15.259
suntingan
| Baris 23: | Baris 23: | ||
Ning Ida juga memiliki kajian rutin di luar kota. Di antaranya adalah kajian kitab ''Irsyadul ‘Ibad'' di Madura. Kajian kitab karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibary yang diikuti oleh kelompok perempuan ini telah berjalan selama lima tahun dan masih berlangsung hingga saat ini. Selain di Jawa Timur, Ning Ida memiliki aktivitas kajian di Jawa Barat, tepatnya di kota Bekasi. Kajian rutin khusus perempuan ini mulai berlangsung sejak tahun 2019. Di samping kajian offline, Ning Ida juga menjadi narasumber kajian online dengan menggunakan kitab ''al-Sittin al-Adaliyah'' karya Kyai [[Faqihuddin Abdul Kodir]] dan kitab ''Irsyadul ‘Ibad'' yang diselenggarakan oleh PW Fatayat NU Jawa Timur. Ning Ida juga mengasuh ratusan anak-anak yatim dan menyekolahkan mereka mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. | Ning Ida juga memiliki kajian rutin di luar kota. Di antaranya adalah kajian kitab ''Irsyadul ‘Ibad'' di Madura. Kajian kitab karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibary yang diikuti oleh kelompok perempuan ini telah berjalan selama lima tahun dan masih berlangsung hingga saat ini. Selain di Jawa Timur, Ning Ida memiliki aktivitas kajian di Jawa Barat, tepatnya di kota Bekasi. Kajian rutin khusus perempuan ini mulai berlangsung sejak tahun 2019. Di samping kajian offline, Ning Ida juga menjadi narasumber kajian online dengan menggunakan kitab ''al-Sittin al-Adaliyah'' karya Kyai [[Faqihuddin Abdul Kodir]] dan kitab ''Irsyadul ‘Ibad'' yang diselenggarakan oleh PW Fatayat NU Jawa Timur. Ning Ida juga mengasuh ratusan anak-anak yatim dan menyekolahkan mereka mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. | ||
Ning Ida mendengar tentang KUPI pertama kali pada tahun 2017, setelah pelaksanaan Kongres Pertama di Cirebon. Ia merasa antusias mengikuti dinamika perkembangan KUPI. Ia melihat bahwa di Indonesia kisah mengenai tokoh [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] tidak banyak diceritakan sehingga para [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] seakan tidak berperan secara signifikan bagi kemajuan bangsa. Padahal, apabila menengok sejarah dan realitas di masyarakat, tak terhitung jumlah ulama perempuan yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan dan kemajuan bangsa, khususnya umat Islam. Melihat kondisi Indonesia saat ini, peran ulama perempuan sangat diperlukan, terutama untuk melakukan pembacaan atas teks-teks keagamaan dari perspektif perempuan, untuk melengkapi sekaligus menghindari pembacaan teks-teks keislaman yang masih patriarkis dan bias gender. | Ning Ida mendengar tentang KUPI pertama kali pada tahun 2017, setelah pelaksanaan Kongres Pertama di Cirebon. Ia merasa antusias mengikuti dinamika perkembangan KUPI. Ia melihat bahwa di Indonesia kisah mengenai tokoh [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] tidak banyak diceritakan sehingga para [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] seakan tidak berperan secara signifikan bagi kemajuan bangsa. Padahal, apabila menengok sejarah dan realitas di masyarakat, tak terhitung jumlah [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan dan kemajuan bangsa, khususnya umat Islam. Melihat kondisi Indonesia saat ini, peran ulama perempuan sangat diperlukan, terutama untuk melakukan pembacaan atas teks-teks keagamaan dari perspektif perempuan, untuk melengkapi sekaligus menghindari pembacaan teks-teks keislaman yang masih patriarkis dan bias gender. | ||
Ning Ida kemudian terlibat di dalam kelompok kajian yang dibentuk bersama Fatayat NU dan Women Crisis Center (WCC) di Jombang untuk meneruskan pemikiran-pemikiran KUPI di lingkungannya. Kajian Fatayat NU merupakan kajian rutin keagamaan yang membahas tentang tema-tema perempuan, dari tingkat ranting, cabang, hingga wilayah. Sementara dengan WCC Jombang, Ning Ida membentuk kajian berkala mendiskusikan tema-tema perempuan dan anak. Ning Ida juga mewakili perempuan pesantren bermitra dengan WCC dalam pendampingan psikis korban kekerasan. | Ning Ida kemudian terlibat di dalam kelompok kajian yang dibentuk bersama Fatayat NU dan Women Crisis Center (WCC) di Jombang untuk meneruskan pemikiran-pemikiran KUPI di lingkungannya. Kajian Fatayat NU merupakan kajian rutin keagamaan yang membahas tentang tema-tema perempuan, dari tingkat ranting, cabang, hingga wilayah. Sementara dengan WCC Jombang, Ning Ida membentuk kajian berkala mendiskusikan tema-tema perempuan dan anak. Ning Ida juga mewakili perempuan pesantren bermitra dengan WCC dalam pendampingan psikis korban kekerasan. | ||
| Baris 50: | Baris 50: | ||
{| | |||
'''Penulis: Zahra Amin''' | |'''Penulis''' | ||
|''':''' | |||
'''Editor: Nor Ismah''' | |'''Zahra Amin''' | ||
|- | |||
'''Reviewer: Faqihuddin Abdul Kodir''' | |'''Editor''' | ||
|''':''' | |||
|'''Nor Ismah''' | |||
|- | |||
|'''Reviewer''' | |||
|''':''' | |||
|'''Faqihuddin Abdul Kodir''' | |||
|} | |||
[[Kategori:Tokoh]] | [[Kategori:Tokoh]] | ||