Bashirotul Hidayah: Perbedaan revisi

12 bita ditambahkan ,  19 Agustus 2021 11.57
tidak ada ringkasan suntingan
Baris 7: Baris 7:
Di luar kegiatan akademik kampus, sebagai seorang pengajar di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas Bahrul ‘Ulum (Madrasah tertua di Jawa Timur, tempat studi KH. Abdurrahman Wahid/Gus Dur saat berada di Pondok Tambakberas), Ning Ida banyak mengajarkan tentang potensi dan posisi strategis yang dapat diperankan oleh perempuan. Ia banyak mengenalkan [[tokoh]]-tokoh perempuan inspiratif di dalam Al-Qur’an, seperti Maryam, Asiyah, dan para Istri Nabi, dan para mufasir perempuan, misalnya ‘Aisyah Bintu Syathi’. Ning Ida juga aktif berdakwah di masyarakat terutama dengan [[komunitas]] perempuan yang itu relevan dengan isu-isu atau kajian-kajian KUPI. Ia merasa berkewajiban untuk mengajarkan apa-apa yang telah ia dapatkan dari KUPI kepada keluarga dan lingkungannya.  
Di luar kegiatan akademik kampus, sebagai seorang pengajar di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas Bahrul ‘Ulum (Madrasah tertua di Jawa Timur, tempat studi KH. Abdurrahman Wahid/Gus Dur saat berada di Pondok Tambakberas), Ning Ida banyak mengajarkan tentang potensi dan posisi strategis yang dapat diperankan oleh perempuan. Ia banyak mengenalkan [[tokoh]]-tokoh perempuan inspiratif di dalam Al-Qur’an, seperti Maryam, Asiyah, dan para Istri Nabi, dan para mufasir perempuan, misalnya ‘Aisyah Bintu Syathi’. Ning Ida juga aktif berdakwah di masyarakat terutama dengan [[komunitas]] perempuan yang itu relevan dengan isu-isu atau kajian-kajian KUPI. Ia merasa berkewajiban untuk mengajarkan apa-apa yang telah ia dapatkan dari KUPI kepada keluarga dan lingkungannya.  


=== Riwayat Hidup ===
== Riwayat Hidup ==
Ning Ida lahir di lingkungan pesantren, tepatnya Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Ia menerima pendidikan pertama kali dan terus berlangsung hingga saat ini dari kedua orang tuanya. Lingkungan dan tradisi pesantren memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan jati diri dan gagasan utama pemikirannya dalam menjalankan peran sebagai ''khadimat al-ummat''. Ia menempuh pendidikan formal dasarnya di dua tempat sekaligus, yaitu SDN Tambakrejo dan MI Bahrul Ulum Tambakberas. Selepas pendidikan dasar, ia melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah dan atas di Madrasah Mu’allimin-Mu’allimat Atas Bahrul ‘Ulum. Pendidikan sarjana ia selesaikan di UIN Sunan Ampel Surabaya (saat itu masih bernama IAIN), sementara pendidikan pasca sarjana ia tempuh di UNIPDU Jombang.
Ning Ida lahir di lingkungan pesantren, tepatnya Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Ia menerima pendidikan pertama kali dan terus berlangsung hingga saat ini dari kedua orang tuanya. Lingkungan dan tradisi pesantren memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan jati diri dan gagasan utama pemikirannya dalam menjalankan peran sebagai ''khadimat al-ummat''. Ia menempuh pendidikan formal dasarnya di dua tempat sekaligus, yaitu SDN Tambakrejo dan MI Bahrul Ulum Tambakberas. Selepas pendidikan dasar, ia melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah dan atas di Madrasah Mu’allimin-Mu’allimat Atas Bahrul ‘Ulum. Pendidikan sarjana ia selesaikan di UIN Sunan Ampel Surabaya (saat itu masih bernama IAIN), sementara pendidikan pasca sarjana ia tempuh di UNIPDU Jombang.


Selain pendidikan formal, ia juga menempuh pendidikan non-formal di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah, di antaranya Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Pondok Pesantren Al-Quran Maunah, Sari Bandar Kidul, Kediri, Pondok pesantren Al-Quran, Robayan, Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah, Pondok Pesantren Salafiyah, Pethuk, Semen, Kediri, dan Pondok Pesantren Salafiyah Bustanul Arifin, Papar, Purwoasri, Kediri.  
Selain pendidikan formal, ia juga menempuh pendidikan non-formal di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah, di antaranya Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Pondok Pesantren Al-Quran Maunah, Sari Bandar Kidul, Kediri, Pondok pesantren Al-Quran, Robayan, Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah, Pondok Pesantren Salafiyah, Pethuk, Semen, Kediri, dan Pondok Pesantren Salafiyah Bustanul Arifin, Papar, Purwoasri, Kediri.  


=== Tokoh Dan Keulamaan Perempuan ===
== Tokoh Dan Keulamaan Perempuan ==
Di antara kegiatan kemasyarakatan yang Ning Ida jalankan adalah Kajian Rutin Fikih Perempuan setiap Selasa Pahing. Kajian ini secara khusus diikuti oleh para perempuan di sekitar lingkungan pesantren di Tambakberas Jombang. Materi kajian berisi tentang persoalan fikih. Pola kajian dilakukan dengan menggunakan tanya jawab. Persoalan fikih perempuan yang bersifat keseharian dan kekinian diajukan oleh para peserta kajian. Persoalan yang masuk kemudian dicarikan jawaban berdasar pada khazanah kitab kuning dilengkapi dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an maupun Hadits. Di kota yang sama, setiap hari Ning Ida juga melakukan kajian kitab ''Mukasyafatul Qulub'' karya Hujjatul Islam, Abu Hamid Al-Ghazali. Kajian ini diikuti juga oleh para perempuan di sekitar pesantren. Berbeda dengan kajian fikih perempuan, dalam kajian ini fokus yang dibahas adalah persoalan akhlak.
Di antara kegiatan kemasyarakatan yang Ning Ida jalankan adalah Kajian Rutin Fikih Perempuan setiap Selasa Pahing. Kajian ini secara khusus diikuti oleh para perempuan di sekitar lingkungan pesantren di Tambakberas Jombang. Materi kajian berisi tentang persoalan fikih. Pola kajian dilakukan dengan menggunakan tanya jawab. Persoalan fikih perempuan yang bersifat keseharian dan kekinian diajukan oleh para peserta kajian. Persoalan yang masuk kemudian dicarikan jawaban berdasar pada khazanah kitab kuning dilengkapi dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an maupun Hadits. Di kota yang sama, setiap hari Ning Ida juga melakukan kajian kitab ''Mukasyafatul Qulub'' karya Hujjatul Islam, Abu Hamid Al-Ghazali. Kajian ini diikuti juga oleh para perempuan di sekitar pesantren. Berbeda dengan kajian fikih perempuan, dalam kajian ini fokus yang dibahas adalah persoalan akhlak.


Baris 19: Baris 19:
Ning Ida juga memiliki kajian rutin di luar kota. Di antaranya adalah kajian kitab ''Irsyadul ‘Ibad'' di Madura. Kajian kitab karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibary yang diikuti oleh kelompok perempuan ini telah berjalan selama lima tahun dan masih berlangsung hingga saat ini. Selain di Jawa Timur, Ning Ida memiliki aktivitas kajian di Jawa Barat, tepatnya di kota Bekasi. Kajian rutin khusus perempuan ini mulai berlangsung sejak tahun 2019. Di samping kajian offline, Ning Ida juga menjadi narasumber kajian online dengan menggunakan kitab ''al-Sittin al-Adaliyah'' karya Kyai [[Faqihuddin Abdul Kodir]] dan kitab ''Irsyadul ‘Ibad'' yang diselenggarakan oleh PW Fatayat NU Jawa Timur. Ning Ida juga mengasuh ratusan anak-anak yatim dan menyekolahkan mereka mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.
Ning Ida juga memiliki kajian rutin di luar kota. Di antaranya adalah kajian kitab ''Irsyadul ‘Ibad'' di Madura. Kajian kitab karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibary yang diikuti oleh kelompok perempuan ini telah berjalan selama lima tahun dan masih berlangsung hingga saat ini. Selain di Jawa Timur, Ning Ida memiliki aktivitas kajian di Jawa Barat, tepatnya di kota Bekasi. Kajian rutin khusus perempuan ini mulai berlangsung sejak tahun 2019. Di samping kajian offline, Ning Ida juga menjadi narasumber kajian online dengan menggunakan kitab ''al-Sittin al-Adaliyah'' karya Kyai [[Faqihuddin Abdul Kodir]] dan kitab ''Irsyadul ‘Ibad'' yang diselenggarakan oleh PW Fatayat NU Jawa Timur. Ning Ida juga mengasuh ratusan anak-anak yatim dan menyekolahkan mereka mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.


Ning Ida mendengar tentang KUPI pertama kali pada tahun 2017, setelah pelaksanaan Kongres Pertama di Cirebon. Ia merasa antusias mengikuti dinamika perkembangan KUPI. Ia melihat bahwa di Indonesia kisah mengenai tokoh [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] tidak banyak diceritakan sehingga para ulama perempuan seakan tidak berperan secara signifikan bagi kemajuan bangsa. Padahal, apabila menengok sejarah dan realitas di masyarakat, tak terhitung jumlah ulama perempuan yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan dan kemajuan bangsa, khususnya umat Islam. Melihat kondisi Indonesia saat ini, peran ulama perempuan sangat diperlukan, terutama untuk melakukan pembacaan atas teks-teks keagamaan dari perspektif perempuan, untuk melengkapi sekaligus menghindari pembacaan teks-teks keislaman yang masih patriarkis dan bias gender.
Ning Ida mendengar tentang KUPI pertama kali pada tahun 2017, setelah pelaksanaan Kongres Pertama di Cirebon. Ia merasa antusias mengikuti dinamika perkembangan KUPI. Ia melihat bahwa di Indonesia kisah mengenai tokoh [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] tidak banyak diceritakan sehingga para [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] seakan tidak berperan secara signifikan bagi kemajuan bangsa. Padahal, apabila menengok sejarah dan realitas di masyarakat, tak terhitung jumlah ulama perempuan yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan dan kemajuan bangsa, khususnya umat Islam. Melihat kondisi Indonesia saat ini, peran ulama perempuan sangat diperlukan, terutama untuk melakukan pembacaan atas teks-teks keagamaan dari perspektif perempuan, untuk melengkapi sekaligus menghindari pembacaan teks-teks keislaman yang masih patriarkis dan bias gender.


Ning Ida kemudian terlibat di dalam kelompok kajian yang dibentuk bersama Fatayat NU dan Women Crisis Center (WCC) di Jombang untuk meneruskan pemikiran-pemikiran KUPI di lingkungannya. Kajian Fatayat NU merupakan kajian rutin keagamaan yang membahas tentang tema-tema perempuan, dari tingkat ranting, cabang, hingga wilayah. Sementara dengan WCC Jombang, Ning Ida membentuk kajian berkala mendiskusikan tema-tema perempuan dan anak. Ning Ida juga mewakili perempuan pesantren bermitra dengan WCC dalam pendampingan psikis korban kekerasan.
Ning Ida kemudian terlibat di dalam kelompok kajian yang dibentuk bersama Fatayat NU dan Women Crisis Center (WCC) di Jombang untuk meneruskan pemikiran-pemikiran KUPI di lingkungannya. Kajian Fatayat NU merupakan kajian rutin keagamaan yang membahas tentang tema-tema perempuan, dari tingkat ranting, cabang, hingga wilayah. Sementara dengan WCC Jombang, Ning Ida membentuk kajian berkala mendiskusikan tema-tema perempuan dan anak. Ning Ida juga mewakili perempuan pesantren bermitra dengan WCC dalam pendampingan psikis korban kekerasan.
Baris 27: Baris 27:
Selain itu, Ning Ida juga menemukan bahwa peran perempuan di lingkungannya masih dianggap sebagai peran nomor dua, baik di lembaga formal maupun non-formal. Misalnya, di lingkungan kerja Ning Ida masih jarang perempuan yang menempati posisi utama atau nomor satu. Karena kesempatan itu masih sedikit diberikan kepada perempuan, meskipun kapasitas dan kualitas yang dimiliki sama, atau bahkan melebihi. Fenomena ini menjadi tantangan bagi Ning Ida secara pribadi juga anggota KUPI di lingkungannya untuk terus bersama-sama memberikan pemahaman tentang keadilan terhadap perempuan, baik sebagai individu maupun sebagai anggota dalam kehidupan organisasi dan kemasyarakatan.
Selain itu, Ning Ida juga menemukan bahwa peran perempuan di lingkungannya masih dianggap sebagai peran nomor dua, baik di lembaga formal maupun non-formal. Misalnya, di lingkungan kerja Ning Ida masih jarang perempuan yang menempati posisi utama atau nomor satu. Karena kesempatan itu masih sedikit diberikan kepada perempuan, meskipun kapasitas dan kualitas yang dimiliki sama, atau bahkan melebihi. Fenomena ini menjadi tantangan bagi Ning Ida secara pribadi juga anggota KUPI di lingkungannya untuk terus bersama-sama memberikan pemahaman tentang keadilan terhadap perempuan, baik sebagai individu maupun sebagai anggota dalam kehidupan organisasi dan kemasyarakatan.


=== Penghargaan Dan Prestasi ===
== Penghargaan Dan Prestasi ==
Ning Ida memperoleh penghargaan-penghargaan, di antaranya dari perguruan tinggi tempat ia mengabdi, yaitu dinobatkan sebagai Dosen Terbaik dalam Bidang Pengembangan Pemikiran Perempuan (2019) dan Dosen Perempuan Inspiratif (2021).
Ning Ida memperoleh penghargaan-penghargaan, di antaranya dari perguruan tinggi tempat ia mengabdi, yaitu dinobatkan sebagai Dosen Terbaik dalam Bidang Pengembangan Pemikiran Perempuan (2019) dan Dosen Perempuan Inspiratif (2021).


=== Karya-Karya ===
== Karya-Karya ==
Di antara karya akademik yang telah Ning Ida tulis adalah sebagai berikut:
Di antara karya akademik yang telah Ning Ida tulis adalah sebagai berikut: