Masriyah Amva: Srikandi Tangguh Masa Kini: Perbedaan revisi

tidak ada ringkasan suntingan
(←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia] |- |Penulis |: |Editor :...')
 
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia]
|[https://nisa.co.id/masriyah-amva-srikandi-tangguh-masa-kini/ nisa.co.id]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Editor : Triwinarno
|Aulia Normalita
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|23/10/2020 05:15
|
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Belajar dari sang Nyai Masriyah Amva]
|[https://nisa.co.id/masriyah-amva-srikandi-tangguh-masa-kini/ Masriyah Amva: Srikandi Tangguh Masa Kini]
|}PESANTREN menjadi salah satu [[lembaga]] pendidikan, khusus agama Islam. Tidak heran jika satu pesantren terkadang memiliki ratusan hingga ribuan santri yang rela mondok untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.  
|}Perempuan kelahiran Babakan, Ciwaringin, Cirebon pada 13 0ktober 1961 adalah seorang ulama perempuan penulis, penyair, spiritualis dan pimpinan Pondok Pesantren Jambu al-Islamy. Adalah [[Masriyah Amva]] yang melahirkan karya-karya seperti puisi di atas.  


Jika pada umumnya pesantren identik dengan penokohan seorang kiai, beda halnya dengan Pesantren Kebon Jambu yang berada di kawasan kampung santri Desa Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat.
Puisi ''Surat Cinta Untuk Tuhan'' hadir dengan kronologi banyaknya wali santri yang memulangkan anaknya dari pesantren. Seolah-olah, mereka tidak percaya pada kepemimpinan perempuan. Namun dengan berjalannya waktu, Nyai Masriyah memberi teladan dan membuktikan bahwa ia mampu mengelola ribuan santri di Pondok Pesantren Kebon Jambu, Cirebon.


Di pesantren ini justru seorang nyailah yang menjadi pemimpin utama.
Puisi di atas merupakan petikan dari ''Surat Cinta Untuk Tuhan'' karya Masriyah Amva. Penggunaan diksi yang lugas dan jelas tetap memberikan sentuhan khidmat dalam tulisannya. Tulisan yang lebih banyak menghadirkan Tuhan sebagai poros utama dilatarbelakangi oleh kegundahan dan kesedihan yang dialami oleh Masriyah Amva setelah suaminya wafat.


"Dulunya pesantren ini dipimpin oleh suami saya, tetapi beliau wafat. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kepemimpinan pesantren ini," ungkap Nyai [[Masriyah Amva]] pemimpin Pesantren Kebon Jambu.
Baginya, puisi tidak hanya curhatan ketika seseorang dilanda kesedihan, kebimbangan, dan kegelisahan tetapi puisi juga berperan sebagai medium dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Di tengah kesibukannya, dia menyempatkan diri untuk menulis ‘curahan hati’ kepada Tuhan, dan beberapa di antara karyanya sudah diterbitkan dalam bentuk buku.


Keputusan Sang Nyai untuk menjadi pimpinan pesantren bukanlah tanpa alasan. Masih belum siapnya penerus suami untuk memimpin pesantren menjadi dasar utama diambilnya keputusan tersebut.
=== Gagasan dan Prestasi ===
Prestasi-prestasi mulai Masriyah Amva terima. Berkat pengalaman inspiratif tersebut, ia mendapat penghargaan Albiruni Award untuk kategori dakwah melalui seni dan budaya, serta penghargaan SK Trimurti sebagai [[tokoh]] gender dan pluralis. Selain itu, Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) pada tahun 2017 terlaksana di Pondok Pesantren yang ia pimpin.


"Saya ingat waktu awal-awal suami meninggal satu per satu santri pergi meninggalkan pesantren ini. Orangtua mereka datang dan izin untuk memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain," ujarnya kembali.
Kegiatan besar tersebut menjadi salah satu momentum keberhasilan Masriyah Amva dalam memajukan Pesantren Kebon Jambu al-Islamy miliknya. Sebab tidak ada satu catatan di dalam sejarah bahwa ulama perempuan pernah melakukan kongres sebelumnya, baik di Indonesia maupun dunia.


Masa-masa itu menjadi masa yang kelam baginya. Hidup dalam keterpurukan yang akhirnya membuat ia sadar bahwa hanya Sang Mahakuasalah yang dapat menolongnya. Perlahan, tapi pasti Masriyah Amva mampu membawa pesantrennya bangkit dalam keterpurukan. Bahkan kini Pondok Kebon Jambu menjadi salah satu tempat pembelajaran agama favorit.
Meski tidak menyebut “kongres pertama”, KUPI 2017 mendapat julukan sebagai kongres pertama ulama perempuan. Baik di Indonesia maupun dunia yang berhasil terlaksana di Pesantren Kebon Jambu, 2017 silam. Tidak heran, apabila beragam sebutan yang tersemat untuknya menggambarkan semangat, kiprah, dan perjuangan dari seorang Masriyah Amva. . . . .
 
Apa sebenarnya yang menjadi kekuatan Nyai Masriyah Amva memimpin Pesantren Kebon Jambu yang mayoritas santrinya didominasi oleh pria? Lalu bagaimana respons dirinya terhadap anggapan jika seorang wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin?
 
Cerita sang Nyai dirangkum dalam film dokumenter berjudul Pesan dari sang Nyai yang tayang dalam program Melihat Indonesia di Metro TV pada Minggu, 25 Oktober 2020 pukul 10.30 WIB. (RO/H-1)
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]