Suplemen Swara Rahima Edisi 53; Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak

Dari Kupipedia

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Nama Suplemen : Suplemen Swara Rahima
Penulis : Cecep Jaya Karama dan Ernawati Siti Syaja’ah
Editor : AD. Kusumaningtyas
Seri : Edisi 53, Juni 2018
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 53; Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak
Suplemen Swara Rahima Edisi 53.png
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 53
SeriEdisi 53, Juni 2018
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Ungkapan rasa syukur alhamdulillah, tak lupa kami haturkan ke hadirat Ilahi Rabbi, atas segala nikmat dan karunia yang dilimpahkannya pada kita semua. Mudah-mudahan, rasa syukur itu senantiasa menjadi penyemangat kita dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Betapa “nikmat sehat” sering kali kita lupakan, padahal kesehatan itu, baik yang berupa fisik, mental, dan sosial senantiasa membuat kita merasa kuat menjalani yang tugas yang berat sekalipun, dengan dukungan orang-orang tercinta. Semoga kesadaran untuk selalu bersyukur tadi akan semakin mendekatkan diri kita pada Sang Pencipta. Sebagaimana sebuah doa Rasulullah “Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika, wa syukrika, wa husni ‘ibaadatika.” (Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu) dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad, mudah-mudahan rasa syukur itu akan meningkatkan kualitas ibadah kita.

Shalawat dan salam, semoga terlimpah pada Rasulullah Muhammad saw., sang uswatun hasanah yang mengemban tugas mulia untuk menyempurnakan akhlak manusia. Melalui sirah beliau ketika membiarkan dirinya bersujud lama-lama saat kedua cucu tercintanya Hasan dan Husein menaiki punggung beliau saat sedang shalat, kita bisa belajar banyak tentang bagaimana kasihnya beliau kepada anak-anak. Salah satu hadis beliau yang juga sangat termasyhur “Ajarilah anak-anakmu berkuda, berenang, dan memanah”, mengajak kita untuk memberikan putra-putri kita ketrampilan agar mereka bisa menghadapi segala tantangan hidup yang kelak di kemudian hari mereka hadapi. Bagi orang tua zaman “now”, juga termasuk belajar mengikuti perkembangan teknologi, sehingga kita selalu bisa berinteraksi dengan putra-putri kita dimana saja, selain mengetahui tumbuh kembang mereka dan mengawasi pola pertemanan dan interaksi mereka terutama di dunia maya, agar mereka dijauhkan dari berbagai bentuk penistaan dan perundungan.

Pembaca yang budiman,

Ada sesuatu yang istimewa dari sajian Suplemen Swara Rahima edisi ke-53 kali ini. Kebetulan tema yang diangkat pada edisi ini adalah Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak (Parenting). Dan tulisan di suplemen ini berjudul “Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak ((Ikhtiar Mendidik “Anak Zaman Now” yang Shaleh dalam Perspektif Islam)”, hampir senada dengan tema utama Swara Rahima kali ini. Dan menariknya lagi, karena sajian tulisan ini merupakan hasil kerjasama pasangan suami istri Cecep Jaya Karama dan Ernawati Siti Syaja’ah, dua mitra Rahima dari produk serial program pendidikan yang berbeda. Kang Cecep, demikian panggilan akrabnya adalah seorang Ajengan (istilah untuk Kyai dalam bahasa Sunda) muda putra dari KH. Nuh Ad-Dawami Pimpinan Pesantren Nurul Huda, Cisurupan, Garut. Ia pernah mengikuti program Penguatan Tokoh Agama Jawa Barat yang diselenggarakan oleh Rahima. Sementara istrinya, Teh Erna adalah peserta program Pendidikan Ulama Perempuan (PUP) Jawa Barat. Kini mereka bersama-sama mengasuh, mendidik, dan mengajar para santri di pesantren Nurul Huda yang didirikan oleh sang ayah.

Awalnya, Swara Rahima menghubungi Kang Cecep untuk meminta kesediaan beliau untuk menulis di rubrik ini. Biasanya rubrik suplemen, meskipun juga berisi dengan deskripsi masalah sosial juga berisi bagaimana perspektif Islam (dengan pendekatan yang adil dan setara gender tentunya) menjawab beragam persoalan tersebut. Pucuk dicinta ulama tiba, saat Kang Cecep menghubungi Redaksi untuk menginformasikan bahwa ia telah mengirimkan tulisannya, ia menambahkan keterangan, “Mbak, tulisan ini saya tulis berdua dengan Erna, istri saya”. Tentu kami sangat berterimakasih atas upayanya ini. Terlebih, saat melihat bahwa isi tulisan ini tidak melulu tumpukan teks keagamaan yang bersumberkan Alquran dan Hadis, namun juga pengalaman pasangan suami istri ini bekerjasama dalam mengasuh dan mendidik ketiga putera mereka Muqtav Azka Ibadillah (11 Th), Mumtaz Azkiya Maulidia (7Th) dan Syauqina Azna Queena (18 bulan). Tentunya, refleksi pengalaman mereka ini sangat penting, karena pembelajaran mengenai bagaimana mereka menerapkan kesadaran dan pengetahuan tentang bagaimana benar-benar memainkan peran sebagai orang tua (parents) yang berusaha mendidik anak-anak mereka dengan teladan, kasih sayang, kerjasama, dan penghormatan satu sama lain serta menghindari praktik diskriminasi kekerasan pasti sangat menginspirasi kita semua.

Pembaca yang dirahmati Allah,

Dalam tulisannya di rubrik suplemen ini, Kang Cecep dan Teh Erna juga benar-benar menggali rujukan baik yang ada dalam Alquran dan Hadis tentang bagaimana peran ayah dalam pengasuhan. Mencontohkan kisah-kisah para Nabi seperti Nabi Daud yang merupakan ayah Nabi Sulaiman, Nabi Ya’qub yang merupakan ayah Nabi Yusuf, Nabi Ibrahim yang merupakan ayah dari Ismail, menunjukkan seberapa pentingnya peran ayah sebagai figur “pendidik” bagi putra-putrinya. Kisah legendaris Luqman al-Hakim yang diabadikan dalam Alquran beserta nilai-nilai yang ditanamkannya, serta beberapa hadis yang mendorong agar tidak mendiskriminasikan perempuan dan memberikan kesempatan pada anak perempuan untuk belajar bersama dalam majelis-majelis Ilmu pengetahuan, belajar 7 bacaan Alquran (Qira’ah Sab’ah), bahkan menjadi Ahli Hadis (Muhadditsat) bukanlah suatu kemustahilan.

Selain itu, pengalaman mereka mendidik putra-putri mereka melalui bermain bersama, membiasakan diskusi-diskusi sehat dan terbuka dalam keluarga, menghadapi pertanyaan-pertanyaan kritis anak terutama terkait dengan masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas yang mulai mereka ingin tahu jawabannya saat pubertas, membangun kebersamaan dengan saling memberikan pujian pada pasangan dan merefleksikan diri secara lebih mendalam, menunjukkan bahwa parenting bukanlah sekedar teori. Parenting menyadarkan kita bahwa keberadaan parents (kedua) orang tua itu sama-sama ‘penting’. Oleh karenanya, tugas mengasuh dan mendidik anak ini tak mungkin hanya dibebankan pada satu pihak.

Pembaca yang mulia,

Banyak gagasan-gagasan bernas dan rujukan tegas yang bisa Anda peroleh dari tulisan ini. Dengan membacanya, membuat kita bisa berefleksi tentang pendidikan yang kita terapkan pada putra-putri kita dalam keluarga. Benarkah telah sesuai dengan pesan-pesan moral yang telah diperkenalkan oleh Islam melalui Alquran dan teladan Nabi? Sudahkah kita konsisten menjalankan peran “keorangtuaan” kita? Tak perlu dijawab. Cukup direfleksikan dengan jujur, dan semua menjadi bahan agar kita bisa memperbaiki diri.

Akhirnya, kami ucapkan Iqra’! Selamat membaca! Semoga Anda menikmatinya dan mendapatkan manfaat dari sajian suplemen kami di edisi ke-53 ini.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Redaksi