Belajar dari Sang Nyai Masriyah Amva: Perbedaan revisi

tidak ada ringkasan suntingan
(←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://www.kompas.id/baca/nama-peristiwa/2019/09/26/nyai-masriyah-amva-besar-karena-menghargai-perbedaan kompas.id] |- |Pe...')
 
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://www.kompas.id/baca/nama-peristiwa/2019/09/26/nyai-masriyah-amva-besar-karena-menghargai-perbedaan kompas.id]
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|ABDULLAH FIKRI ASHRI
|Editor : Triwinarno
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|26 September 2019 13:59 WIB
|23/10/2020 05:15
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://www.kompas.id/baca/nama-peristiwa/2019/09/26/nyai-masriyah-amva-besar-karena-menghargai-perbedaan Nyai Masriyah Amva: Kita Besar karena Menghargai Perbedaan]
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Belajar dari sang Nyai Masriyah Amva]
|}Pengasuh Pondok Pesantren Kebon Jambu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Nyai [[Masriyah Amva]] (57) kerap ditanyai tentang sikapnya terkait berbagai pertentangan, mulai pemilihan presiden hingga film berlatar belakang pesantren yang dianggap kontroversial. Jawabannya pun selalu sama: mendukung yang pro dan kontra. Dengan menghargai perbedaan, ia merasa berjiwa besar.  
|}PESANTREN menjadi salah satu [[lembaga]] pendidikan, khusus agama Islam. Tidak heran jika satu pesantren terkadang memiliki ratusan hingga ribuan santri yang rela mondok untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.  


”Lama-lama, nanti santri Kebon Jambu kumpul terus berdiri pegang poster atau spanduk berisi, kami mendukung ulama yang pro dan kontra,” ujar Nyai Masriyah dalam obrolan bersama ''Kompas'', Minggu (22/9/2019) sore di kediamannya, Kecamatan Ciwaringin, Cirebon. Pernyataan itu menanggapi perbedaan pendapat sejumlah ulama terkait film berlatar belakang pesantren yang bakal tayang di layar kaca. . . . . .
Jika pada umumnya pesantren identik dengan penokohan seorang kiai, beda halnya dengan Pesantren Kebon Jambu yang berada di kawasan kampung santri Desa Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat.
 
Di pesantren ini justru seorang nyailah yang menjadi pemimpin utama.
 
"Dulunya pesantren ini dipimpin oleh suami saya, tetapi beliau wafat. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kepemimpinan pesantren ini," ungkap Nyai [[Masriyah Amva]] pemimpin Pesantren Kebon Jambu.
 
Keputusan Sang Nyai untuk menjadi pimpinan pesantren bukanlah tanpa alasan. Masih belum siapnya penerus suami untuk memimpin pesantren menjadi dasar utama diambilnya keputusan tersebut.
 
"Saya ingat waktu awal-awal suami meninggal satu per satu santri pergi meninggalkan pesantren ini. Orangtua mereka datang dan izin untuk memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain," ujarnya kembali.
 
Masa-masa itu menjadi masa yang kelam baginya. Hidup dalam keterpurukan yang akhirnya membuat ia sadar bahwa hanya Sang Mahakuasalah yang dapat menolongnya. Perlahan, tapi pasti Masriyah Amva mampu membawa pesantrennya bangkit dalam keterpurukan. Bahkan kini Pondok Kebon Jambu menjadi salah satu tempat pembelajaran agama favorit.
 
Apa sebenarnya yang menjadi kekuatan Nyai Masriyah Amva memimpin Pesantren Kebon Jambu yang mayoritas santrinya didominasi oleh pria? Lalu bagaimana respons dirinya terhadap anggapan jika seorang wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin?
 
Cerita sang Nyai dirangkum dalam film dokumenter berjudul Pesan dari sang Nyai yang tayang dalam program Melihat Indonesia di Metro TV pada Minggu, 25 Oktober 2020 pukul 10.30 WIB. (RO/H-1)
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]