Bashirotul Hidayah: Perbedaan revisi

24 bita ditambahkan ,  20 Agustus 2021 10.53
tidak ada ringkasan suntingan
Baris 3: Baris 3:
*Ketua Forum Dakwah (Fordaf) PW Fatayat NU Jawa Timur}}
*Ketua Forum Dakwah (Fordaf) PW Fatayat NU Jawa Timur}}


'''Bashirotul Hidayah,''' lahir di Jombang Jawa Timur pada tanggal 29 November 1977, adalah Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Amanah Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Ia juga menjabat sebagai Pengurus Harian Yayasan Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dan Wakil Rektor 2 Bidang Keuangan, Sarana Prasaranan, dan SDM di Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) Jombang, Jawa Timur. Selain itu, Ning Ida, demikian ia biasa dipanggil, juga menjadi Dosen Tetap di Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) Jombang Jawa Timur, Guru di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas, Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, dan Ketua Forum Dakwah (Fordaf) PW Fatayat NU Jawa Timur.   
'''[[Bashirotul Hidayah]],''' lahir di Jombang Jawa Timur pada tanggal 29 November 1977, adalah Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Amanah Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Ia juga menjabat sebagai Pengurus Harian Yayasan Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dan Wakil Rektor 2 Bidang Keuangan, Sarana Prasaranan, dan SDM di Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) Jombang, Jawa Timur. Selain itu, Ning Ida, demikian ia biasa dipanggil, juga menjadi Dosen Tetap di Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) Jombang Jawa Timur, Guru di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas, Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, dan Ketua Forum Dakwah (Fordaf) PW Fatayat NU Jawa Timur.   


Kegiatan sehari-hari Bashirotul Hidayah yang memiliki keterkaitan dengan gerakan [[KUPI]], antara lain dalam kapasitasnya sebagai pimpinan dan dosen di IAIBAFA, ia telah mendorong terselenggaranya kegiatan diskusi dan seminar dengan mengangkat isu seputar hak dan posisi perempuan dalam perspektif [[khazanah]] kitab kuning. Sedangkan kegiatan yang telah terselenggara adalah: ''Pertama'', Seminar Meneladani Keluarga Nabi Muhammad SAW. dengan narasumber Dr. KH. Husein Muhammad pada tanggal 20 Nopember 2018. ''Kedua'', Webinar Nasional bertema “Pesantren, Kitab Kuning, dan Perempuan” dengan narasumber Dr. KH. Imam Nakhai (Komisioner Komnas Perempuan RI) pada tanggal 14 Juni 2020. ''Ketiga,'' Webinar Nasional Kajian [[Hukum Keluarga]] dengan narasumber Prof. Dr. Euis Nurlaelawati, Ph.D pada tanggal 07 Maret 2021.   
Kegiatan sehari-hari Bashirotul Hidayah yang memiliki keterkaitan dengan gerakan [[KUPI]], antara lain dalam kapasitasnya sebagai pimpinan dan dosen di IAIBAFA, ia telah mendorong terselenggaranya kegiatan diskusi dan seminar dengan mengangkat isu seputar hak dan posisi perempuan dalam perspektif [[khazanah]] kitab kuning. Sedangkan kegiatan yang telah terselenggara adalah: ''Pertama'', Seminar Meneladani Keluarga Nabi Muhammad SAW. dengan narasumber Dr. KH. Husein Muhammad pada tanggal 20 Nopember 2018. ''Kedua'', Webinar Nasional bertema “Pesantren, Kitab Kuning, dan Perempuan” dengan narasumber Dr. KH. Imam Nakhai (Komisioner Komnas Perempuan RI) pada tanggal 14 Juni 2020. ''Ketiga,'' Webinar Nasional Kajian [[Hukum Keluarga]] dengan narasumber Prof. Dr. Euis Nurlaelawati, Ph.D pada tanggal 07 Maret 2021.   
Baris 23: Baris 23:
Ning Ida juga memiliki kajian rutin di luar kota. Di antaranya adalah kajian kitab ''Irsyadul ‘Ibad'' di Madura. Kajian kitab karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibary yang diikuti oleh kelompok perempuan ini telah berjalan selama lima tahun dan masih berlangsung hingga saat ini. Selain di Jawa Timur, Ning Ida memiliki aktivitas kajian di Jawa Barat, tepatnya di kota Bekasi. Kajian rutin khusus perempuan ini mulai berlangsung sejak tahun 2019. Di samping kajian offline, Ning Ida juga menjadi narasumber kajian online dengan menggunakan kitab ''al-Sittin al-Adaliyah'' karya Kyai [[Faqihuddin Abdul Kodir]] dan kitab ''Irsyadul ‘Ibad'' yang diselenggarakan oleh PW Fatayat NU Jawa Timur. Ning Ida juga mengasuh ratusan anak-anak yatim dan menyekolahkan mereka mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.
Ning Ida juga memiliki kajian rutin di luar kota. Di antaranya adalah kajian kitab ''Irsyadul ‘Ibad'' di Madura. Kajian kitab karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibary yang diikuti oleh kelompok perempuan ini telah berjalan selama lima tahun dan masih berlangsung hingga saat ini. Selain di Jawa Timur, Ning Ida memiliki aktivitas kajian di Jawa Barat, tepatnya di kota Bekasi. Kajian rutin khusus perempuan ini mulai berlangsung sejak tahun 2019. Di samping kajian offline, Ning Ida juga menjadi narasumber kajian online dengan menggunakan kitab ''al-Sittin al-Adaliyah'' karya Kyai [[Faqihuddin Abdul Kodir]] dan kitab ''Irsyadul ‘Ibad'' yang diselenggarakan oleh PW Fatayat NU Jawa Timur. Ning Ida juga mengasuh ratusan anak-anak yatim dan menyekolahkan mereka mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.


Ning Ida mendengar tentang KUPI pertama kali pada tahun 2017, setelah pelaksanaan Kongres Pertama di Cirebon. Ia merasa antusias mengikuti dinamika perkembangan KUPI. Ia melihat bahwa di Indonesia kisah mengenai tokoh ulama perempuan tidak banyak diceritakan sehingga para ulama perempuan seakan tidak berperan secara signifikan bagi kemajuan bangsa. Padahal, apabila menengok sejarah dan realitas di masyarakat, tak terhitung jumlah ulama perempuan yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan dan kemajuan bangsa, khususnya umat Islam. Melihat kondisi Indonesia saat ini, peran ulama perempuan sangat diperlukan, terutama untuk melakukan pembacaan atas teks-teks keagamaan dari perspektif perempuan, untuk melengkapi sekaligus menghindari pembacaan teks-teks keislaman yang masih patriarkis dan bias gender.
Ning Ida mendengar tentang KUPI pertama kali pada tahun 2017, setelah pelaksanaan Kongres Pertama di Cirebon. Ia merasa antusias mengikuti dinamika perkembangan KUPI. Ia melihat bahwa di Indonesia kisah mengenai tokoh [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] tidak banyak diceritakan sehingga para ulama perempuan seakan tidak berperan secara signifikan bagi kemajuan bangsa. Padahal, apabila menengok sejarah dan realitas di masyarakat, tak terhitung jumlah ulama perempuan yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan dan kemajuan bangsa, khususnya umat Islam. Melihat kondisi Indonesia saat ini, peran ulama perempuan sangat diperlukan, terutama untuk melakukan pembacaan atas teks-teks keagamaan dari perspektif perempuan, untuk melengkapi sekaligus menghindari pembacaan teks-teks keislaman yang masih patriarkis dan bias gender.


Ning Ida kemudian terlibat di dalam kelompok kajian yang dibentuk bersama Fatayat NU dan Women Crisis Center (WCC) di Jombang untuk meneruskan pemikiran-pemikiran KUPI di lingkungannya. Kajian Fatayat NU merupakan kajian rutin keagamaan yang membahas tentang tema-tema perempuan, dari tingkat ranting, cabang, hingga wilayah. Sementara dengan WCC Jombang, Ning Ida membentuk kajian berkala mendiskusikan tema-tema perempuan dan anak. Ning Ida juga mewakili perempuan pesantren bermitra dengan WCC dalam pendampingan psikis korban kekerasan.
Ning Ida kemudian terlibat di dalam kelompok kajian yang dibentuk bersama Fatayat NU dan Women Crisis Center (WCC) di Jombang untuk meneruskan pemikiran-pemikiran KUPI di lingkungannya. Kajian Fatayat NU merupakan kajian rutin keagamaan yang membahas tentang tema-tema perempuan, dari tingkat ranting, cabang, hingga wilayah. Sementara dengan WCC Jombang, Ning Ida membentuk kajian berkala mendiskusikan tema-tema perempuan dan anak. Ning Ida juga mewakili perempuan pesantren bermitra dengan WCC dalam pendampingan psikis korban kekerasan.