|
|
| Baris 202: |
Baris 202: |
| == Referensi == | | == Referensi == |
| [1] Taqiyuddin Abi Bakar ibn Muhammad al-Husaini, ''Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar,'' Beirut: Dar al-Fikr, 1994, Juz II, hlm. 31 | | [1] Taqiyuddin Abi Bakar ibn Muhammad al-Husaini, ''Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar,'' Beirut: Dar al-Fikr, 1994, Juz II, hlm. 31 |
|
| |
| [2] Abi Yahya Zakaria al-Anshari, ''Fath al-Wahhab: Syarh Manhaj al-Thullab,'' Beirut: Dar al-Fikr, Juz II, hlm. 30; Syatha al-Dimyathi, ''I’anah al-Thalibin,'' Semarang: Thoha Putera, Tanpa Tahun, Juz III, hlm. 254.
| |
|
| |
| [3] Tradisi pernikahan yang terjadi tahun 1950-an mungkin saja merupakan tradisi yang sudah berlangsung lama sebelumnya. Namun data yang tersedia yang dilaporkan Geertz, antropolog Amerika, adalah saat ia melakukan penelitian di Jawa pada tahun 1950-an. Kondisi sebelum tahun 1950an sangat mungkin lebih buruk mengingat Indonesia dijajah oleh Belanda selama sekitar 350 tahun dan oleh Jepang sekitar tiga setengah tahun serta baru mencapai kemerdekaan pada tahun 1945. Di masa penjajahan, keadaan rakyat Indonesia sangat terpuruk. Mereka dieksploitasi baik harta ataupun tenaganya untuk kepentingan penjajah sehingga mereka jauh dari sejahtera apalagi terdidik. Hanya sebagian kecil saja masyarakat Indonesia yang dapat mengenyam pendidikan. Di awal kemerdekaan, situasi politik di Indonesia masih belum stabil, sehingga perekonomian yang sangat berimplikasi terhadap kesejahteraan rakyat juga masih sangat buruk.
| |
|
| |
|
| |
| [4] Keterangan: semua nama yang digunakan untuk merujuk narasumber bukan nama yang sebenarnya.
| |
|
| |
| [5] Susan Blackburn and Sharon Bessell, “Marriageable age: political debates on early marriage in twentieth-century Indonesia”, ''Indonesia'', No. 63 (April 1997), hlm. 112.
| |
|
| |
|
| |
| [6] Namun ini tidak berarti bahwa tradisi kawin muda sudah tidak ada. Tradisi kawin muda atau pernikahan dini masih terjadi sampai saat ini. Data Susenas 2010 yang dilakukan BPS menunjukkan bahwa 1.59% perempuan berumur 10-17 tahun berstatus kawin. Dari jumlah tersebut, 2.17% terjadi di pedesaan, sedangkan di perkotaan 0.89%. Selain di pedesaan, kawin muda juga banyak terjadi pada masyarakat miskin dan kurang berpendidikan. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, kawin muda rentan terhadap perceraian. Dari 1.59% perempuan yang menikah muda, 3.49% telah bercerai (Alimoeso, 2012: 12).
| |
|
| |
| [7] UUP merupakan hasil kompromi banyak pihak, seperti kelompok nasionalis, agama [dalam hal ini anggota dewan dari Partai Persatuan Pembanguan dan [[tokoh]] agama Islam] serta organisasi perempuan saat itu yang berjuang sejak awal abad kedua puluh untuk dapat memiliki undang-undang pernikahan yang bisa melindungi hak perempuan yang rentan terhadap banyak praktek tindakan kesewenang-wenangan baik dari orang tua sebelum menikah ataupun dari suami setelah menikah. UUP juga merupakan ijtihad nasional dengan banyak merujuk pada fiqih klasik, namun dilakukan penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat Indonesia saat itu. Misalnya, walaupun fiqih klasik kebanyakan tidak mengharuskan pencatatan pernikahan dan tidak menentukan batas minimal usia nikah, UUP menentukan batas usia nikah 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki dan mengharuskan pencatatan pernikahan untuk melindungi orang yang terlibat di dalamnya terutama perempuan. Selain itu, fiqih klasik tidak menggunakan intervensi pengadilan agama dalam kasus perceraian dan poligami. Namun karena dalam prakteknya di Indonesia saat itu banyak kasus perceraian sepihak dan poligami yang semena-mena, maka UUP mengaturnya dengan melibatkan pengadilan agama untuk menghindari kesewenang-wenangan tersebut.
| |
|
| |
| Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang masih bersikeras mengikuti fiqih klasik yang dihasilkan berabad-abad yang lalu untuk konteks masyarakat abad tersebut; seakan-akan kitab fiqih klasik itu adalah kitab suci yang kebenarannya abadi sehingga mereka tidak mau menerima ketentuan yang berbeda dari fiqih klasik. Masih banyak di antara masyarakat Indonesia yang tidak mau taat mengikuti UUP dengan alas an bahwa UUP adalah hukum sekuler, bukan hukum Islam. Mereka seakan tidak menyadari bahwa bumi yang mereka pijak adalah bumi Indonesia dan hukum yang ada di Indonesia dibuat untuk kemaslahatan manusia Indonesia. UUP sebagai produk ijtihad bersama masyarakat Indonesia atau fiqih Indonesia, idealnya diterima dan dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia sebagai produk hukum Islam. Saya sependapat dengan Abdullah Saeed yang mendefinisikan hukum Islam secara luas dan inklusif yaitu hukum apa pun yang tidak bertentangan dengan kepercayaan yang fundamental sebagai seorang Muslim dan berdasarkan pada prinsip-prinsip umum hukum Islam seperti kesetaraan dan keadilan. Lihat Abdullah Saeed, “Islamic Law and practice: a pragmatic view”, makalah yang disampaikan pada seminar ‘Islamic Law and the West: can secular laws and Shariah co-exist?’ Melbourne Law School, University of Melbourne, 19 September 2002.
| |
|
| |
|
| |
| .
| |
|
| |
| [8] Syatha al-Dimyathi, ''I’anah al-Thalibin,'' Juz III, hlm. 274.
| |
|
| |
| [9] Al-Syairazi, ''al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafii,'' Semarang: Maktabah wa Mathba’ah Thaha Putera, Tanpa Tahun, Juz II, hlm. 33. Bandingkan dengan Abdul Wahhab ibn Ahmad ibn Ali al-Anshari al-Sya’rani, ''al-Mizan al-Kubra,'' Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa Tahun, Juz II, hlm. 108.
| |
|
| |
| [10] Al-Syairazi, ''al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafii,'' Juz II, hlm. 35.
| |
|
| |
| [11] Jika ulama Syafiiyah menetapkan wali nikah sebagai rukun nikah, maka ulama Hanabilah dan Hanafiyah menetapkannya sebagai syarat nikah. Abdurrahman al-Juzairi, ''al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah,'' Kairo: al-Maktab al-Tsaqafi, 2000, Juz IV, hlm. 40.
| |
|
| |
| [12] Ibn Rusyd, ''Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid,'' Mesir: Dar al-Kutub al-Islamiyah, Tanpa Tahun, Juz II, hlm. 9.
| |
|
| |
| [13] Taqiyuddin Abi Bakar ibn Muhammad al-Husaini, ''Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar,'' Juz II, hlm. 43.
| |
|
| |
| [14] Abdurrahman al-Juzairi, ''al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah,'' Kairo: al-Maktab al-Tsaqafi, 2000, Juz IV, hlm. 48.
| |
|
| |
| [15] Namun al-Syairazi berkata bahwa seorang ayah atau kakek punya hak untuk mengawinkan anak gadis atau cucu perempuannya dengan laki-laki yang dikehendaki para wali itu, baik perempuan itu masih kecil atau sudah dewasa (''shaghiratan kanat aw kabiratan'').
| |
|
| |
| [16] Ulama Hanafiyah berkata bahwa sekiranya wali mujbir itu menikahkan si perempuan dengan laki-laki yang tak layak dan tak sebanding, maka hakim boleh memisahkan antara keduanya. Kufu’ menurut ulama Hanafiyah berarti kesamaan laki-laki dan perempuan dalam hal; keturunan, pekerjaan, kekayaan, kemusliman, ketundukan pada agama, merdeka (bukan budak). Baca Abdurrahman al-Juzairi, ''al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah,'' Kairo: al-Maktab al-Tsaqafi, 2000, Juz IV, hlm. 41 & 48. Menurut Imam Syafii, kufu’ dilihat dari lima hal; agama (''al-din''), keturunan (''al-nasab''), pekerjaan (''al-shun’ah''), merdeka (''al-hurriyah''), tidak cacat (''al-khulush min al-‘uyub''). Sementara menurut Imam Malik, kufu’ perlu dilihat hanya dalam satu aspek, yaitu agama. Baca Abdul Wahhab ibn Ahmad ibn Ali al-Anshari al-Sya’rani, ''al-Mizan al-Kubra,'' hlm. 110.
| |
|
| |
| [17] Abdurrahman al-Juzairi, ''al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah,'' Juz IV, hlm. 33.
| |
|
| |
| [18] Al-Syairazi, ''al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafii,'' Juz II, hlm. 37.
| |
|
| |
| [19] Al-Syairazi, ''al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafii,'' Juz II, hlm. 40.
| |
|
| |
| [20] Abdul Wahhab ibn Ahmad ibn Ali al-Anshari al-Sya’rani, ''al-Mizan al-Kubra,'' hlm. 111.
| |
|
| |
| [21] Al-Syairazi, ''al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafii,'' Juz II, hlm. 40.
| |
|
| |
| [22] Sayyid Sabiq, ''Fiqh al-Sunnah,''Kairo: Dar al-Tsaqafah al-Islamiyah, Tanpa Tahun, Jilid II, hlm. 22.
| |
|
| |
| [23] Abdurrahman al-Juzairi, ''al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah,'' Juz IV, hlm. 23. Bandingkan dengan Taqiyuddin Abi Bakar ibn Muhammad al-Husaini, ''Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar,'' Juz II, hlm. 50.
| |
|
| |
| [24] Abi Yahya Zakaria al-Anshari, ''Fath al-Wahhab: Syarh Manhaj al-Thullab,'' Beirut: Dar al-Fikr, Juz II, hlmm. 55.
| |
|
| |
| [25] Al-Syairazi, ''al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafii,'' Juz II, hlm. 56. Namun, menurut Imam Abu Hanifah, tidak boleh menjadikan “pengajaran al-Qur’an” sebagai maskawin. Baca Abdul Wahhab ibn Ahmad ibn Ali al-Anshari al-Sya’rani, ''al-Mizan al-Kubra,'' hlm. 116.
| |
|
| |
| [26] Abdul Wahhab ibn Ahmad ibn Ali al-Anshari al-Sya’rani, ''al-Mizan al-Kubra,'' hlm. 116. Ibn Rusyd, ''Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid,'' Juz II, hlm. 14.
| |
|
| |
| [27] Al-Syairazi, ''al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafii,'' Juz II, hlm. 55.
| |
|
| |
| [28] Al-Syairazi, ''al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafii,''Juz II, hlm. 55.
| |
|
| |
| [29] Abdurrahman al-Juzairi, ''al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah,'' Juz IV, hlm.78.
| |
|
| |
| [30] Abdul Wahhab ibn Ahmad ibn Ali al-Anshari al-Sya’rani, ''al-Mizan al-Kubra,'' hlm. 116.
| |
|
| |
| [31] Taqiyuddin Abi Bakar ibn Muhammad al-Husaini, ''Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar,'' Juz II, hlm. 53.
| |
|
| |
| [32] Persetujuan bisa dinyatakan dalam berbagai cara, misalnya dengan tersenyum dengan malu atau tersipu-sipu, tidak menunjukkan keberatan atau diam dalam konteks Arab saat itu. Dalam konteks sekarang di Indonesia, bisa saja diexpresikan dengan, “Saya tidak keberatan menikah dengan A”.
| |
|
| |
| [33] Lihat Miftah Faridl, ''Poligami'', hlm. 53-61 tentang 9 bukti yang menyanggah kebenaran hadis tentang usia pernikahan Aisyah pada usia 6 tahun.
| |
|
| |
| [34] Lihat misalnya Alimoeso, Sudibyo (2012) “Intervensi untuk Mereduksi Tingkat Pernikahan Dini”, ''Media Indonesia'', 26 January.
| |
|
| |
|
| |
| [35] Acah adalah teman salah satu penulis buku ini.
| |
|
| |
| [36] Lani adalah salah seorang narasumber salah satu penulis buku ini saat melakukan penelitian tentang poligami pada tahun 2004.
| |
| [[Kategori:Hukum Keluarga]] | | [[Kategori:Hukum Keluarga]] |