15.259
suntingan
| Baris 5: | Baris 5: | ||
'''[[Bashirotul Hidayah]],''' lahir di Jombang Jawa Timur pada tanggal 29 November 1977, adalah Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Amanah Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Ia juga menjabat sebagai Pengurus Harian Yayasan Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dan Wakil Rektor 2 Bidang Keuangan, Sarana Prasaranan, dan SDM di Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) Jombang, Jawa Timur. Selain itu, Ning Ida, demikian ia biasa dipanggil, juga menjadi Dosen Tetap di Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) Jombang Jawa Timur, Guru di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas, Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, dan Ketua Forum Dakwah (Fordaf) PW Fatayat NU Jawa Timur. | '''[[Bashirotul Hidayah]],''' lahir di Jombang Jawa Timur pada tanggal 29 November 1977, adalah Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Amanah Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Ia juga menjabat sebagai Pengurus Harian Yayasan Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dan Wakil Rektor 2 Bidang Keuangan, Sarana Prasaranan, dan SDM di Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) Jombang, Jawa Timur. Selain itu, Ning Ida, demikian ia biasa dipanggil, juga menjadi Dosen Tetap di Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) Jombang Jawa Timur, Guru di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas, Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, dan Ketua Forum Dakwah (Fordaf) PW Fatayat NU Jawa Timur. | ||
Kegiatan sehari-hari Bashirotul Hidayah yang memiliki keterkaitan dengan gerakan [[KUPI]], antara lain dalam kapasitasnya sebagai pimpinan dan dosen di IAIBAFA, ia telah mendorong terselenggaranya kegiatan diskusi dan seminar dengan mengangkat isu seputar hak dan posisi perempuan dalam perspektif [[khazanah]] kitab kuning. Sedangkan kegiatan yang telah terselenggara adalah: ''Pertama'', Seminar Meneladani Keluarga Nabi Muhammad SAW. dengan narasumber Dr. KH. Husein Muhammad pada tanggal 20 Nopember 2018. ''Kedua'', Webinar Nasional bertema “Pesantren, Kitab Kuning, dan Perempuan” dengan narasumber Dr. KH. Imam Nakhai (Komisioner Komnas Perempuan RI) pada tanggal 14 Juni 2020. ''Ketiga,'' Webinar Nasional Kajian [[Hukum Keluarga]] dengan narasumber Prof. Dr. Euis Nurlaelawati, Ph.D pada tanggal 07 Maret 2021. | Kegiatan sehari-hari Bashirotul Hidayah yang memiliki keterkaitan dengan gerakan [[KUPI]], antara lain dalam kapasitasnya sebagai pimpinan dan dosen di IAIBAFA, ia telah mendorong terselenggaranya kegiatan diskusi dan seminar dengan mengangkat isu seputar hak dan posisi perempuan dalam perspektif [[khazanah]] kitab kuning. Sedangkan kegiatan yang telah terselenggara adalah: ''Pertama'', Seminar Meneladani Keluarga Nabi Muhammad SAW. dengan narasumber Dr. KH. [[Husein Muhammad]] pada tanggal 20 Nopember 2018. ''Kedua'', Webinar Nasional bertema “Pesantren, Kitab Kuning, dan Perempuan” dengan narasumber Dr. KH. Imam Nakhai (Komisioner Komnas Perempuan RI) pada tanggal 14 Juni 2020. ''Ketiga,'' Webinar Nasional Kajian [[Hukum Keluarga]] dengan narasumber Prof. Dr. Euis Nurlaelawati, Ph.D pada tanggal 07 Maret 2021. | ||
Di samping menggalakkan kegiatan mimbar akademik dengan tema-tema perempuan dan keluarga, Ning Ida juga menginisiasi berdirinya [[lembaga]] bimbingan pra nikah di IAIBAFA pada tahun 2018 dengan nama “Sakinah Center”. Masih di bidang yang sama, ia juga telah melakukan restrukturasi Perguruan Tinggi dengan menempatkan dosen-dosen perempuan pada posisi yang strategis. Dua perempuan sebagai wakil rektor, satu perempuan sebagai dekan, dan tiga perempuan sebagai kaprodi. | Di samping menggalakkan kegiatan mimbar akademik dengan tema-tema perempuan dan keluarga, Ning Ida juga menginisiasi berdirinya [[lembaga]] bimbingan pra nikah di IAIBAFA pada tahun 2018 dengan nama “Sakinah Center”. Masih di bidang yang sama, ia juga telah melakukan restrukturasi Perguruan Tinggi dengan menempatkan dosen-dosen perempuan pada posisi yang strategis. Dua perempuan sebagai wakil rektor, satu perempuan sebagai dekan, dan tiga perempuan sebagai kaprodi. | ||
| Baris 11: | Baris 11: | ||
Di luar kegiatan akademik kampus, sebagai seorang pengajar di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas Bahrul ‘Ulum (Madrasah tertua di Jawa Timur, tempat studi KH. Abdurrahman Wahid/Gus Dur saat berada di Pondok Tambakberas), Ning Ida banyak mengajarkan tentang potensi dan posisi strategis yang dapat diperankan oleh perempuan. Ia banyak mengenalkan [[tokoh]]-tokoh perempuan inspiratif di dalam Al-Qur’an, seperti Maryam, Asiyah, dan para Istri Nabi, dan para mufasir perempuan, misalnya ‘Aisyah Bintu Syathi’. Ning Ida juga aktif berdakwah di masyarakat terutama dengan [[komunitas]] perempuan yang itu relevan dengan isu-isu atau kajian-kajian KUPI. Ia merasa berkewajiban untuk mengajarkan apa-apa yang telah ia dapatkan dari KUPI kepada keluarga dan lingkungannya. | Di luar kegiatan akademik kampus, sebagai seorang pengajar di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas Bahrul ‘Ulum (Madrasah tertua di Jawa Timur, tempat studi KH. Abdurrahman Wahid/Gus Dur saat berada di Pondok Tambakberas), Ning Ida banyak mengajarkan tentang potensi dan posisi strategis yang dapat diperankan oleh perempuan. Ia banyak mengenalkan [[tokoh]]-tokoh perempuan inspiratif di dalam Al-Qur’an, seperti Maryam, Asiyah, dan para Istri Nabi, dan para mufasir perempuan, misalnya ‘Aisyah Bintu Syathi’. Ning Ida juga aktif berdakwah di masyarakat terutama dengan [[komunitas]] perempuan yang itu relevan dengan isu-isu atau kajian-kajian KUPI. Ia merasa berkewajiban untuk mengajarkan apa-apa yang telah ia dapatkan dari KUPI kepada keluarga dan lingkungannya. | ||
== Riwayat Hidup == | |||
Ning Ida lahir di lingkungan pesantren, tepatnya Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Ia menerima pendidikan pertama kali dan terus berlangsung hingga saat ini dari kedua orang tuanya. Lingkungan dan tradisi pesantren memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan jati diri dan gagasan utama pemikirannya dalam menjalankan peran sebagai ''khadimat al-ummat''. Ia menempuh pendidikan formal dasarnya di dua tempat sekaligus, yaitu SDN Tambakrejo dan MI Bahrul Ulum Tambakberas. Selepas pendidikan dasar, ia melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah dan atas di Madrasah Mu’allimin-Mu’allimat Atas Bahrul ‘Ulum. Pendidikan sarjana ia selesaikan di UIN Sunan Ampel Surabaya (saat itu masih bernama IAIN), sementara pendidikan pasca sarjana ia tempuh di UNIPDU Jombang. | Ning Ida lahir di lingkungan pesantren, tepatnya Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Ia menerima pendidikan pertama kali dan terus berlangsung hingga saat ini dari kedua orang tuanya. Lingkungan dan tradisi pesantren memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan jati diri dan gagasan utama pemikirannya dalam menjalankan peran sebagai ''khadimat al-ummat''. Ia menempuh pendidikan formal dasarnya di dua tempat sekaligus, yaitu SDN Tambakrejo dan MI Bahrul Ulum Tambakberas. Selepas pendidikan dasar, ia melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah dan atas di Madrasah Mu’allimin-Mu’allimat Atas Bahrul ‘Ulum. Pendidikan sarjana ia selesaikan di UIN Sunan Ampel Surabaya (saat itu masih bernama IAIN), sementara pendidikan pasca sarjana ia tempuh di UNIPDU Jombang. | ||
Selain pendidikan formal, ia juga menempuh pendidikan non-formal di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah, di antaranya Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Pondok Pesantren Al-Quran Maunah, Sari Bandar Kidul, Kediri, Pondok pesantren Al-Quran, Robayan, Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah, Pondok Pesantren Salafiyah, Pethuk, Semen, Kediri, dan Pondok Pesantren Salafiyah Bustanul Arifin, Papar, Purwoasri, Kediri. | Selain pendidikan formal, ia juga menempuh pendidikan non-formal di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah, di antaranya Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Pondok Pesantren Al-Quran Maunah, Sari Bandar Kidul, Kediri, Pondok pesantren Al-Quran, Robayan, Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah, Pondok Pesantren Salafiyah, Pethuk, Semen, Kediri, dan Pondok Pesantren Salafiyah Bustanul Arifin, Papar, Purwoasri, Kediri. | ||
== Tokoh Dan Keulamaan Perempuan == | |||
Di antara kegiatan kemasyarakatan yang Ning Ida jalankan adalah Kajian Rutin Fikih Perempuan setiap Selasa Pahing. Kajian ini secara khusus diikuti oleh para perempuan di sekitar lingkungan pesantren di Tambakberas Jombang. Materi kajian berisi tentang persoalan fikih. Pola kajian dilakukan dengan menggunakan tanya jawab. Persoalan fikih perempuan yang bersifat keseharian dan kekinian diajukan oleh para peserta kajian. Persoalan yang masuk kemudian dicarikan jawaban berdasar pada khazanah kitab kuning dilengkapi dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an maupun Hadits. Di kota yang sama, setiap hari Ning Ida juga melakukan kajian kitab ''Mukasyafatul Qulub'' karya Hujjatul Islam, Abu Hamid Al-Ghazali. Kajian ini diikuti juga oleh para perempuan di sekitar pesantren. Berbeda dengan kajian fikih perempuan, dalam kajian ini fokus yang dibahas adalah persoalan akhlak. | Di antara kegiatan kemasyarakatan yang Ning Ida jalankan adalah Kajian Rutin Fikih Perempuan setiap Selasa Pahing. Kajian ini secara khusus diikuti oleh para perempuan di sekitar lingkungan pesantren di Tambakberas Jombang. Materi kajian berisi tentang persoalan fikih. Pola kajian dilakukan dengan menggunakan tanya jawab. Persoalan fikih perempuan yang bersifat keseharian dan kekinian diajukan oleh para peserta kajian. Persoalan yang masuk kemudian dicarikan jawaban berdasar pada khazanah kitab kuning dilengkapi dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an maupun Hadits. Di kota yang sama, setiap hari Ning Ida juga melakukan kajian kitab ''Mukasyafatul Qulub'' karya Hujjatul Islam, Abu Hamid Al-Ghazali. Kajian ini diikuti juga oleh para perempuan di sekitar pesantren. Berbeda dengan kajian fikih perempuan, dalam kajian ini fokus yang dibahas adalah persoalan akhlak. | ||
| Baris 31: | Baris 31: | ||
Selain itu, Ning Ida juga menemukan bahwa peran perempuan di lingkungannya masih dianggap sebagai peran nomor dua, baik di lembaga formal maupun non-formal. Misalnya, di lingkungan kerja Ning Ida masih jarang perempuan yang menempati posisi utama atau nomor satu. Karena kesempatan itu masih sedikit diberikan kepada perempuan, meskipun kapasitas dan kualitas yang dimiliki sama, atau bahkan melebihi. Fenomena ini menjadi tantangan bagi Ning Ida secara pribadi juga anggota KUPI di lingkungannya untuk terus bersama-sama memberikan pemahaman tentang keadilan terhadap perempuan, baik sebagai individu maupun sebagai anggota dalam kehidupan organisasi dan kemasyarakatan. | Selain itu, Ning Ida juga menemukan bahwa peran perempuan di lingkungannya masih dianggap sebagai peran nomor dua, baik di lembaga formal maupun non-formal. Misalnya, di lingkungan kerja Ning Ida masih jarang perempuan yang menempati posisi utama atau nomor satu. Karena kesempatan itu masih sedikit diberikan kepada perempuan, meskipun kapasitas dan kualitas yang dimiliki sama, atau bahkan melebihi. Fenomena ini menjadi tantangan bagi Ning Ida secara pribadi juga anggota KUPI di lingkungannya untuk terus bersama-sama memberikan pemahaman tentang keadilan terhadap perempuan, baik sebagai individu maupun sebagai anggota dalam kehidupan organisasi dan kemasyarakatan. | ||
== Penghargaan Dan Prestasi == | |||
Ning Ida memperoleh penghargaan-penghargaan, di antaranya dari perguruan tinggi tempat ia mengabdi, yaitu dinobatkan sebagai Dosen Terbaik dalam Bidang Pengembangan Pemikiran Perempuan (2019) dan Dosen Perempuan Inspiratif (2021). | Ning Ida memperoleh penghargaan-penghargaan, di antaranya dari perguruan tinggi tempat ia mengabdi, yaitu dinobatkan sebagai Dosen Terbaik dalam Bidang Pengembangan Pemikiran Perempuan (2019) dan Dosen Perempuan Inspiratif (2021). | ||
== Karya-Karya == | |||
Di antara karya akademik yang telah Ning Ida tulis adalah sebagai berikut: | Di antara karya akademik yang telah Ning Ida tulis adalah sebagai berikut: | ||