Yuniyanti Chuzaifah

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Yuniyanti Chuzaifah
Yuniyanti Chuzaifah.jpg
Tempat, Tgl. Lahir04 Juni 1969
Aktivitas Utama
  • Menulis dan berbagi ilmu untuk isu HAM perempuan
  • Menjadi gender konsultan untuk kesetaraan Gender dan Inklusi sosial
Karya Utama
  • Menulis isu-isu gender dan gerakan perempuan, migrasi, konflik dan perdamaian. Antara lain, kontributor Encyclopedia Women and Islamic Culture, Brill the Netherlands, Muslim Women and the Challenge of Islamic Extremism, diterbitlan Sister in Islam Malaysia.
  • Menulis buku Apakah Islam Agama untuk Perempuan?

Yuniyanti Chuzaifah lahir di Wonogiri. Setelah purna bakti dari posisi sebagai Ketua Komnas Perempuan, sejak akhir 2019, Yuni tetap giat melakukan kerja-kerja intelektual dan aktivisme, menjadi konsultan, menulis di berbagai media, termasuk Kompas dan The Jakarta Post, hingga menjadi narasumber di sejumlah forum untuk mendiskusikan isu-isu perempuan, keislaman, dan perdamaian. Hingga hari ini, Yuni kerap diminta menjadi board atau tim ahli oleh lingkaran jaringannya.

Yuni mengawal isu-isu Islam yang menurutnya mendesak dan membutuhkan pengawalan serius di dua kaki, yakni di organisasi perempuan hingga di Komnas Perempuan. Ia melihat bagaimana isu human right menjadi salah satu keran keulamaan yang menurutnya penting karena seringkali, ulama tidak mempertimbangkan HAM, sehingga kaum mustadh’afin menjadi semakin terlemahkan oleh sistem dan menderita kelemahan berlapis. Sementara itu isu-isu yang dalam dunia Islam memerlukan pengawalan juga tidak ia lepaskan untuk memastikan proses yang akuntabel dan hasil yang sesuai dengan harapan. Dari sinilah, Yuni melihat betapa KUPI memiliki peran yang demikian penting. Ia mengatakan bahwa KUPI menggenggam rekognisi emas karena menjadi wadah para ulama perempuan sehingga KUPI akan menjadi sebuah altar penting.

Riwayat Hidup

Yuniyanti Chuzaifah mengenyam pendidikan formal pertamanya di MI Muhammadiyah setempat. Ia kemudian nyantri di Pesantren Pabelan, Magelang, untuk jenjang SMP-SMA-nya sebelum berkuliah di ADU: Asian Development University. Setahun kemudian, ia belajar di Jurusan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jenjang Strata 2 dan Strata 3-nya kemudian ia tempuh masing-masing di Leiden dan Amsterdam.

Yuni adalah puteri sulung dengan dua adik laki-laki. Ayahnya merupakan sarjana pendidikan dan seorang pendidik yang sekaligus menjadi ‘penggembala’ ummat, sementara ibunya adalah tamatan SMP dan karenanya berkeinginan agar semua anaknya dapat mengakses pendidikan setinggi-tingginya. Karena itulah sejak kecil, Yuni selalu difasilitasi dan diberi waktu untuk berdiskusi dengan ayahnya. Ia dibebaskan dari kewajiban membantu memasak namun tetap diberi tanggung jawab membersihkan perabot-perabot di rumah serta membuat teh.

“Aku belajar feminisme dari keseharian di keluarga,” ungkap Yuni. Yuni kecil diajarkan bagaimana keterpelajaran itu penting namun yang juga tak kalah penting dari itu adalah etika serta kemandirian ekonomi. “Ayahku tidak masalah soal jilbabku meski dia adalah imam masjid agung. Baginya, tidak menggunakan kerudung tidaklah masalah asal masih dalam batas wajar, tetapi aku dimarahi jika tidak menggunakan bahasa halus sebagai tanda hormat pada siapa pun, terutama kepada orang susah. Aku juga pernah dimarahi ibu saat membelikan bakso dengan uang saku untuk adikku namun tidak melakukan hal yang sama kepada PRT (Pekerja Rumah Tangga) waktu kami masih kecil,” kenangnya.

Karena itu, selain soal feminisme, Yuni juga belajar isu-isu HAM (Hak Asasi Manusia) pertama kali dari keluarganya. Di luar soal PRT di mana sang ayah maupun ibunya selalu menekankan bahwa PRT harus menyantap makanan yang sama seperti dikonsumsi seisi rumah dan duduk di tempat yang sama seperti halnya penghuni rumah yang lain, ia banyak menyaksikan beberapa ‘korban’ HAM di lingkungan sekitarnya. Ia bercerita bagaimana keluarganya sering jadi jujukan atau shelter bagi para saudara yang tidak mampu secara ekonomi karena serial monogami atau poligami yang menyebabkan anak-anak dan perempuan terlantar. Ia menyaksikan sendiri bagaimana dua hal tersebut begitu buruknya berefek kepada perempuan dan anak-anak sebagai korban. Dari situ ia belajar tentang egalitarianisme dan semangat untuk memeluk mereka-mereka yang susah secara ekonomi atau memiliki kebutuhan fisik yang khusus, seperti orang dengan disabilitas maupun mereka yang terabai secara sosial.

Seperti gayung bersambut, Yuni yang besar dan tumbuh di lingkungan keluarga egaliter lalu bertemu pasangan yang pas untuk membangun keluarga egaliternya sendiri. Suaminya adalah seorang free thinker dari Gontor yang sejak awal mengatakan it’s ok jika dalam pernikahannya, mereka tidak dianugerahi keturunan karena persoalan reproduksi. Meski hal tersebut tidak terjadi dan kini keduanya hidup bersama dua orang putera puteri, komitmen pra-pernikahan semacam itu adalah awal yang sangat menjanjikan bagi seorang Yuni. Mereka kemudian bergantian melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri sementara yang lain menjaga rumah dan membesarkan anak-anak. Yuni mendapat giliran pertama kali untuk bersekolah di Leiden, setelah itu ia menemani sang suami belajar ke Amerika.

Mengenang itu, Yuni mengatakan, “Kami perempuan bukan ingin lebih unggul. Justru kami menginginkan pernikahan yang egaliter, pernikahan yang menumbuhkan.” Pernikahan semacam ini, imbuhnya, berharap akan melahirkan anak-anak dengan sensivitas yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya, apa pun profesi yang digeluti. Ia sempat bercerita bahwa saat keduanya masih mahasiswa, anak pertama mereka pernah bergabung di DERU (Disaster Response Unit) untuk bencana dan memilih menyelamatkan binatang karena penyelamatan bencana cenderung human-centris. Sementara yang kedua pernah menjadi volunteer untuk mendukung anak-anak yatim dari komunitas agama yang berbeda.

Tokoh dan Keulamaan Perempuan

Di bidang gerakan perempuan, Yuni sudah malang melintang sejak 30 tahun-an yang lalu. Ia aktif di berbagai gerakan, mulai dari Gerakan Perempuan, Solidaritas Perempuan, lalu Search for Common Ground untuk merintis Women Peace Network, juga mendampingi AMAN, Asian Moslem Network, sebagai executive board. Pernah juga ia menjadi executive board APWLD, sebuah jaringan regional, dan terlibat saat awal Musawa terbentuk. Di antara sekian banyak capaiannya, ia sempat menjadi gender advisor dengan support dari McGill Canada di dua kampus saat transisi dari IAIN ke UIN, yakni Kampus UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta. Yuni mengawal dan mendorong sejauh mana pengarusutamaan gender dalam kurikulum dua kampus baru tersebut.

Selain itu, Yuni juga turut berperan membebaskan Mary Jane dari hukuman mati. Ia berhasil mewawancarai Mary Jane selama tiga hari berturut-turut sehingga suaranya dapat terdengar ke publik. Inilah yang barangkali sering ia sebut sebagai salah satu redefinisi amal jariyah, sebuah upaya sistemik membangun perlindungan, mengamplifikasi temuan agar publik tahu akan perempuan-perempuan yang berada di bawah karpet dan suaranya belum terdengar utuh, hingga menyuarakan persoalan mereka dengan disabilitas, psikososial, dan semacamnya. Langkah serupa tapi tak sama juga dilakukan Yuni untuk perempuan korban konflik melalui usaha formulasi rekomendasi kebijakan level nasional maupun global di PBB  terkait perempuan korban konflik, salah satunya melalui mekanisme CEDAW. Ia tampaknya begitu menghayati semangat redefinisi amal jariyah melalui perangkulan terhadap mustadh’afin.

Pro-kontra politik terhadap sikap dan gerakannya seakan sudah menjadi makanan sehari-hari, seperti penolakan terhadap sikapnya yang menolak kriminalisasi terburu-buru terhadap definisi perzinahan yang potensial menyasar korban kekerasan seksual dalam RKUHP formalisasi Syariah yang ia nilai penuh politisasi, intervensi negara terhadap bagaimana seharusnya perempuan berpakaian, dan berbagai isu strategis lain. Namun demikian, menurutnya, di tengah penolakan tersebut, ia begitu teguh bekerja bersama dengan 15 komisioner dalam Komnas Perempuan yang sama-sama bertarung di publik untuk memenangkan wacana-wacana tersebut. Kesabaran dan kerja keras yang konsisten tersebut menurutnya menemukan titik terang saat Komnas Perempuan bersama jaringan-jaringannya berhasil memenangkan pertarungan di Mahkamah Konstitusi maupun ruang publik lainnya.

Di antara berbagai pengalaman yang menurutnya tak mungkin ia lupakan selama berkarier di gerakan perempuan adalah perjalanan pulang dari menghadiri sebuah moment penting, Kongres Pertama Perempuan China, ketika ia didapuk sebagai salah satu pembicara. Pesawat yang ditumpanginya tersambar petir dan di situlah ia benar-benar merasa in between hidup dan mati. Pengalaman nyaris serupa kembali dialaminya ketika berkunjung ke Asmat bersama salah satu pendeta komisioner Komnas Perempuan ketika mereka harus menyeberang sungai yang berbuaya lalu pada perjalanan pulang, pesawat kembali mengalami turbulensi. Namun demikian, apa yang dijumpainya di Asmat menurutnya lebih mengerikan dari pengalaman-pengalaman itu semua. Nyaris 90% perempuan Asmat yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah korban KDRT dan sudah menjadi pemandangan biasa mendapati jasad-jasad anak-anak Asmat mendarat tak bernyawa setelah meregang nyawa ketika belajar di tanah orang.

Ketika mengkaji Islam dan human rights, Yuni mencermati bahwa progresivitas perempuan Muslim lebih melaju daripada restu normatifnya. NU, misalnya, baru mengeluarkan fatwa soal kebolehan perempuan menjadi pemimipin di ruang publik pada 1997, padahal sejak 1950-an, perempuan NU sudah duduk di parlemen. Yuni menyebut bahwa yang demikian tak ubahnya pelarangan hak perempuan untuk bersuara. Saat ada pertemuan besar Muhammadiyah di Padang, menurutnya, keadaan juga tak jauh berbeda sebab Aisyiyah juga terhambat bersuara di forum tersebut. Untunglah melalui terbitan Suara Aisiyah, mereka menyuarakan pandangan progresif pada era kemerdekaan.

Menurut Yuni, KUPI sebagai wadah para ulama perempuan selain memiliki pengakuan sebagai pemegang otoritas, juga memiliki modalitas yang luar biasa karena para ulama di dalamnya berasal dari berbagai latar belakang dengan keahlian yang juga beragam. Ia menganalogikan dengan Mesir yang pada akhirnya mengharamkan sunnat perempuan karena ada persekutuan keahlian antara para ulama relijius dan ahli sain yang kemudian membuat rekomendasi pelarangan sunnat perempuan. Yuni tampak mencita-citakan KUPI bisa memiliki peran sentral semacam itu.

Di tengah berbagai kelebihan, rekoginisi dan modalitas tersebut, Yuni menyadari adanya tantangan yang dihadapi KUPI. Pertama yang terberat menurutnya adalah bahwa ruang publik saat ini tengah mengalami penjajahan baru tentang pemaknaan agama melalui pemikiran-pemikiran konservatisme radikal. Isu gender, di sisi lain, mulai mengalami penyamaran, pembonsaian, bahkan pengerdilan. Yang sebenarnya dibidik dalam isu gender, menurutnya, adalah relasi kuasa namun belakangan, gender dimaknai sebagai semangat untuk sepenuhnya sama, bukan lagi soal social justice dan kesetaraan. Isu gender juga menurutnya terkalahkan dengan isu anak; perempuan baru dihormati jika ada keterhubungan dengan anak sehingga jika tidak menyentuh isu anak, isu perempuan tidak akan jqdi prioritas.  Masalah lain yang menurutnya mendesak adalah perihal cara beragama yang semakin mengglobal namun di sisi lain justru semakin irasional yang ditandai dengan pemahaman parsial, Islamphobia, serta sensivitas yang tidak pada tempatnya.

Problem lain yang menurutnya tak kalah mendesak untuk dipikirkan adalah elitisme agama yang menikah dengan feudalisme sosial-politik-ekonomi serta perang media. Di sinilah, menurutnya, KUPI perlu mengambil peran dengan wajah baru yang bisa menjadi jembatan dengan dunia non-Muslim serta membangun kritisme beragama dari akarnya, sehingga tokoh agama tidak merasa menjadi sumber kebenaran satu-satunya.

Penghargaan dan Prestasi

Di konteks global, Yuni menorehkan banyak catatan prestasi. Yuni pernah diundang untuk duduk bersama para feminis internasional untuk mendiskusikan bagaimana perempuan Muslim menghadapi radikalisme. Ketika itu, kisaran 2002 atau 2003, isu ini belum banyak disadari sebelum belakangan tampak mengkhawatirkan dengan sederet perempuan Muslim yang ketahuan terpapar radikalisme setelah melakukan aksi-aksi fenomenal bom bunuh diri atau baku hantam senjata. Buah dari pertemuan tersebut adalah karya tulis keroyokan hingga munculnya cikal-bakal Musawa. Musawa kemudian mendorong lahirnya gerakan keadilan gender di negara negara Islam. Tak terhitung pula beberapa forum ilmiah internasional di mana ia didapuk tak hanya sebagai partisipan, tetapi juga sebagai pembicara.

Karya-Karya

Ketertarikan Yuni terhadap isu-isu perempuan sudah tampak dari judul-judul tugas akhir yang ditulisnya. Skripsinya membahas Buruh Perempuan di Indonesia dari Isu Patriarki dan Kapitalisme, master thesis-nya membidik Debates on Women Political Rights in Islam; Politisasi Isu Agama dan Gender di Indonesia, sementara disertasinya membahas PRT migran di Saudi Arabia, tepatnya Migrant Domestic Workers, Gender Relation and Dynamic of Religion.

Selain itu, di luar catatan emas akvitismenya, Yuni adalah seorang penulis dan peneliti. Semasa di Leiden, ia pernah menulis tentang Perception of Virginitiy and Sexuality di kalangan ABG Muslim Indonesia yang ada di Belanda. Tulisan yang kemudian sempat difilmkan oleh seorang produser Belanda pada awal 2000 lalu tersebut membuatnya diprotes Muslim Maroko yang tingal di Belanda. Yuni juga merupakan kontributor dalam Encyclopedy of Women and Islamic Culture, Brill the Netherlands. Selain itu, bersama Amelia Fauzia, ia menulis buku “Apakah Islam Agama untuk Perempuan” sebagai concern keduanya atas Islam di Indonesia serta refleksi atas isu-isu konservatisme yang mulai menggurita dan membanjiri jagad perbukuan dan media pada awal ’90-an.

Daftar Bacaan Lanjutan


Penulis : Masyithah Mardhatillah
Editor : Nor Ismah
Reviewer : Faqihuddin Abdul Kodir