15.259
suntingan
| Baris 7: | Baris 7: | ||
Kegiatan keseharian Maria yang memiliki keterkaitan dengan gerakan [[KUPI]], antara lain keterlibatannya sejak Pra KUPI hingga paska KUPI. Pertama, KUPI ini diselenggarakan oleh [[Alimat]], [[Fahmina]] dan [[Rahima]]. Sebelum KUPI digelar, Maria saat itu sebagai Sekjen Alimat. Sedangkan Alimat ini merupakan [[lembaga]] konsorsium dari beberapa lembaga keagamaan, ormas keagamaan dan organisasi perempuan, yang kelahirannya dibidani oleh Komnas Perempuan. Jauh sebelum pelaksanaan KUPI itu sudah ada gagasan untuk wadah pertemuan secara regular bagi [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]]. Terutama di Rahima, karena Rahima ini fokus pada pengkaderan/pendidikan [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] (PUP). Nah di PUP Rahima ini, Maria juga beberapa kali menjadi fasilitator, dan bersama-sama melakukan penguatan kapasitas untuk para peserta, dan ia sendiri mengaku mendapatkan manfaat secara individu sehingga menjadi lebih percaya diri. Lalu para [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] ini berhadapan langsung dengan masyarakat, di mana mereka menemukan banyak problem untuk bagaimana dicarikan solusinya secara keislaman, dan apa ruang untuk mewadahinya. | Kegiatan keseharian Maria yang memiliki keterkaitan dengan gerakan [[KUPI]], antara lain keterlibatannya sejak Pra KUPI hingga paska KUPI. Pertama, KUPI ini diselenggarakan oleh [[Alimat]], [[Fahmina]] dan [[Rahima]]. Sebelum KUPI digelar, Maria saat itu sebagai Sekjen Alimat. Sedangkan Alimat ini merupakan [[lembaga]] konsorsium dari beberapa lembaga keagamaan, ormas keagamaan dan organisasi perempuan, yang kelahirannya dibidani oleh Komnas Perempuan. Jauh sebelum pelaksanaan KUPI itu sudah ada gagasan untuk wadah pertemuan secara regular bagi [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]]. Terutama di Rahima, karena Rahima ini fokus pada pengkaderan/pendidikan [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] (PUP). Nah di PUP Rahima ini, Maria juga beberapa kali menjadi fasilitator, dan bersama-sama melakukan penguatan kapasitas untuk para peserta, dan ia sendiri mengaku mendapatkan manfaat secara individu sehingga menjadi lebih percaya diri. Lalu para [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] ini berhadapan langsung dengan masyarakat, di mana mereka menemukan banyak problem untuk bagaimana dicarikan solusinya secara keislaman, dan apa ruang untuk mewadahinya. | ||
Kebetulan waktu itu menurut Maria, Fatayat NU juga mempunyai program penguatan hak-hak perempuan. Kondisi tersebut persis problem yang pernah dialami Fatayat NU, yang kemudian sana dirasakan para alumni PUP Rahima. Ketika di Fatayat NU solusinya saat itu melakukan pertemuan rutin, sehingga masalah-masalah yang ditemui teman-teman di daerah, dicarikan dan menemuka solusinya. Pola itu menurut Maria hampir sama. Jadi para ulama perempuan yang sudah dilatih itu juga butuh forum perjumpaan secara regular agar bisa menyelesaikan masalah-masalah sosial yang mereka hadapi. Lalu pada tahun 2017, Rahima sudah angkatan yang ke sekian melaksanakan PUP di beberapa daerah, yang terus berkembang dan bertambah para alumninya. Akan tetapi para ulama perempuan itu tidak hanya yang dikader Rahima, tetapi banyak juga simpul-simpul ulama perempuan yang bergerak sendiri, maupun terinstitusi atau terwadahi beberapa lembaga. | Kebetulan waktu itu menurut Maria, Fatayat NU juga mempunyai program penguatan hak-hak perempuan. Kondisi tersebut persis problem yang pernah dialami Fatayat NU, yang kemudian sana dirasakan para alumni PUP Rahima. Ketika di Fatayat NU solusinya saat itu melakukan pertemuan rutin, sehingga masalah-masalah yang ditemui teman-teman di daerah, dicarikan dan menemuka solusinya. Pola itu menurut Maria hampir sama. Jadi para [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] yang sudah dilatih itu juga butuh forum perjumpaan secara regular agar bisa menyelesaikan masalah-masalah sosial yang mereka hadapi. Lalu pada tahun 2017, Rahima sudah angkatan yang ke sekian melaksanakan PUP di beberapa daerah, yang terus berkembang dan bertambah para alumninya. Akan tetapi para ulama perempuan itu tidak hanya yang dikader Rahima, tetapi banyak juga simpul-simpul ulama perempuan yang bergerak sendiri, maupun terinstitusi atau terwadahi beberapa lembaga. | ||
Pada kesempatan tersebut, disepakati yang terpenting adalah perspektifnya dulu. Bahwa ulama perempuan adalah yang punya perspektif gender, paham teks dan konteks, dan mereka selama ini sudah punya pengalaman untuk mengimplementasikannya, sehingga dari situ kemudian disepakati terselenggaranya KUPI pertama. Tapi persiapannya sudah dilakukan sejak tahun 2015, melalui Pra Kongres dan kegiatan-kegiatan di beberapa daerah, atau untuk menjaring isu apa yang dihadapi oleh teman-teman di daerah, yang kemudian diidentifikasi dan disepakati menjadi agenda KUPI di tahun 2017. | Pada kesempatan tersebut, disepakati yang terpenting adalah perspektifnya dulu. Bahwa ulama perempuan adalah yang punya perspektif gender, paham teks dan konteks, dan mereka selama ini sudah punya pengalaman untuk mengimplementasikannya, sehingga dari situ kemudian disepakati terselenggaranya KUPI pertama. Tapi persiapannya sudah dilakukan sejak tahun 2015, melalui Pra Kongres dan kegiatan-kegiatan di beberapa daerah, atau untuk menjaring isu apa yang dihadapi oleh teman-teman di daerah, yang kemudian diidentifikasi dan disepakati menjadi agenda KUPI di tahun 2017. | ||
| Baris 76: | Baris 76: | ||
|'''Reviewer''' | |'''Reviewer''' | ||
|''':''' | |''':''' | ||
|'''Faqihuddin Abdul Kodir''' | |'''[[Faqihuddin Abdul Kodir]]''' | ||
|} | |} | ||
[[Category:Tokoh]] | [[Category:Tokoh]] | ||
__NOEDITSECTION__ | __NOEDITSECTION__ | ||