Tati Krisnawaty

Dari Kupipedia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tati Krisnawaty
Tati Krisnawaty.jpg
Tempat, Tgl. Lahir24 Januari 1960
Aktivitas Utama
  • Anggota dewan, peneliti senior, dan fasilitator di AJAR (Asia Justice and Rights)
Karya Utama
  • Human Right Training Guidance for Rohingya Refugee Youth, (Juni 2021)
  • Rumah Dambaan Buruh Migran Perempuan: Sepuluh Cerita dari dan tentang Rumah Buruh Migran Perempuan Asal Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone, (2008)

Tati Krisnawaty adalah anggota dewan, peneliti senior, dan fasilitator di AJAR (Asia Justice and Rights). Dalam struktur kepanitiaan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Tati masuk dalam Divisi Notulensi dan Publikasi. Ia terlibat dalam proses persiapan, pelaksanaan, dan paska kongres. Di antaranya, ia ikut dalam pertemuan pra kongres untuk mendiskusikan metodologi fatwa KUPI. Pada hari perhelatan KUPI, ia menjadi moderator dalam diskusi paralel bersama Kiai Marzuki Wahid untuk tema “Peran ulama perempuan dalam penyelesaian ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan”.

Riwayat Hidup

Tati Krisnawaty lahir di Karawang pada 24 Januari 1960. Pendidikan dasar dan menengah pertamanya diselesaikan di Karawang. Sedangkan pendidikan menengah atasnya dilalui di SMA Santa Maria, Yogyakarta. Tati menamatkan pendidikan tingginya di Fakultas Psikologi UGM pada tahun 1986. Sekarang Tati tinggal di Bali.

Saat masih remaja, Tati memiliki seorang sahabat perempuan yang cerdas. Sayangnya, sahabatnya itu tak lagi bisa melanjutkan pendidikan karena himpitan ekonomi. Atas paksaan orang tua, sahabatnya itu harus menjadi “gula-gula” (pekerja seks) demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Dari kejadian itu, Tati mulai bertanya-tanya tentang peran orang tua sebagai pelindung. Sebagai remaja, kala itu, Tati hanya bisa marah dan menyesal karena tidak bisa berbuat apa pun untuk sahabatnya.

Satu waktu dalam acara refleksi tahunan sekolahnya di Santa Maria, Tati bertemu dengan Romo YB. Mangunwijaya. Pada pertemuan itu, Romo Mangun bertanya kepada Tati dan teman-temanya, “Apa yang membuat hatimu bergetar?

Tati menjawabnya dengan mengenang sahabat masa kecilnya yang menjadi “gula-gula”. Bagi Tati, sahabatnya itu layaknya pohon yang dibonsai.

Mendengar jawaban Tati, Romo Mangun kembali bertanya, “Apakah kamu sayang dengan temanmu?”

“Sayang banget,” jawab Tati

Kemudian Romo Mangun berkata kepada Tati, “Maka tolonglah anak-anak di bantaran kali sungai Code, mereka adalah anak-anak pekerja seks, membantu mencuci tangan mereka sebelum makan, menemani mereka mengerjakan PR, dan melakukan hal-hal sederhana lainnya. Dengan membantu anak-anak itu, maka kamu akan meringankan pekerjaan dan beban ibu mereka yang menjadi pekerja seks.

Refleksi tersebut membuat Tati semakin dekat dan lebih mengenal kehidupan para perempuan pekerja seks, masyarakat pinggiran, dan kelompok minoritas dengan mengabdikan diri pada isu kemanusiaan.

Profesi Tati saat ini terbilang berbeda jauh dari latar belakang pendidikan yang ditempuh. Saat bertemu dengan teman-teman semasa sekolah, Tati tak canggung untuk berbagi cerita tentang aktivitasnya—yang berbeda dari kebanyakan teman-teman seangkatannya. Tak jarang, gumaman kagum terlontar dari mulut teman-temannya saat mendengarkan apa saja yang telah ia lakukan untuk kemanusiaan.

Sejak pandemi Covid-19 mulai Maret 2020, Tati memutuskan untuk menetap di Tibubeneng, Kuta Utara, Bali, sembari aktif melakukan penguatan-penguatan untuk pengungsi Rohingya (Myanmar).

Tokoh dan Keulamaan Perempuan

Tati memulai pengabdian untuk kerja-kerja kemanusiaan pada tahun 80an dengan menjadi relawan di Kelompok Studi Bantuan Hukum di Yogyakarta. Pada saat itu, Tati sudah mulai bersentuhan dengan isu-isu perempuan dan menangani kasus yang terbilang besar, Dua kasus di antara adalah pertama, Peristiwa Kedung Ombo, yaitu, pembangunan waduk yang menenggelamkan 37 desa, 7 kecamatan di tiga kabupaten, dan sebanyak 5.268 keluarga kehilangan tanah akibat pembangunan waduk raksasa ini. Kedua adalah pendampingan perempuan nelayan. Dua pengalamannya mendampingi kasus yang terkait isu perempuan membawanya semakin mantap untuk melakukan kerja-kerja kemanusiaan.

Pada masa awal bekerja untuk isu perempuan, keluarga Tati, terutama orang tuanya, seringkali khawatir dengan diri Tati. Bukan hanya khawatir karena sering berurusan dengan kasus-kasus berbahaya, tetapi juga khawatir atas status lajangnya. Tati secara perlahan dan sabar memberikan pengertian kepada keluarga. Seiring dengan berjalannya waktu, keluarga Tati bisa memahami pilihan hidup dan perjuangannya.

Bersama dengan Nursyahbani Katjasungkana, Wardah Hafidz, dan beberapa sahabat lainnya, Tati mendirikan Solidaritas Perempuan (SP)—gerakan perempuan yang berperspektif feminis—pada Desember 1990-an. SP berdiri karena keprihatinan melihat otoritarianisme Orde Baru terhadap masyarakat sipil, terutama kepada perempuan desa dan pekerja perempuan. Solidaritas Perempuan Kinasih di Yogyakarta adalah komunitas SP daerah pertama yang didirikan. Tati mengabdi di SP selama 11 tahun. Dalam rentang waktu itu, ia pernah menjabat sebagai sebagai Sekretaris Jenderal 1990-1993, Direktur Eksekutif 1993-1998, dan Anggota Dewan 1998-2001.

Pascakerusahan Mei 1998 pecah, Pemerintah Indonesia membuat Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Pada saat itu, Tati menjabat sebagai Ketua Subkomisi Kelompok Rentan dan Diskriminasi selama delapan tahun (1998-2006). Tati bertanggung jawab untuk memperkuat tanggung jawab negara melindungi hak-hak perempuan pekerja migran Indonesia, dan membangun aliansi nasional dan internasional untuk mempromosikan hak-hak perempuan sebagai hak asasi manusia.

Menurut Tati, Negara berkewajiban untuk hadir dan berdaya dalam persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan melalui Komnas Perempuan, sehingga Tati tertarik aktif di lembaga ini. Pada tahun 2001 sampai 2010, Tati juga terlibat dalam organisasi regional Asia Asia Pacific Forum on Women, Law, and Development (APWLD) yang berkedudukan di Chiang Mai, Thailand. Di APWLD, Tati menjadi penyelenggara satuan tugas perburuhan dan migrasi (2001-2006) yang secara rutin melakukan pelatihan, penelitian, dan advokasi Hak Asasi Manusia kepada pekerja migran perempuan. Ia juga menjadi co-vocal point (2009-2010) untuk program Breaking Out Marginalisasi APWLD yang tugasnya melakukan pelatihan, penelitian, dan advokasi hak asasi manusia pada petani perempuan, pekerja migran, dan masyarakat adat.

Sejak 2006 sampai sekarang, Tati bekerja secara mandiri untuk organisasi nasional dan internasional, antara lain untuk American Friends Service Committee (AFSC) kantor Regional Asia. Selain pada isu perempuan, Tati juga konsen pada isu lingkungan. Pada 2007-2013, Tati bersama sang suami, Paul, mendirikan Kebun dan Sekolah Organik Kaliaget di Karawang, Jawa Barat. Para petani dan anak-anak di sekitar dusun diajak untuk bersama-sama belajar pertanian organik, juga belajar tarian dan alat musik tradisional. Dari sekolah ini juga Tati kemudian mengadaptasi kurikulum FAO (Food and Agriculture Organization) untuk anak-anak dan SMA di Jawa Barat.

Saat ini Tati aktif sebagai anggota dewan, peneliti senior, dan fasilitator di Asia Justice and Rights (AJAR)—sebuah LSM HAM regional yang berbasis di Jakarta. Tati bersama teman-temannya di AJAR mencoba menerapkan penguatan berbentuk pelatihan yang disesuaikan dengan kondisi para pengungsi. Misalnya, menggambarkan kondisi mereka melalui berbagai media, seperti Batu Bunga dan photo story—menggambar sungai yang mereka lalui atau bercerita melalui foto, sehingga bisa dianalisis apa yang paling mendesak dan apa yang bisa dilakukan dalam waktu dekat. Pengetahuan yang diberikan kepada pengungsi bukan satu arah, tapi pengungsi diajak untuk bersama-sama menggali persoalan HAM, melakukan penelitian, dan pemulihan sebagai tiga roda yang berputar bersama untuk tujuan perbaikan dan pemulihan dari hak asasi mereka yang terlanggar.

Meski menduduki posisi anggota dewan di AJAR, Tati tetap terjun langsung melakukan pendampingan ke lapangan. Selain karena keluangan waktu yang ia miliki saat ini, ia merasa itu memang panggilan jiwa dan bisa berbuat lebih banyak bagi mereka yang membutuhkan adalah kebahagiaan tersendiri bagi Tati.

Tati juga tidak bosan menjadi mentor bagi generasi muda untuk mengembangkan pendekatan penelitian yang memberdayakan subjek penelitian. Pelatihan berperspektif HAM untuk melihat situasi yang sedang terjadi, melihat pola relasi kuasa—memastikan apakah berada dalam posisi yang tidak setara atau tidak, sehingga bisa digunakan untuk memulihkan dari cedera pola relasi yang tidak imbang, baik negara dengan warga, pemegang kekuasaan militer, penegak hukum, dan dalam rumah tangga.

Dalam seluruh kerja-kerja kemanusiaannya itu, Tati selalu menggunakan perspektif gender dalam melihat persoalan-persoalan yang ada. Sebab, perempuan bisa menjadi korban, bisa menjadi pelaku—karena kesadaran palsu hingga melanggengkan posisi tertindas itu, dan bisa menjadi perubah keadaan.

Ketika masih bekerja di Komnas Perempuan, Tati bersama dengan koleganya di Komnas Perempuan dan aktivis organisasi perempuan, seperti Fatayat, Aisyiyah, Fahmina, PEKKA, Rahima, mendirikan ALIMAT. Pada tahun 2009, Tati menjadi Koordinator Advokasi Alimat. Sejak di ALIMAT, Tati merasa semakin dekat dengan isu perempuan dan Islam. Ketika rencana penyelenggaraan KUPI digulirkan, ia juga terlibat aktif dalam proses persiapan dan penyelenggaraannya.

Bagi Tati, KUPI adalah motor penggerak dan cahaya. KUPI adalah muara dari pemikiran-pemikiran keagamaan yang membebaskan manusia dari kegelapan. Dan, Tati mengejawantahkan keislaman dan keulamaannya dari caranya menghormati manusia dan alam.

“Ketika saya menghargai orang lain, menjaga lingkungan, tidak merusak alam, membantu orang lain bangkit dari ketertindasannya itu adalah bentuk keislaman dan keulamaan saya. Agama itu inheren, mencari yang baik dari filsafat, budaya, dan sebagainya. Saya tidak memiliki nilai apa-apa dan saya hanyalah penggembira untuk perjalanan isu perempuan ini.”

Berpuluh-puluh tahun bekerja pada isu perempuan, kebanggaan terbesar bagi Tati adalah ketika menyaksikan organisasi-organisasi perempuan memiliki regenerasi pemimpin secara berkala. Bagi Tati, proses demokrasi dalam organisasi harus memberikan ruang kepada generasi muda untuk terus berproses. Dan organisasi yang sehat dan baik, bagi Tati, adalah organisasi yang tidak menghasilkan kultus kepada satu orang dan tidak stagnan dalam kepemimpinan. Tati berharap semakin banyak ruang yang memberikan kesempatan bagi generasi muda sehingga gerakan perempuan menjadi tanah subur, bukan ruang sempit yang dimonopoli oleh pikiran-pikiran lama.

Penghargaan atau Prestasi

Tati secara aktif terlibat dan berkontribusi dalam merumuskan kebijakan, seperti UU PKDRT. Kerja-kerja kolektif yang menghasilkan kebijakan positif, menurut Tati, bisa terus dilanjutkan oleh para aktivis dan feminis muda.

Karya-Karya

  1. Rumah Dambaan Buruh Migran Perempuan: Sepuluh Cerita dari dan tentang Rumah Buruh Migran Perempuan Asal Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone, (2008).
  2. Bimbingan Pelatihan Hak Asasi Manusia untuk Pemuda Pengungsi Rohingya (Juni 2021)
  3. Modul Pengorganisasian Komunitas dalam Komunitas Desa (Indonesian Development of Human Resources in Rural Asia, November 2019)
  4. Modul rangkaian TOM GJ (Pelatihan Motivator Keadilan Gender); (Mission 21 Basel Switzerland, kantor regional Indonesia Malaysia, 2015, 2016, 2017, 2018)
  5. Human Right Training Guidance for Rohingya Refugee Youth, (Juni 2021)
  6. Module on Community Organizing in the Village Communities, (Indonesian Development of Human Resources in Rural Asia, November 2019).

Bacaan Lanjutan

  1. https://asia-ajar.org/indonesia/?lang=id
  2. http://www.solidaritasperempuan.org/
  3. https://www.komnasperempuan.go.id/
  4. http://alimatindonesia.blogspot.com/2010/03/tentang-alimat.html



Penulis : Anis F. Fuadah
Editor : Nor Ismah
Reviewer : Faqihuddin Abdul Kodir