Badriyah Fayumi: Perbedaan revisi

1.150 bita ditambahkan ,  12 Oktober 2022 00.19
tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox person|name=Badriyah Fayumi|birth_date=Pati, 05 Agustus 1971|image=Berkas:Badriyah Fayumi.jpg|imagesize=220px|known for=* Buku Halaqah Islam: Mengaji Perempuan, HAM, dan Demokrasi (2004)|occupation=*Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an wal Hadits}}Badriyah perempuan kelahiran Pati 5 Agustus 1971, sejak kecil Badriyah hidup dengan kultur agama yang kuat, ayah dan ibunya merupakan pengasuh pondok pesantren Raudhatul Ulum dan juga tempat Badriyah menimba ilmu agama dan bersosialisasi nilai-nilai pesantren. Sewaktu kecil belajar dasar-dasar agama kepada ayah dan ibunya, sedangkan pendidikan formalnya ditempuh di sekolah dasar negeri dan Muallimat serta pernah menjadi ketua OSIS Putri serta mendirikan majalah Ukhuwwah. Kemudian melanjutkan pendidikan tingginya di IAIN Syarif Hidyatullah Jakarta (UIN Jakarta) jurusan Tafsir Hadist, Fakultas Ushuluddin dengan lulusan terbaik tahun 1995. Kemudian melanjutkan kembali ke Al-Azhar, Cairo, Mesir (lulus tahun 1998) dan kembali  tanah air menjadi dosen Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir.  
{{Infobox person|name=Badriyah Fayumi|birth_date=Pati, 05 Agustus 1971|image=Berkas:Badriyah Fayumi.jpg|imagesize=220px|known for=* Buku Halaqah Islam: Mengaji Perempuan, HAM, dan Demokrasi (2004)|occupation=*Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an wal Hadits}}Badriyah Fayumi lahir di Pati, pada tanggal 5 Agustus 1971. Ia adalah pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an wal Hadits. Saat ini ia juga menjadi Wasekjen Majelis Ulama Indonesia Pusat Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga.
 
Interaksi pertama Badriyah dengan Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia (KUPI) dimulai dengan menjadi bagian dari anggota [[Rahima]] pada saat [[Farha Ciciek]] menjadi direktur. Badriyah menjadi penulis ''Suara Rahima'' dan menjadi narasumber di beberapa kegiatan Rahima tentang ulama perempuan. Pada tahun 2000, Badriyah bersama Alai Najib terlibat dalam penelitian dan penulisan di PPIM UIN tentang ulama perempuan. Mereka meneliti dan menulis tentang perempuan dalam literatur hadits. Saat itu belum terpikirkan mengenai KUPI, namun istilah “ulama perempuan” sudah mulai digaungkan, diperjuangkan, dan dipergunakan dalam program kaderisasi ulama perempuan Rahima.
 
Rahima memiliki program [[Pengkaderan Ulama Perempuan]] di mana Badriyah juga terlibat sebagai fasilitator di dalam beberapa tadarrusnya. Ia juga menjadi anggota dewan Rahima. Pada tahun 2015 kepemimpinan Rahiman dipegang oleh Eridani. Ia meminta Badriyah untuk menjadi narasumber dalam satu acara workshop, bersama dengan narasumber yang lain. Ide pelaksanaan KUPI dari Rahima bermula saat workshop tersebut, selain adanya kesepakatan untuk bekerja sama dengan Alimat dan [[Fahmina]].
 
Sebagai ketua panitia pengarah KUPI tahun 2017, Badriyah terlibat secara penuh dari diskusi awal tentang KUPI, proses persiapan, pelaksanaan, bahkan pasca KUPI. Menurutnya, KUPI lahir dari proses yang panjang, dengan ide dan visi yang terus bergulir. Meskipun bukan organisasi struktural, melainkan institusionalisasi [[komunitas]] dan [[jaringan]], KUPI menjadi kekuatan kultural. Aktivitas dan kerja keulamaan disampaikan untuk menyerukan dan memperjuangkan Islam wasthiyah dengan ''tagline'' mendamaikan, mencerdaskan, dan mensejahterakan umat.  
 
== Riwayat Hidup ==
== Riwayat Hidup ==
Sejak kecil Badriyah hidup dengan kultur agama yang kuat. Ayah dan ibunya merupakan pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Ulum dan juga tempat Badriyah menimba ilmu agama dan mempraktikkan nilai-nilai pesantren. Ia belajar mengenai dasar-dasar agama kepada ayah dan ibunya, sementara pendidikan formalnya ditempuh di Sekolah Dasar Negeri dan Muallimat. Semasa sekolah, ia pernah menjadi ketua OSIS Puteri serta mendirikan majalah ''Ukhuwwah''.
Sejak kecil Badriyah hidup dengan kultur agama yang kuat. Ayah dan ibunya merupakan pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Ulum dan juga tempat Badriyah menimba ilmu agama dan mempraktikkan nilai-nilai pesantren. Ia belajar mengenai dasar-dasar agama kepada ayah dan ibunya, sementara pendidikan formalnya ditempuh di Sekolah Dasar Negeri dan Muallimat. Semasa sekolah, ia pernah menjadi ketua OSIS Puteri serta mendirikan majalah ''Ukhuwwah''.