Nyai Masriyah Amva, Perempuan Progresif Pemimpin Pesantren Tradisional

Info Artikel

Sumber Original : langit7.id
Penulis : Muhajirin
Tanggal Publikasi : Selasa, 02 Agustus 2022 - 17:33 WIB
Artikel Lengkap : Nyai Masriyah Amva, Perempuan Progresif Pemimpin Pesantren Tradisional

LANGIT7.ID, Jakarta - Pesantren lazimnya diasuh dan dipimpin oleh laki-laki yakni seorang Kiai. Apalagi pesantren salaf atau tradisional yang amat menjaga nilai-nilai Islam tradisional. Namun hal berbeda terjadi di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy. Pesantren tradisional ini dipimpin oleh seorang ulama perempuan yang biasa dipanggil Bu Nyai.

Pemimpin dan Pengasuh Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy adalah Nyai Hj. Masriyah Amva. Perempuan yang berasal dari keluarga Pesantren Babakan ini lahir pada 13 Oktober 1961 dari pasangan KH Amrin Hanan dan Ny. Hj. Fariyatul Aini. Nyai Masriyah menggantikan kepemimpinan suaminya, KH. Muhammad, setelah meninggal pada 1 November 2006.

Setelah wafatnya sang Kiai, pesantren Kebon Jambu mengalami goncangan dahsyat. Itu karena krisis kepercayaan masyarakat terhadap keberlangsungan pesantren tanpa sang Kiai.

Nyai Masriyah sangat galau menghadapi keadaan ini, apalagi para santri mulai meninggalkan pesantren. Dari situ dia tawakal dan berfikir perempuan juga bisa memimpin pesantren.

Perempuan Pemimpin

Mengutip Islamic Education Journal, Nyai Masriyah merupakan sosok perempuan pemimpin. Dia merupakan ibu dari tujuh anak remaja dan dewasa dan ibu rumah tangga. Dia mencukupi seluruh kebutuhan hidup keluarga serta membenahi rumahnya dengan apik.

Sejak muda, Nyai Masriyah tak pernah bergantung kepada orang lain, termasuk pada orangtua dan suaminya. Ia meminta bantuan orang lain hanya jika amat terpaksa. Semangat kemandirian selalu diperlihatkan. Dia tak pernah keberatan berlelah-lelah, berpeluh-peluh, dan menyingkirkan harga diri dalam usaha mencari pekerjaan.

Nyai Masriyah Amva adalah satu dari sekian banyak perempuan kepala keluarga yang sukses mengelola rumah tangga dan mendidik anak- anak.

Selain itu, Nyai Masriyah juga biasa memimpin para jemaah saat umroh ke tanah suci. Dia berkunjung ke Mekah hampir setiap tahun.

Baca Juga: Dari Cicit Nabi sampai Guru Imam Syafi'i: Ulama Perempuan dalam Sejarah Islam

Hal lain menjadikannya perempuan jenis langka, adalah bahwa Nyai Masriyah seorang nyai yang memiliki kemampuan literasi yang tinggi. Beliau mempunyai kemampuan menulis buku dengan waktu yang singkat. Buku- buku tersebut berisi hasil perenungannya yang mencekam dan mendebarkan, yang dituangkannya dalam bentuk prosa maupun puisi.

Konsep Kepemimpinan yang Menarik

Gaya kepemimpinan Nyai Masriyah Amva sangat karismatik. Setiap hari, dia selalu memberikan motivasi dan dorongan, dan mengajak semua orang untuk selalu mensyukuri nikmat Allah Ta’ala. Nyai Masriyah merupakan sosok wanita yang disegani dan dihormati.

Gaya Kepemimpinan Nyai Marsiyah juga demokratis. Beliau terbuka dan melibatkan semua elemen pondok demi kemajuan pesantren. Dia juga bersifat terbuka atas pilihan putra-putrinya dan selalu menghargai pendapat orang lain.

Dia juga memiliki pola kepemimpinan kolektif. Pesantren sudah berbentuk yayasan sebagai wadah dan menjadi organisasi impersonal, pembagian wewenang dalam tata laksana kepengurusan diatur secara fungsional, sehingga semua itu diwadahi dan digerakkan menurut tata aturan manajemen modern.

Nyai Masriyah Amva bukan orang yang otoriter. Akan tetapi, beliau sangat demokratis mau menerima usulan dan masukan dari bawahnnya, bersifat terbuka terhadap perubahan namun tetap selektif, bergerak dinamis, yang juga ditandai dengan banyaknya inovasi-inovasi yang ada di pesantren.

Baca Juga: LPDP Kemenkeu Kembali Buka Beasiswa Pendidikan Kader Ulama dan Perempuan

Sebagai seorang pemimpin pondok pesantren, Nyai Masriyah Amva memiliki cara pandang yang luas tentang tujuan pendidikan Pondok Pesantren. Dia menilai pendidikan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan agama harus bisa mencetak generasi-generasi yang islami, berahlakul karimah, beriman dan bertaqwa sebagaimana ajaran nabi.

Bukan hanya itu, pondok pesantren harus bisa menanamkan nilai-nilai agama yang kuat dengan selalu mengajak santrinya untuk selalu mengingat dan hanya mengharap rahmat dan ridho Allah disetiap langkah dan tujuan.

Pendidikan Pesantren juga harus bisa merubah cara pandang seseorang, untuk mencapai sesuatu tak hanya kerja keras tapi harus dibarengi dengan doa.

Tidak sampai disitu saja, dia selalu memikirkan kelangsungan pesantrennya ditengah- tengah globalisasi di segala bidang. Dia berpandangan, pendidikan pondok pesantren harus memberikan pendidikan, wawasan tentang dunia luar dengan berbagai cara untuk membekali para.

Bekal itu penting agar santri saat di luar siap terjun ke masyarakat luas. Pondok pesantren tidak boleh tertinggal dengan pendidikan formal-formal, maka diadakan banyak kegiatan ekstrakulikuler yang dapat membekali santrinya kelak terjun di masyarakat.

Baca Juga: Tepis Stigma Negatif, Film Pesantren Tayang di Bioskop Mulai 4 Agustus

Kepemimpinan Nyai Masriyah Amva, menarik minat Lola Amaria Production House untuk mengangkat kisahnya dan pesantren yang diasuhnya. Maka diproduksilah film dokumenter berjudul Pesantren dan akan tayang di layar lebar pada 4 Agustus mendatang.

(jqf)