15.259
suntingan
| Baris 2: | Baris 2: | ||
Nyai Sintho’ terlibat secara langsung dalam Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) yang diselenggarakan pada tahun 2017. Ia termasuk salah satu Dewan Pembina KUPI. Sebelumnya Nyai Sintho’ belajar isu gender dalam Islam dari P3M (Pusat Pegembangan Pesantren dan Masyarakat), YKF (Yayasan Kesejahteraan Fatayat) Yogyakarta, [[Rahima]], dan Fatayat dan Muslimat NU. | Nyai Sintho’ terlibat secara langsung dalam Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) yang diselenggarakan pada tahun 2017. Ia termasuk salah satu Dewan Pembina KUPI. Sebelumnya Nyai Sintho’ belajar isu gender dalam Islam dari P3M (Pusat Pegembangan Pesantren dan Masyarakat), YKF (Yayasan Kesejahteraan Fatayat) Yogyakarta, [[Rahima]], dan Fatayat dan Muslimat NU. | ||
== Riwayat Hidup == | == Riwayat Hidup == | ||
Nyai Sintho’ merupakan anak kedua dari sembilan bersaudara dari pasangan KH. Asrori Ahmad (putera dari Kyai Ahmad dan Nyai Aminah Magelang) dan Nyai Hj. Ma’munatul Kholil (putera dari KH. Kholil Harun dan Nyai Masfiatun Rembang). Nyai Sintho’ menikah dengan KH. Ahmad Lazim dan telah dikaruniai lima orang anak, yaitu: Hj. Wafiyatul Muflichah M.Pd, Ahmad Faza (alm.), Ulya Izzati, S.Ud, M.Pd., Ahmad Naja Damanhuri Lc., dan Fathna Saadati Kholiliyah S.S. | Nyai Sintho’ merupakan anak kedua dari sembilan bersaudara dari pasangan KH. Asrori Ahmad (putera dari Kyai Ahmad dan Nyai Aminah Magelang) dan Nyai Hj. Ma’munatul Kholil (putera dari KH. Kholil Harun dan Nyai Masfiatun Rembang). Nyai Sintho’ menikah dengan KH. Ahmad Lazim dan telah dikaruniai lima orang anak, yaitu: Hj. Wafiyatul Muflichah M.Pd, Ahmad Faza (alm.), Ulya Izzati, S.Ud, M.Pd., Ahmad Naja Damanhuri Lc., dan Fathna Saadati Kholiliyah S.S. | ||
| Baris 36: | Baris 34: | ||
Pada tahun 1971 Nyai Sintho’ hadir dan mendengarkan pidato pengajian yang disampaikan oleh Ibu Nyai Elok Faiqoh dari Jember. Nyai Sintho’ duduk di barisan paling depan, supaya bisa mendengarkan dengan jelas setiap kata dan gaya pidato Nyai Elok. Dalam hatinya, Nyai Sintho’ berdoa agar suatu saat ia juga mampu menyampaikan ilmu kepada masyarakat, dan menebar manfaat sebanyak-banyaknya. | Pada tahun 1971 Nyai Sintho’ hadir dan mendengarkan pidato pengajian yang disampaikan oleh Ibu Nyai Elok Faiqoh dari Jember. Nyai Sintho’ duduk di barisan paling depan, supaya bisa mendengarkan dengan jelas setiap kata dan gaya pidato Nyai Elok. Dalam hatinya, Nyai Sintho’ berdoa agar suatu saat ia juga mampu menyampaikan ilmu kepada masyarakat, dan menebar manfaat sebanyak-banyaknya. | ||
== Tokoh dan Keulamaan Perempuan == | == Tokoh dan Keulamaan Perempuan == | ||
Setelah menikah, kegiatan organisasi dan dakwah Nyai Sintho’ tidak pernah berhenti, meski berada di tempat baru. Saat awal menikah, Nyai Sintho’ diminta mengisi pengajian oleh salah seorang [[tokoh]] perempuan di Magelang. Karena kepiawaiannya dalam berdakwah, lama-kelamaan namanya semakin dikenal luas di masyarakat. Jamaah pengajiannya pun beragam, tidak hanya perempuan namun juga laki-laki. Begitu pun dalam hal organisasi, Nyai Sintho’ tidak pernah canggung dalam berorganisasi di mana pun ia berada. Kiprahnya di organisasi itu menjadikan perempuan-perempuan di masyarakatnya bangkit, baik dalam hal pendidikan, ekonomi, sosial dan bidang lainnya. | Setelah menikah, kegiatan organisasi dan dakwah Nyai Sintho’ tidak pernah berhenti, meski berada di tempat baru. Saat awal menikah, Nyai Sintho’ diminta mengisi pengajian oleh salah seorang [[tokoh]] perempuan di Magelang. Karena kepiawaiannya dalam berdakwah, lama-kelamaan namanya semakin dikenal luas di masyarakat. Jamaah pengajiannya pun beragam, tidak hanya perempuan namun juga laki-laki. Begitu pun dalam hal organisasi, Nyai Sintho’ tidak pernah canggung dalam berorganisasi di mana pun ia berada. Kiprahnya di organisasi itu menjadikan perempuan-perempuan di masyarakatnya bangkit, baik dalam hal pendidikan, ekonomi, sosial dan bidang lainnya. | ||
| Baris 56: | Baris 52: | ||
Nyai Sintho’ berkenalan dengan isu gender bermula dari belajar bersama di P3M (Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) dalam program ''fiqhunnisa''. Setelah itu, Nyai Sintho’ semakin intens dilibatkan dalam beberapa acara yang diselenggarakan oleh Rahima dan menjadi bagian dari KUPI dengan terlibat langsung pada April 2017. | Nyai Sintho’ berkenalan dengan isu gender bermula dari belajar bersama di P3M (Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) dalam program ''fiqhunnisa''. Setelah itu, Nyai Sintho’ semakin intens dilibatkan dalam beberapa acara yang diselenggarakan oleh Rahima dan menjadi bagian dari KUPI dengan terlibat langsung pada April 2017. | ||
== Penghargaan dan Prestasi == | == Penghargaan dan Prestasi == | ||
| Baris 64: | Baris 58: | ||
# Lifetime achievement dari PC Fatayat NU Magelang tahun 2019 | # Lifetime achievement dari PC Fatayat NU Magelang tahun 2019 | ||
# Peserta Favorit lokakarya Rahima tahun 2005. | # Peserta Favorit lokakarya Rahima tahun 2005. | ||
== Karya-Karya == | == Karya-Karya == | ||
Nyai Sintho’ telah membuat karya tulis, yaitu: | Nyai Sintho’ telah membuat karya tulis, yaitu: | ||