15.259
suntingan
(←Membuat halaman berisi '=== Pendahuluan === Tema pesantren dan keulamaan perempuan di Indonesia merupakan tema yang sangat penting untuk didiskusikan dalam forum Kongres Ulama Perempuan Indon...') |
|||
| Baris 26: | Baris 26: | ||
Di sini penulis sebagai santri dapat ikut mengamati bagaimana perjalanan hidup Akang dengan Yayu (panggilan akrab untuk Bunda Nyai Hj. Masriyah) yang telah mengalami berbagai ujian kemudian dapat bangkit dan berkembang. Dari sini pula penulis dapat mengamati bagaimana sosok kiyai yang memberikan kesempatan kepada sang istri untuk berkiprah dan mengembangkan berbagai potensi jejaring social, yang kemudian begitu besar pengaruhnya dalam menopang dan menjadi kekuatan sang Istri di saat-saat terpuruk oleh karena ditinggal beliau. | Di sini penulis sebagai santri dapat ikut mengamati bagaimana perjalanan hidup Akang dengan Yayu (panggilan akrab untuk Bunda Nyai Hj. Masriyah) yang telah mengalami berbagai ujian kemudian dapat bangkit dan berkembang. Dari sini pula penulis dapat mengamati bagaimana sosok kiyai yang memberikan kesempatan kepada sang istri untuk berkiprah dan mengembangkan berbagai potensi jejaring social, yang kemudian begitu besar pengaruhnya dalam menopang dan menjadi kekuatan sang Istri di saat-saat terpuruk oleh karena ditinggal beliau. | ||
Ujian berat yang diterima keluarga besar Pesantren Kebon Jambu menjadi titik balik bagi Yayu untuk bangkit dan meraih kekuatan yang maha dahsyat, kekuatan dari Yang Maha tidak terbatas, Allah Swt. Kecanggihan spiritual yang selama ini telah dipupuknya mendorong terbukanya hijab-hijab keulamaan sosok Nyai Hj. Masriyah Amva, dengan terbitnya karya-karya beliau yang terus mengalir bagai mata air yang jernih serta mampu menyegarkan siapapun yang mau meneguknya. Tidak kurang dari 16 karya yang telah beliau hasilkan dalam kurun waktu yang tidak lebih dari tiga tahun. Karya-karya beliau kini telah menghiasi perpustakaan-perpustakaan pesantren dan terus menjadi inspirasi bagi siapapun yang ingin bangkit dari keterpurukan dan mengejar mimpi-mimpi masa depan. | Ujian berat yang diterima keluarga besar Pesantren Kebon Jambu menjadi titik balik bagi Yayu untuk bangkit dan meraih kekuatan yang maha dahsyat, kekuatan dari Yang Maha tidak terbatas, Allah Swt. Kecanggihan spiritual yang selama ini telah dipupuknya mendorong terbukanya hijab-hijab keulamaan sosok Nyai Hj. [[Masriyah Amva]], dengan terbitnya karya-karya beliau yang terus mengalir bagai mata air yang jernih serta mampu menyegarkan siapapun yang mau meneguknya. Tidak kurang dari 16 karya yang telah beliau hasilkan dalam kurun waktu yang tidak lebih dari tiga tahun. Karya-karya beliau kini telah menghiasi perpustakaan-perpustakaan pesantren dan terus menjadi inspirasi bagi siapapun yang ingin bangkit dari keterpurukan dan mengejar mimpi-mimpi masa depan. | ||
Karya-karya Nyai Hj. Masriyah dapat dijadikan sebagai bukti kuat respon pesantren terhadap keulamaan perempuan yang sangat menonjol. Beliau mampu tampil menjadi sosok yang dapat meneruskan perjuangan sang Suami mendidik para santri dan membesarkan keluarga yang sedang membutuhkan banyak perhatian orang tua. Karya-karya tulis beliau merupakan rekaman perjalanan spiritual yang dapat dijadikan sebagai inspirasi bagi siapapun sekaligus mencerminkan sosok keulamaan perempuan yang tangguh. | Karya-karya Nyai Hj. Masriyah dapat dijadikan sebagai bukti kuat respon pesantren terhadap keulamaan perempuan yang sangat menonjol. Beliau mampu tampil menjadi sosok yang dapat meneruskan perjuangan sang Suami mendidik para santri dan membesarkan keluarga yang sedang membutuhkan banyak perhatian orang tua. Karya-karya tulis beliau merupakan rekaman perjalanan spiritual yang dapat dijadikan sebagai inspirasi bagi siapapun sekaligus mencerminkan sosok keulamaan perempuan yang tangguh. | ||
| Baris 46: | Baris 46: | ||
''(Disampaikan dalam Diskusi Paralel [[Kongres Ulama Perempuan]] Indonesia di [[Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy]] Babakan Ciwaringin Cirebon, 26 April 2017).'' | ''(Disampaikan dalam Diskusi Paralel [[Kongres Ulama Perempuan]] Indonesia di [[Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy]] Babakan Ciwaringin Cirebon, 26 April 2017).'' | ||
[[Kategori:Diskursus]] | [[Kategori:Diskursus]] | ||
[[Kategori:Diskursus Kongres 1]] | |||