Tetapi sejak paling tidak sepuluh tahun terakhir, di negeri ini lebih dari 40 juta rakyatnya masuk dalam katagori miskin. Sebagian pengamat ekonomi menyebut angka seratus juta warga negara yang miskin. Dari jumlah itu, lebih dari lima juta warganya terpaksa mencari makan di negeri orang. Karena itu Indonesia juga terkenal sebagai Negara pengekspor pekerja migrant. Mereka dikenal dengan sebutan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), khusus untuk perempuan disebut TKW. Beberapa Negara penerima PRT antara lain Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan beberapa Negara di Timur Tengah lainnya, Malaysia, Hongkong, Korea, Jepang dan sebagainya. Para TKI/TKW pada umumnya bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT). Dari cucuran keringat para TKI itu, menurut laporan BPN2TKI untuk tahun 2008 saja negara memperoleh penghasilan (devisa) Rp. 130 triliun. Ini berarti bahwa mereka telah menyumbang kepada Negara dalam jumlah yang luar biasa besar. Atas dasar itu mereka mendapat predikat terhormat :”Pahlawan”.

PRT Mayoritas Perempuan

Fenomena warga Negara Indonesia yang bekerja sebagai PRT sebenarnya tidak hanya di luar negeri, melainkan juga di dalam negeri. Catatan Jurnal Perempuan, Januari 2005 menyebutkan bahwa “saat ini di Indonesia terdapat 2,5 juta orang yang menjadi PRT”. (JP, edisi 39). Penelitian lain menyebut angka lebih dari itu sampai 3 juta orang. Ini juga merupakan jumlah yang diketahui dan tercatat. Namun hal penting yang perlu dicatat adalah bahwa 90 % dari sekian juta PRT baik dalam negeri maupun luar negeri adalah perempuan.

Dewasa ini PRT, terutama PRT migran telah menjadi isu krusial di negeri ini. Hampir setiap hari kisah-kisah memilukan yang dialami mereka mencuat ke permukaan dan diperbincangkan masyarakat secara luas. Beberapa bulan lalu, berjuta-juta orang Indonesia mendengar, membaca dan menyaksikan kisah seorang perempuan bernama Siti Hajar. Seluruh media masa Indonesia memberikan perhatian yang cukup besar dengan membeberkan kisahnya berhari-hari. Siti Hajar adalah pekerja rumah tangga (PRT) yang menjadi korban kekerasan brutal dan takmanusiawi majikannya di Malaysia. Hampir semua bagian tubuh rusak, penuh luka akibat tusukan benda tajam dan terbakar api.

Siti Hajar bukanlah satu-satunya perempuan pekerja rumah tangga yang mengalami kekerasan brutal tadi. Telah ribuan PRT yang mengalami nasib memilukan seperti dia, meskipun kisahnya tidak dipublikasikan seramai Siti Hajar tadi. Kekerasan yang dialami mereka sebenarnya tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga mental dan ekonomi. Untuk PRT perempuan ditambah dengan bentuk kekerasan lain yang disebut sebagai kekerasan seksual. Secara mental mereka misalnya dicaci-maki. Mungkin setiap hari, bahkan boleh jadi setiap jam. Secara ekonomi, gaji mereka tidak dibayar, atau dibayar tetapi tidak utuh dan tidak tepat waktu atau tidak sesuai dengan perjanjian. Secara seksual mereka (khusus perempuan) dilecehkan dan tidak sedikit yang diperkosa. Kekerasan seksual yang dialami perempuan amat sering kita dengar. Pendeknya penderitaan mereka bisa berganda, dan hal itu dapat berlangsung panjang sepanjang masa kerja mereka. Sebagian di antara mereka tampaknya sudah tidak sanggup lagi menanggungnya dan memilih bunuh diri dengan caranya sendiri yang mungkin.

Kekerasan terhadap PRT dalam arti umum, lebih karena mereka dipandang sebagai orang-orang miskin, rendah dan lemah di hadapan majikannya. Mereka, baik laki-lali maupun perempuan diposisikan secara inferior sebagai warga kelas dua. Kaedah umum menyatakan bahwa relasi yang timpang antar manusia, termasuk antara PRT dan majikan berpotensi menimbulkan kekerasan.

Domestikasi Perempuan

Meskipun PRT bisa laki-laki dan bisa perempuan, akan tetapi fakta-fakta yang ditemukan menunjukkan bahwa mayoritas PRT adalah perempuan dan bukan laki-laki, sebagaimana sudah disebutkan. Sebutan PRT lalu hampir selalu identik dengan kelompok perempuan. Mengapa? Jawabannya bisa amat kompleks. Tetapi jawaban paling umum adalah bahwa perempuan merupakan entitas yang paling layak atau seharusnya bekerja pada ruang domestic. Sementara laki-laki merupakan entitas social yang paling layak dan seharusnya bekerja pada kehidupan luar rumah, ruang public dan politik. Pandangan umum ini mengakar dalam berbagai tradisi masyarakat di dunia, sejak ribuan tahun. Pembagian kerja seperti ini terkait dengan sejumlah asumsi, tetapi dikonstruksi sebagai norma yang baku. Pertama, bahwa perempuan merupakan makhluk yang lemah dan bodoh. Untuk manusia seperti ini sangatlah masuk akal dan adil jika diberi pekerjaan yang ringan dan tidak memerlukan kecerdasan otak. Pekerjaan domestic dianggap merupakan pekerjaan yang relative lebih ringan dibanding kerja public dan politik. Memasak, mencuci, membersihkan kamar dan mengasuh anak adalah pekerjaan yang tidak memerlukan pikiran dan intelektualitas yang tinggi. Sementara mencangkul, memikul dan mengurus masyarakat adalah pekerjaan berat dan diperlukan pikiran yang cerdas. Karena itulah maka, menurut pandangan itu PRT memang sudah menjadi kodrat bagi ruang kerja perempuan dan tidak bagi laki-laki.

Dalam konteks agama dan budaya, keberadaan perempuan di ruang domestic dipandang sebagai norma agama dan budaya. Ini terkait dengan fungsinya sebagai ibu rumah tangga yang harus mengurus anak-anak dan melayani suami. Kodrat perempuan dalam budaya adalah kasur, sumur dan dapur, atau masak, macak (berdandan) dan manak (melahirkan). Keberadaan perempuan bekerja di ruang domestic dengan begitu terkait erat dengan fungsi reproduksinya. Pada sisi lain dalam pandangan keagamaan kehadirannya di ruang public dianggap dapat menimbulkan masalah social yang serius. “Pekerjaan perempuan di luar rumah lebih banyak menimbulkan “fitnah”. Al Qur’an menurut pandangan ini telah menegaskan : “dan hendaklah kalian (perempuan) tetap tinggal di rumah, dan janganlah berperilaku seperti perempuan-perempuan jahiliyah dahulu”.(Q.S. al Ahzab, [33:33).

Wacana keagamaan dan budaya ini dihadirkan dan dibakukan dalam masyarakat melalui berbagai media dan sarana budaya, politik dan agama, sekali lagi, selama berabad-abad.

Perempuan: Beban Ganda dan Terdiskriminasi

Pandangan-pandangan di atas tentu saja merupakan hasil pemikiran yang tidak kritis. Fakta-fakta social menunjukkan bahwa kaum perempuan memiliki kemampuan fisik dan kecerdasan intelektual yang relative sama dengan laki-laki. Bahkan dalam banyak kenyataan hari ini, secara fisik dan mental perempuan justeru lebih tangguh daripada laki-laki. Ketika laki-laki menyerah dan tak berdaya terhadap tekanan ekonomi yang bertubi-tubi dan melelahkan, akibat krisis yang panjang, perempuan justeru tampil bekerja untuk menolong keluarganya dengan seluruh risiko yang harus ditanggungnya. Cerita banyak PRT memperlihatkan bahwa tugas dan kewajiban mereka sungguh amat berat. Meski dalam kontrak atau perjanjian telah ada aturan waktu, tetapi pada kenyataannya mereka bekerja tanpa kenal istirahat yang cukup. Kenyataan ini menunjukkan dengan jelas bahwa pekerjaan PRT sesungguhnya tidaklah ringan sebagaimana dipersepsi banyak orang selama ini.

Kehadiran perempuan di ruang public untuk kerja-kerja social, ekonomi, budaya dan politik telah menjadi bagian dari sejarah Islam masa Nabi dan para sahabatnya. Khadijah, isteri Nabi adalah pedagang besar yang sukses dan Aisyah, juga isteri beliau, disamping perempuan paling cerdas adalah pemimpin politik terkemuka pada masanya. Ini berarti bahwa perempuan bukan hanya entitas reproduktif tetapi juga produktif. 

Kita sungguh-sungguh tidak habis mengerti, meski konon secara norma agama dan tradisi, bahwa perempuan harus selalu berada di rumah bersama suami dan anak-anaknya dan tidak boleh pergi jauh meninggalkan mereka, tetapi realitas telah memperlihatkan kepada kta betapa banyak perempuan yang direlakan, kadang-kadang dipaksa keluarganya, termasuk suaminya, bekerja ke luar negeri dengan iringan doa untuk menjadi TKW berikut risikonya sendiri yang amat berat. Bukankah ini merupakan kenyataan pandangan yang ambigu?. Norma agama tampaknya tak mampu membendung arus besar PRT perempuan ke luar negeri.

Secara intelektual fakta-fakta social juga memperlihatkan bahwa perempuan telah banyak yang memiliki keahlian relative lebih baik dan lebih cerdas daripada laki-laki. Jika fakta masih menunjukkan jumlah laki-laki yang ahli lebih banyak dari perempuan, maka hal itu bukan soal potensi inheren perempuan, bukan karena kodrat perempuan, tetapi hasil dari konstruksi sosial yang ditanamkan berbad-abad yang membatasi ruang pendidikan kaum perempuan. Dan konstruksi inilah yang kemudian melahirkan ketidakadilan dan kekerasan sebagaimana yang sudah dikemukan. Ketidakadilan dan kekerasan merupakan pelanggaran terhadap hak-hak manusia.

Jika PRT dianggap manusia miskin dan berkualitas rendah, sementara perempuan juga dipandang sebagai entitas subordinat laki-laki, maka kekerasan terhadap PRT perempuan menjadi berganda, sebagai PRT dan sebagai perempuan itu sendiri. Maka kekerasan terhadap mereka adalah pelanggaran hak-hak asasi berganda.

Islam dan Hak-hak PRT

Manusia, dalam pandangan Islam adalah ciptaan Tuhan yang paling terhormat di banding ciptaan-Nya yang lain. Kehormatan ini di samping karena ia makhluk yang berpikir dan mencipta, adalah karena bekerja. Tiga hal ini merupakan milik khas manusia, dan menjadi cara mereka mempertahankan, meningkatkan dan memperoleh kesejahteraan hidup dan menyempurnakan eksistensinya. Al Qur’an menyatakan :


هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ


“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)". (Q.s.Hus, 61)


Oleh karena itu maka bekerja menjadi hak asasi manusia. Terdapat banyak ayat al Qur’an yang menyerukan manusia untuk bekerja di mana saja dan apa saja yang sesuai dengan kecenderungan dan pilihannya masing-masing. Beberapa di antaranya menyatakan :


هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ


“maka berjalanlah kalian di seluruh wilayah bumi tuhan dan makanlah dari rizkinnya, dan hanya kepada-nyalah kamu kembali”.(Q.S. al Mulk [67:15).


فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sepenuhnya agar kamu beruntung”.(Q.S. al Jumu’ah,[62:10).


قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا


“Katakanlah (hai Muhammad): “setiap orang bekerja menurut keadaannya masing-masing”.(Q.S. al Isra,[17:84].

Dari beberapa ayat al Qur’an ini kita bisa mengatakan bahwa bekerja adalah bagian dari pengabdian kepada Allah, ibadah, apapun pekerjaan tersebut, sepanjang dimaksudkan untuk membuatnya eksis dan dengan cara yang baik (halal). Bekerja juga bisa bernilai jihad fi sabilillah (berjuang di jalan Allah), jika ia dimaksudkan untuk membantu atau menolong keluarganya atau bahkan orang lain. Ini berlaku bagi siapa saja, laki-laki dan perempuan.

Perempuan, seperti halnya laki-laki dituntut untuk bekerja guna memperoleh penghidupan yang layak atau juga untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dan ia dapat memilih pekerjaannya di mana saja di ruang manapun sesuai dengan potensi dan kapasitas yang dimilikinya. Al Qur’an tidak menyebutkan bahwa pekerjaan perempuan adalah di ruang domestic dan tidak di ruang public. Perempuan dan laki-laki dapat bekerja di dalam maupun di luar rumah. Bekerja sebagai PRT, tidaklah lebih rendah daripada pekerjaan atau profesi yang lain selama dilakukan dengan cara dan untuk tujuan yang baik. “Barangsiapa yang bekerja dengan baik, laki-laki maupun perempuan, maka Tuhan memberinya kehidupan yang baik”.(Q.S. ).

PRT, demikian juga para pekerja yang dianggap rendah dan lemah lainnya dalam banyak hal merupakan orang-orang yang sesungguhnya memiliki peran dan jasa yang besar bagi majikannya. Betapa para pemilik rumah besar dan kaya raya akan menjadi pusing kepala manakala tidak ada para PRT yang menjaga dan mengurus segala keperluan dalam rumah tangganya. Mereka memiliki keahlian yang tidak dimiliki atau tidak mampu dilakukan para majikan. Mereka pada kenyataannya turut andil dalam keberhasilan atau kesukesan para majikan. Nabi dengan jelas menyatakan: “Innama tunsharun wa turqaquna bi dhu’afaikum”. (sesungguhnya kalian ditolong dan diberi rizki oleh orang-orang yang lemah di antara kalian).

Hadits ini cukup memberi petunjuk bagi kita untuk menghargai orang-orang yang kita anggap lemah baik atas dasar profesi maupun jenis kelamin. Maka bagaimanakah Islam mengatur relasi antara majikan dan PRT?.

Dari sumber-sumber Islam kita menemukan sejumlah petunjuk-petunjuk yang sangat menarik. Al Qur’an memang tidak menyebut secara rinci persoalan ini. Tetapi begitu banyak hadits nabi yang menguraikannya. Pertama bahwa para pekerja secara umum dan pekerja rumah tangga secara khusus adalah manusia sebagaimana yang lain. Ia wajib diperlakukan dengan baik sebagai layaknya manusia dan diberikan upah serta kebutuhan yang mencukupi. Sebuah hadits Nabi menyatakan :

“Siapa saja yang mempekerjakan orang, maka jika si pekerja tidak punya isteri, maka dia hendaknya mencarikan isteri baginya, jika dia tidak mempunyai pembantu, majikan hendaknya menyediakan pembantu, jika dia tidak mempunyai rumah majikan hendaknya menyediakan rumah)”.(HR.Abu Daud).

Dalam sabdanya yang lain Nabi saw mengatakan :

“Para PRT adalah saudara-saudaramu. Allah menjadikan mereka di bawah kekuasaanmu. Maka berilah mereka makan dari apa yang kamu makan, berilah pakaian seperti apa yang kamu pakai dan janganlah membebani pekerjaan yang tidak mampu mereka kerjakan”

Ibnu Mundzir,seorang ulama dan ahli hadits terkemuka mengatakan bahwa para ulama sepakat berpendapat bahwa pekerja rumah tangga wajib diberi makan seperti makanan majikannya. Ia juga wajib diberi pakaian yang layak, bahkan lebih utama jika diberikan yang lebih baik dari apa yang biasa dipakainya (berharga). Yang lebih utama lagi adalah mengajak mereka makan bersama. Jika tidak mau makan bersama mereka, maka berilah makanan yang dihidangkan itu kepada mereka satu atau dua.

Para PRT juga harus diperlakukan dengan santun, tidak boleh direndahkan, dan sama sekali tidak boleh dianggap layaknya budak. PRT adalah manusia merdeka. Nabi saw bahkan menganjurkan agar memanggil mereka layaknya anak atau anggota keluarganya sendiri. Kata Nabi suatu saat :

“Kalian semua adalah hamba-hamba Allah dan semua kaum perempuan adalah hamba-hamba Allah. Maka janganlah kalian menyebut mereka “budakku”, tetapi katakanlah “anak-anak mudaku”.(H.R. Muslim).

Hak PRT dan kewajiban majikan yang lain adalah bahwa mereka tidak boleh diperlakukan dengan cara-cara kekerasan. Nabi bersabda :

“Jangan kamu pukul hamba-hamba Allah yang perempuan”. Siti Aisyah, isterinya yang tercinta memberikan kesaksiannya dengan mengatakan : “Nabi  saw tidak pernah memukul isteri maupun pembantunya sama sekali”. Dan manakala makanan yang dimasaknya tidak cukup sedap, Nabi tidak pernah memarahinya.

Jika majikan melakukan kesalahan baik di sengaja atau tidak, maka etika Islam mewajibkannya meminta maaf. Nabi, meski tak pernah melukai pembantunya adalah orang yang paling banyak meminta maaf kepadanya. Ketika beliau ditanya berapa kali Nabi meminta maaf kepada pembantunya, beliau menjawab lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari. Ini adalah cara beliau membalas hutangbudinya kepada PRT sekaligus ingin menyenangkan hatinya. Nabi memang selalu mengucapkan terima kasih atas pelayanan mereka.

Lebih dari itu semua, hak-hak ekonomi PRT wajib dipenuhi majikan. Dalam salah satu sabdanya Nabi memperingatkan kepada para majikan agar memenuhi hak-hak pekerja sebagaimana yang sudah ditetapkannya dalam kontrak sebelumnya. Kelalaian majikan memberikan upah kepadanya adalah sebuah pengkhianatan. Tindakan majikan tidak hanya melanggar aturan Negara yang patur dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku, tetapi juga diancam Tuhan dengan hukuman di akhirat.


قال اللهُ : ثلاثةٌ أنا خصمهم يومَ القيامةِ: رجلٌ أعطى بي ثم غدر، ورجلٌ باع حرًّا فأكل ثمنَه، ورجلٌ استأجرَ أجيرًا فاستوفى منهُ ولم يُعْطِه أجرَه) [ رواه البخاري].


“Tiga orang yang akan menjadi musuh-Ku pada hari kiamat ; orang yang berjanji atas nama saya tetapi mengkhianati, orang yang menjual orang merdeka lalu hasil penjualannya dimakan, dan orang yang mempekerjakan orang lain tetapi tidak memberikan upahnya padahal dia (pekerja) telah memenuhi pekerjaannya”. (HR. Ahmad dan Bukhari. Baca ; al Syaukani, Nail al Awthar, VI/35-36).

“Nabi melarang mempekerjakan orang tanpa menjelaskan upahnya lebih dahulu”(HR. Ahmad. Lihat : ibid ,VI/32). Dalam hadits lain disebutkan :”Siapa saja yang mempekerjakan orang dia wajib menyebutkan upahnya”.(Nail Awthar, VI, hlm. 33).

Upah harus dibayarkan sebelum keringatnya kering. Nabi saw mengatakan :


أعطوا الأجير أجره قبل أن يجف عرقه


“Berikan segera upah pekerja sebelum keringatnya kering”. (al Jami’ al Shaghir,I/76).

Upah adalah hak pekerja dan kewajiban majikan. Jika majikan tidak memberinya upah, maka ia berhak menuntutnya. Sebagian ahli fiqh Islam bahkan menegaskan bahwa pekerja boleh menahan barang milik majikan yang dihasilkan dari kerjanya sebagai jaminan jika majikan tidak membayarnya tanpa harus menunggu keputusan pengadilan/pemerintah. (Al Kasani, Badai’ al Shanai’, IV/ 204).

PRT adalah manusia dengan seluruh kapasitas fisiknya yang terbatas. Ia berhak untuk mendapatkan istirahat yang cukup. Karena itu para majikan tidak dibenarkan membebani para pekerjanya di luar kemampuannya. Al Qur-an menyebutkan bahwa Tuhan sendiri tidak pernah membebani makhluk-Nya dengan kewajiban-kewajiban yang tidak mampu ditanggungnya: “Tuhan tidak membebani orang di luar kemampuannya”.(Q.S.  al Baqarah, 2:286).

Nabi Muhammad saw pernah menyatakan :

وإن لبدنك عليك حقاً


“Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak”.

Hak tubuh adalah hak untuk istirahat yang cukup, hak untuk sehat, hak untuk berdaya dan hak untuk dihormati.

Semua hak ini harus mendapat jaminan perlindungan dari kita semua,sebagai umat beragama. Sebab dalam etika Islam, seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Satu atas yang lain tidak dibernarkan menyakiti dan merendahkan. Apa yang menjadi penderitaan seseorang seharusnya adalah juga derita bagi saudaranya. Di atas itu Negara, terutama pemerintah harus menjadi ujung dari seluruh jaminan atas hak-hak warganya, apapun jenis kelaminnya, atau profesinya, termasuk PRT. Undang-undang Dasar 1945 Pasal 281 ayat (4) menyatakan bahwa “perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggungjawab Negara, terutama pemerintah”.  Sebelumnya UUD itu menegaskan bahwa “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapat perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif”(Pasal 281 ayat 2).