Suplemen Swara Rahima Edisi 33; Konsep Qiwamah Perempuan dalam Islam

Dari Kupipedia

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Nama Suplemen : Suplemen Swara Rahima
Penulis : Noor Rohman
Editor : -
Seri : Edisi 32
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 33; Konsep Qiwamah Perempuan dalam Islam
NO PHOTO.jpg
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 33
SeriEdisi 33
PenerbitRahima
Download Suplemen

Hingga kini, perbedaan laki-laki dan perempuan masih menyimpan beberapa masalah terkait peran sosial yang diemban dalam masyarakat. Mudah dijumpai bagaimana realitas kehidupan sebagian besar kaum perempuan yang masih terpinggirkan dalam dunia sosialnya. Perempuan masih sering dipandang sebagai makhluk kelas dua (the second class). Beragam stigma peyoratif yang dialamatkan pada mereka akhirnya berdampak pada pembatasan hak-hak untuk menempati peran yang selama ini kebetulan didominasi laki-laki dan diklaim sebagai domain laki-laki. Tak hanya dalam ranah publik, praktik peminggiran peran perempuan pun terjadi dalam ranah domestik, misalnya asusmsi bahwa yang berhak menjadi kepala keluarga adalah laki-laki.

Menurut para pengkaji isu perempuan, posisi-posisi perempuan demikian itu selain karena faktor ideologi dan budaya yang memihak laki-laki, juga karena adanya justifikasi oleh para ahli agama. Para agamawan yang menjadi pewaris Nabi ini justru melahirkan produk pemahaman atas teks-teks keagamaan yang bias gender dan diskriminatif terhadap perempuan.

Sepanjang sejarah perjalanan Islam telah lahir beragam karya tafsir yang ditulis oleh para ulama dalam rangka memberi penjelasan terhadap Al-qur’an. Namun dalam mainstream kitab tafsir yang ada menunjukkan belum adanya sensitifitas terhadap kepentingan perempuan. Sebagian besar karya tafsir itu justru mengandung opini yang melihat perbedaan kelamin sebagai cara pandang terhadap ayat-ayat Al-qur’an. Tak heran jika kemudian terjadi diskriminasi gender dalam berbagai literatur tafsir yang kini diterima dan dijadikan pegangan umat Islam. Oleh karena itu, untuk melakukan kajian ulang sangat dibutuhkan pendekatan pemahaman yang memiliki perspektif jender. Pengkajian tentang wacana gender dalam literatur tafsir tersebut merupakan upaya meninjau kembali penafsiran ulama terhadap relasi perempuan dan laki-laki yang tidak seimbang. Karena hal itu tidak sejalan dengan misi utamanya yang mengedepankan spirit kesetaraan dan keadilan bagi setiap insan. Upaya ini harus ditempuh sebagai salah satu solusi untuk meminimalisir stigma buruk bagi perempuan. Ada beberapa asumsi teologis yang menyebabkan lahirnya suatu pemahaman keagamaan yang mensubordinasi perempuan serta memarginalkan perannya. Sebagaimana pendapat yang dikemukakan Riffat Hassan, ada tiga asumsi teologis yang dikenal dalam Yahudi, Kristen, dan Islam yang menyebabkan superioritas laki-laki atas perempuan. Pertama, makhluk utama Tuhan adalah laki-laki, bukan perempuan, karena perempuan diyakini tercipta dari tulang rusuk adam, sehingga secara ontologis perempuan adalah makhluk derivatif dan nomor dua. Kedua, perempuan adalah penyebab kejatuhan laki-laki dari surga. Ketiga, perempuan tidak hanya diciptakan dari laki-laki tapi juga untuk laki-laki. Ironinya, ketiga asusmsi teologis ini kemudian dimapankan dalam berbagai karya tafsir yang kemudian menjadi basis legitimasi peminggiran

peran perempuan.

Selain itu, faktor pendukung yang cukup berpengaruh dalam melahirkan wacana agama yang bias adalah fakta bahwa perumusan ajaran agama sejak awal didominasi oleh bangsa Arab, sebuah bangsa yang memiliki pra asumsi bias dalam memandang perempuan. Hingga kini wacana Agama masih berkiblat ke negeri Arab, sehingga tidak hanya relasi yang tidak imbang antara laki-laki dan perempuan yang mereka tanamkan dalam kesadaran masyarakat Muslim di seluruh dunia, tetapi juga relasi tidak seimbang antara Muslim dan non Muslim berdasarkan pengalaman pahit yang mereka alami hingga kini di tanah Arab.