Upaya Tokoh Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Dalam Meneguhkan Ketahanan Keluarga Melalui Pencegahan Pernikahan Anak Perempuan (Studi Fatwa KUPI NO.02/VI/2017 Tentang Pernikahan Anak)

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Penulis: Junnatun Mukhassonah


Abstrak

Penelitian ini mengkaji tentang upaya tokoh Kongres Ulama Perempuan Indonesia dalam meneguhkan ketahanan keluarga melalui pencegahan pernikahan anak. Pernikahan anak merupakan pernikahan yang dilakukan oleh pasangan atau salah satu pasangan yang masih berada pada kategori anak-anak dengan usia di bawah 19 tahun. Pernikahan anak termasuk dalam salah satu bentuk pemaksaan perkawinan yang dilatarbelakangi oleh tradisi atau adat istiadat yang kuat di masyarakat. Pernikahan anak tidak dapat mewujudkan cita-cita Islam yaitu membangun keluarga sakinah, mawadah, wa raḥmah sebab pernikahan anak terbukti mengandung banyak mudarat untuk kedua pihak yang melakukan pernikahan di usia anak.

Melalui jenis penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan sosiologi hukum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan tokoh Kongres Ulama Perempuan Indonesia dalam menetapkan fatwa tentang pernikahan anak dan implikasi pencegahan pernikahan anak tersebut dalam upaya meneguhkan ketahanan keluarga di Indonesia. Penelitianini menggunakan sumber data primerberupa wawancara terhadap tokoh-tokoh ulama perempuan Indonesia, yaitu Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm, Dr. (H.C.) K.H. Husein Muhamamad, Prof. Alimatul Qibtiyah, S.Ag., M.Si., MA. Ph.D., dan Prof. Dr. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M. Hum., M.A.

Berdasarkan hasil analisis menggunakan perspektif ketidakadilan gender, pernikahan anak dapat melatarbelakangi lahirnya ketidakadilan gender berupa stereotipe, subordinasi, marginalisasi, kekerasan, dan beban ganda (double burden) di dalam keluarga dan utamanya berdampak terhadap perempuan. Hadirnya Kongres Ulama Perempuan Indonesia dengan mengeluarkan Fatwa KUPI Nomor 02/VI/2017 tentang Pernikahan Anak merupakan sebuah upaya mencegah terjadinya praktik pernikahan anak dengan memaksimalkan ikhtiar kultural dan struktural dengan bergerak pada ranah kognitif, normatif, dan praksis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila upaya-upaya pencegahan pernikahan anak dapat dilakukan secara masif, serentak, dan berkelanjutan bersama oleh seluruh pihak mulai dari pihak yang sangat dekat dengan masyarakat hingga pihak yang memiliki kewenangan untuk memutuskan kewajiban maka ketahanan keluarga dapat menjadi suatu keniscayaan. Dengan mencegah pernikahan anak maka pernikahan yang terjadi ialah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang telah memiliki kedewasaan sehingga dapat membangun keluarga yang tangguh dan berkualitas seperti cita-cita dalam Islam. Lebih lanjut, keluarga yang berkualitas akan mengimplementasikan Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Permen PPPA) Repbulik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022 tentang Peningkatan Kulaitas Keluarga dalam Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Seperti yang kita pahami bersama bahwa keluarga merupakan unit terkecil dari suatu sistem sosial di masyarakat dan negara, sehingga apabila keluarga dibangun oleh generasi-generasi yang kuat maka akan melahirkan negara yang kuat pula.

Kata Kunci: Pernikahan Anak, KUPI, Ketahanan Keluarga, Gender, Perempuan.


Baca selengkapnya disini...