Majalah Swara Rahima Edisi 05; Meniti Jejak-Jejak Seksualitas Perempuan dalam Tradisi Islam

Dari Kupipedia

Informasi Majalah:

Sumber : Swara Rahima
Nama Majalah : Majalah Swara Rahima
Tema : Meniti Jejak-Jejak Seksualitas Perempuan dalam Tradisi Islam
Seri : Nomor 05 Tahun II, Juli 2002
Penerbit : Rahima
Link Download : Download

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Majalah Swara Rahima Edisi 05; Meniti Jejak-Jejak Seksualitas Perempuan dalam Tradisi Islam
Majalah Swara Rahima Edisi 05.png
JudulMajalah Swara Rahima Edisi 05
SeriNomor 05 Tahun II, Juli 2002
PenerbitRahima
Download Majalah

Pembaca yang budiman,

Salam jumpa. Harapan kami semoga anda sekalian selalu berada dalam kondisi sehat wal afiat. Amin. Swara Rahima kembali hadir dengani mengangkat tema yang masih terbilang “asing” dan kontroversial, yakni masalah seksualitas, khususnya seksualitas perempuan. Bukan kebetulan kalau tema ini yang dipilih sebagai fokus Swara Rahima edisi ini. Sejak era reformasi, masalah seksualitas menjadi isu menonjol. Hal ini dengan mudah dapat diamati pada beberapa fenomena yang mengemuka di hadapan publik. Mulai dari kebebasan pers yang telah dimanfaatkan oleh beberapa kalangan untuk membuat media yang membombardir sensualitas perempuan (dan menjurus ke pornografi) hingga kecenderungan beberapa kelompok Islam untuk main hakim sendiri melalui tindak penyerangan dan atau pembakaran lokalisasi pelacuran, pangkas paksa rambut perempuan yang tidak berjilbab, perobekan pakaian perempuan yang dianggap seksi, “parade” penzina dan lain-lain.

Pembaca yang kami muliakan,

Pentingnya mengungkap masalah seksualitas menurut para ahli karena seksualitas bukan hanya merupakan identitas yang mampu mendefinisikan kita secara pribadi, sosial bahkan moral, tetapi juga karena ia seringkali disikapi secara tidak proporsional. Sikap sebagian masyarakat yang demikian emosional terhadap masalah pornografi dan berbagai bentuk “kemaksiatan” lainnya merupakan merupakan bukti betapa tidak proporsionalnya melihat masalah ini. Inilah yang disayangkan Julia I Suryakusuma, seorang intelektual yang aktif menggalang pembelaan terhadap hak-hak perempuan. Mengerahkan murka dan amarah pada masalah pornografi dan kemaksiatan sama ibarat menendang rambu-rambu lalu lintas di saat jalanan macet. Tingkat efektivitasnyapun, kata Julia, sama dengan memerangi hama wereng dengan memberi pengumuman bahwa hama wereng adalah terlarang.

Urgensi lain masalah seksualitas juga terletak pada keterkaitannya dengan perikehidupan “berbangsa dan bernegara”. Dalam kenyataan keseharian, kita bisa merasakan bahwa seksualitas bukan hanya kegiatan biologis-fisik semata tetapi selalu merupakan bentuk interaksi sosial yang bahkan bisa menjadi cermin tidak cuma nilai-nilai sosial di masyarakat, tapi juga hubungan masyarakat dan negara. Kasus Orde Baru dengan jelas menunjukkan betapa negara melakukan pengaturan sedemikian rupa terhadap masalah ini, mulai dari UU Perkawinan, PP No. 10 tentang regulasi perkawinan bagi pegawai negeri, sampai pada pemaksaan penggunaan alat-alat kontrasepsi melalui program KB.

Pembaca yang dirahmati Allah,

Melalui kesempatan ini dengan semangat tholabul ‘ilm Swara Rahima mengajak anda untuk belajar bersama tentang masalah seksualitas, khususnya seksualitas perempuan. Alasannya jelas: Karena kaum perempuanlah yang biasanya jadi korban dari berbagai pandangan negatif terhadap masalah ini. Dan ironisnya masyarakat telah terlalu terbiasa untuk mempersalahkan para korban tersebut, bukannya khusyuk mencari akar masalah yang sebenarnya. Kami berharap, dengan membicarakan masalah yang dianggap tabu dan sensitif ini, kita bisa belajar untuk memahami sesuatu secara lebih memadai sehinggaInsya Allahkita mampu lebih dewasa dalam menyikapi masalah ini.

Selamat membaca. Kami selalu menunggu respon anda.

Redaksi