Inayah Rohmaniyah
Inayah Rohmaniyah lahir di Banyumas, pada tnggal 19 Oktober 1971. Aktivitasnya saat ini sebagai dosen tetap sekaligus Dekan (2020-2024) di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Saat Kongres KUPI, Inayah menjadi pembicara dengan tema perempuan dan radikalisme. Selain itu, ia juga tercatat sebagai peserta kongres.
Riwayat Hidup
Inayah mengenyam pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Madrasah Wathoniyah Islamiyah pada 1984-1987. Kemudian melanjutkan pendidikan Madrasah Aliyah di sekolah yang sama pada 1987-1990. Sembari mengenyam pendidikan formal tingkat Menengah dan Atas, Inayah juga menjadi santri di Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah, Kebarongan, Banyumas, sejak 1984-1990.
Setelah meyelesaikan pendidikan Menengah Atas, Inayah melanjutkan S1 Jurusan Tafsir dan Hadis di Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Kalijara Yogyakarta, pada 1990-1995. Kemudian ia melanjutkan jenjang S2 Program Studi Ilmu Filsafat di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 2001. Pada tahun 2004-2006 ia meraih gelar MA yang kedua di Jurusan Studi Agama, College of Liberal Art and Science, Arizona State University, Tempe, Arizona, USA. Dan, gelar doktor didapatkan Inayah di program Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), UGM/UIN Sunan Kalijaga/Universitas Kristen Duta Wacana, pada 2013.
Sejak 2018 Inayah menjadi Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia, sampai sekarang. Beberapa aktivitas lain yaitu sebagai Pengurus Harian Daerah (PHD) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY, 2013-sekarang; Pengawas Keuangan Yayasan Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah, Kebarongan, Kemranjen, Banyumas, 2017-sekarang; Anggota Komite Pengarah Komunitas Indonesia Adil dan Setara (KIAS), 2011-sekarang; Peneliti Arizona State University (ASU), Arizona USA, 2009-sekarang.
Tokoh dan Keulamaan Perempuan
Perkenalan Inayah dengan KUPI dijembatani oleh Lies Marcues Natsir, yang memintanya untuk menghadiri KUPI. Dan, secara kebetulan, Faqih Abdul Kodir memintanya menjadi presenter dengan tema keterlibatan perempuan dalam radikalisme. Mekipun seandainya tidak diminta hadir dan tidak diundang sebagai narasumber, Inayah tetap menghadiri KUPI karena merasa menjadi bagian dari gerakan perempuan. Jauh sebelum adanya KUPI, Inayah sudah sering kali berjejaring dan kerja sama dengan teman-teman Fahmina. Oleh sebab itu, ketika mengetahui adanya KUPI, seara otomatis ia merasa terpanggil. Dan ketika kongres berlangsung, Inayah berada di sana sebagai peserta dari awal sampai akhir.
Inayah melihat KUPI sebagai kumpulan perempuan-perempuan profesional yang bergerak bersama menuju satu tujuan. Ia mengapresiasi kejelihan KUPI membedakan dua istilah, yaitu ulama perempuan dan perempuan ulama. Dari situ, KUPI bukan hanya menampung ulama yang berjenis kelamin perempuan, tapi juga laki-laki, tentunya yang memiliki kesadaran terhadap isu perempuan.
Dalam sudut pandang Inayah, KUPI merupakan gerakan perempuan yang sistemik dan memiliki modal yang koprehensif. Ia menyebut komprehensif karena di dalam KUPI berisi perempuan-perempuan cerdik-pandai yang memiliki latar belakang keilmuan berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama. Artinya, KUPI bukan kumpulan perempuan yang dikumpulkan karena menguasai satu bidang ilmu tertentu. Berbagai latar belakang dapat dijumpai di dalam KUPI, seperti aktivis, dosen, nyai, dan lain sebagainya.
Setiap tokoh memiliki modal yang kuat untuk melakukan perubahan, memengaruhi dan menggerakkan masyarakat. Inayah mencontohkan sosok nyai. Baginya, nyai adalah sebutan untuk alim ulama yang mengetahui ilmu agama. Nyai juga memiliki modal kultural yang kuat, ia juga memiliki jaringan pesantren yang kuat. Nyai memiliki modal simbolik, yang memberikan mereka kekuasaan yang tidak bisa diukur dengan simbol jabatan. Begitu juga dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti aktivis, atau dosen, lanjut Inayah, mereka memiliki jaringan yang bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan perubahan. Kumpulan tokoh dengan lintas-latar belakang di dalam KUPI itu diyakini Inayah sebagai epistemik, yang memiliki kekuasaan untuk melakukan advokasi menuju perubahan wajah Indonesia yang inklusif, terutama terhadap gender.
Inayah menyoroti hilangnya perempuan sebagai ulama dalam Islam. Menurutnya, itu disebabkan karena sejarah Islam yang androsentris sehingga perempuan tenggelam dalam proses sejarah. Padahal, perempuan memiliki keulamaan yang kuat, dan secara kualifikasi memenuhi. Inayah menujuk para perempuan yang ada di KUPI adalah representasi orang-orang yang memenuhi kualifikasi ulama, dan mereka sedang menunjukkannya, yaitu menguasai ilmu agama. Kualifikasi lain yang perlu dimiliki ulama perempuan adalah perspektif tentang inklusivitas, sensitivitas gender, membela kemanusiaan, peka terhadap isu yang terjadi di masyarakat, dan ketajaman analisis sosial.
Secara khusus, Inayah menekankan perlunya analisis sosial karena itu berguna untuk mendeteksi ketidakadilan sosial, gender, dan isu kemanusiaan. Justru kualifikasi yang perlu ditingkatkan adalah analisis sosial dan leadership. Ulama perempuan harus memiliki jiwa leadership dan transformatif. Bagi Inayah, feminitas adalah kebutuhan utama untuk menjadi pemimpin yang transformatif. Ketika feminitas itu dimiliki, kepemimpinan akan menuju ke arah kolaboratif, bukan kompetitif. Ia merujuk konteks global, di mana mode kerjanya adalah kolaborasi, kerja sama, dan saling tawar-menawar menemukan titik temu, bukan kompetitif—sebagaimana corak maskulin.
Kepemimpinan yang bercorak feminin itu lebih mengedepankan dialog, terbuka untuk mendengarkan orang lain, melakukan perubahan secara bersama-sama. Itu adalah tipe kepemimpinan yang transformatif, dan mudah untuk didapatkan oleh perempuan. Inayah menekankan, perempuan sudah memiliki modal itu, dan KUPI tinggal menguatkannya. Lebih lanjut, ketika kualifikasi itu terpenuhi, KUPI sebagai gerakan akan mampu merebut kembali otoritas dan keulmaan perempuan.
KUPI sangat menjanjikan untuk melakukan gerakan perubahan. Namun Inayah menggarisbawah, bahwa ada masalah serius yang harus diselesaikan, khususnya di Indonesia, yaitu politisasi agama. Ini menjadi pekerjaan rumah yang serius, dan ia menanting KUPI sejauh mana bisa mengintervensi politisasi agama agar tidak merugikan siapa pun, terutama perempuan. Inayah mewanti-wanti bahwa simbol-simbol agama yang dipolitisasi bisa menimbulkan dampak yang diskriminatif. Ia mencontohkan RUU PKS yang sebenarnya memiliki tujuan baik, karena adanya politisasi agama menjadi tertutup semua kebaikannya. Ini menandakan politisasi agama yang berlangsung di Indonesia sangat kuat dan mampu menghancurkan segala usaha yang dilakukan KUPI, bahkan memecah-belahnya.
Agar misi menuju perubahan yang transformatif terwujud, dakwah yang disampaikan jangan sampai menantang kultur. Inayah mengapresiasi ulama perempuan yang ada di KUPI karena kemampuannya mendekati masyarakat dengan kultur dan masuk ke dalam kegiatan masyarakat. Kalau saja kultur itu diabaikan, maka masyarakat bisa resisten terhadapnya. Sembari ulama perempuan bergerak di wilayah kultural, ulama perempuan lain harus memayunginya melalui sistem agar perubahan terwujud. Secara makro, menurut Inayah, itu yang bisa dilakukan bersama-sama: membagi tugas antar-ulama perempuan untuk sebagian masuk dalam sistem dan sebagian lain bergerak di masyarakat dengan satu tujuan, yaitu mewujudkan visi-misi KUPI.
Inayah juga menekankan tugas individu untuk menjadi role model di dalam keluarga dan lingkungan. Ia sendiri adalah role model bagi mahasiswanya, karena aktivitasnya saat ini adalah sebagai dosen. Mahasiswanya selalu ia dorong untuk memiliki sensitivitas gender kepada laki-laki atau pun perempuan, karena pikiran patriarkh itu tidak hanya berada di kepala laki-laki, tapi juga ada kemungkinan di kepala perempuan. Tidak lupa juga ia mendorong mahasiswinya untuk memiliki jiwa kepemimpinan, tentunya yang transformatif. Ketika itu berhasil, proses itu akan menjadi snow ball yang terus menggelinding dan membesar, menciptakan banyak role model lainnya.
Ada peluang cukup besar bagi keulamaan perempuan, pemerintah juga mendukung. inayah berani mengatakan peluang besar karena adanya (program) moderasi beragama, yang membuat perempuan mampu membangun inklusifitas gender. Di masa yang terbuka ini, KUPI bisa bergerak ikut mewarnai masyarakat nusantara. Namun tantangannya adalah, pertama, politisasi agama. Seberapa besar pun KUPI memperjuangkan keadilan, tapi kalau politisasi agama masih ada perjuangan itu menjadi berat; apa lagi jika pemerintah, DPR, dan aparat negara lainnya ikut bermain di sana. Kedua, adalah radikalisasi agama, di mana perempuan selalu menjadi simbol gerakan-gerakan radikal, salah satu cirinya adalah dometifikasi perempuan. Ketiga, adalah hegemoni patriarki. Inayah menegaskan bahwa hegemoni patriarki bisa menjangkit perempuan, menempatkan dirinya sebagai supplementary: melayani laki-laki sebagai tuhan-tuhan kecil. Ketika ketiga tantangan itu berkelindan, pasti usaha apa pun akan sangat berat.
Inayah mendorong KUPI untuk serius mengatasi politisasi agama agar idealisme dapat dicapai bersama-sama.
Penghargaan atau Prestasi
Beberapa penghargaan dan prestasi yang berhasil dicapai oleh Inayah antara lain:
- Australian Award, Leadership for Senior Multi Faith Women Leaders 2019. Australia, 2019.
- Institute for Sexuality, Kyrgyzstan, 2017
- Institute for Sexuality, Sri Langka 2016
- Institute for Sexuality, Nepal, 2015
- Ford Foundation Scholarship for Dissertation Research, 2013.
- Ford Foundation Scholarship for Ph.D program at ICRS Yogyakarta, 2010-2012.
- Ford Foundation GLOBAL TRAVEL & LEARNING FUND (GTLF) for attending “IASSCS VIII International Conference: NAMING AND FRAMING: The Making of Sexual (In)Equality, Madrid, Spain, 06-09 July 2011
- Luce foundation for sandwich program at Duke University, North Carolina, USA, 2010.
- Indonesian International Foundation (IIF) scholarship for Ph.D program at ICRS Yogyakarta, 2007-2011.
- Fulbright Scholarship for Master Program in Religious Studies at Arizona State University, USA, 2003-2006.
Karya-Karya
Inayah banyak melahirkan karya akademik baik dalam bentuk artikel ilmiah maupun buku. Berikut adalah beberapa di antaranya:
- Kebijakan Work from Home dan Strukturasi Kekerasan dalam Rumah Tangga Pada Masa Covid-19 di Indonesia, 2021.
- The Construction of Sexuality and Reification of Burqa and Woman’s Body among Indonesian Migrant Workers from Indramayu and Lombok, Ministry of Religious Affairs, 2019.
- Analisis Gender dalam Pola Adaptasi Kelompok Muslim Radikal (HTI) di Gorontalo, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2018.
- Female Genital Mutilation/Cutting in Indonesia and Malaysia, Vital Voice, USA, 2018.
- Women Negotiating Power and Gender Relation: The Identity Construction of Indonesian Muslim Community in France, Ministry of Religious Affairs of Indonesia, 2017.
- Women Strengthening Pluralist Co-Existence in Contemporary Indonesia: Analyzing the Role of Komnas Perempuan and the Koalisi Perempuan, Notre Dame Project & Wake Forest University, USA, 2016-2018.
- Konstruksi Teologis dan Habitus Kemiskinan Pada Masyarakat Marginal (Analisis Gender dalam Habitus dan Praktek Kemiskinan Perempuan di Nusa Tenggara Barat), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016.
- Gender and Sexual Construction on Early Marriage in Yogyakarta and Nusa Tenggara Barat, 2015, Kementerian Agama Indonesia.
- Reimagining Islam: Salafi Networks in Muslim Southeast Asia, 2014-2015, Arizona State University.
- A Comparative Study of Muslim “Fringe Groups” in Indonesia and Malaysia (ASIAN OFFICE OF AEROSPACE RESEARCH AND DEVELOPMENT, 2013-2014).
- Women’s Practice and Wahhabism in Indonesia (Ph.D Dissertation, 2013).
- Salafism in Asia: History of Salafism in Southeast Asia (the US National Endowment for the Humanities, 2013-2014).
- The Impact of Teaching and Learning Process at Ushuluddin Studi Of Religion and Islamic Thought on The Construction of Students’ Understanding of Religion, funded by UIN Sunan Kalijaga Research Center, 2014.
- Women in Muslim Fundamentalist Movement (Yayasan Rumah Kitab In Collaboration with Oslo Coalition, 2013).
| Penulis | : | Miftahul Huda |
| Editor | : | Nor Ismah |
| Reviewer | : | Faqihuddin Abdul Kodir |